oleh

Nama Masjid Raya Banda Aceh Dirubah jadi Masjid Raya Baiturrahman

Islam dan Masjid Bersejarah di Pulau Sumatera (3)

Masjid Raya Baiturrahman, Aceh, kini tampil semakin cantik dengan wajah baru. Di balik keindahan itu, rumah ibadah kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini menyimpan segudang cerita. Di sana pulalah Jenderal Koehler, pemimpin pasukan Belanda, tewas tertembak pejuang Aceh. Berikut laporannya.

Dirangkum Oleh Solihin

Bangunan berdiri megah bercat putih itu berdiri terdapat di jantung Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh adalah Masjid Raya Baiturrahman. Di sisi utara dan selatan masjid ini dibangun payung bergaya Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Lantainya terbuat dari marmer yang dipesan khusus dari Italia. Pembangunan lanskap dan infrastruktur masjid terindah di Indonesia itu memakan waktu sekitar dua tahun.

Setelah direnovasi masjid ini diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada pertengahan Mei 2017, Masjid Baiturrahman semakin dilirik wisatawan. Masjid ini, selain sebagai tempat ibadah, menjadi destinasi wisata heritage Aceh. Berbagai pembenahan dan perbaikan terus dilakukan untuk memperkuat fungsi dan eksistensinya sebagai ikon kebanggaan masyarakat Tanah Rencong.

Dibangun pada 1022 H/1612 M oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Masjid Baiturrahman sudah beberapa kali direnovasi. Perluasan dan penambahan kubah dilakukan. Ketika Belanda menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, para pejuang Tanah Rencong menjadikan masjid sebagai markas dan benteng pertahanan. Masjid itu dijadikan tempat untuk mengatur strategi dan taktik perang. Para pahlawan, seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien, mengambil andil dalam mempertahankan keberadaan Masjid Raya Baiturrahman.

Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Johan Harmen Rudolf Koehler mendarat di pantai Aceh pada 5 April 1873. Ia membawa 3.198 tentara dan 168 perwira. Peperangan pertama meletus. Pasukan penjajah awalnya berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Pejuang Aceh tidak tinggal diam. Mereka membuat serangan balasan sehingga menyebabkan Jenderal Koehler tewas setelah tertembus peluru di dada.

Saat agresi tentara Belanda kedua pada 10 April bulan Safar 1290H/April 1873 M, yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten, Masjid Baiturrahman habis dibakar. Masyarakat Serambi Mekah marah besar ketika itu. Cut Nyak Dhien, yang memimpin pasukan, membakar semangat jihad para pejuang. Perang kembali meletus.

Berselang empat tahun kemudian, Belanda kembali membangun masjid. Pembangunan tahap kedua ini dilakukan oleh pemerintah Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Kadhi Malikul Adil pada 9 Oktober 1879. Saat itu, gubernur sipil dan militer dijabat oleh Jenderal K. Van Der Heijden. (Bersambung)

Rekomendasi Berita