oleh

Muratara Rawan Tindak Kriminal

LINGGAU POS ONLINE, RUPIT – Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dinilai rawan terjadi tindak kriminal. Hal ini dilatarbelakangi rilis kasus yang dijabarkan Polres Musi Rawas tentang ungkap kasus begal yang terjadi lima tahun terakhir, Rabu (15/11).

Dari data tersebut terungkap, mulai 2013-2017, ada 111 kali kasus begal terjadi. Mulai tahun 2013 terjadi 25 kasus, tahun 2014 30 kasus, tahun 2015 14 kasus, tahun 2016 16 kasus, dan Januari-November 2017 sudah terjadi 14 kasus. Berdasarkan keterangan tempatnya, 90 kasus pembegalan dilaporkan ke Polsek Rupit, dan 21 kasus terjadi di wilayah hukum 21 kasus.

Bupati Muratara, H Syarif Hidayat melalui Sekretaris Daerah (Sekda), H Abdullah Makcik, kemarin membenarkan maraknya tindak kriminal itu.

“Iya, itu kami akui. Tapi frekuensinya untuk beberapa tahun terakhir mulai menurun. Tidak sebanyak sebelum sebelumnya. Bahkan berangsur kondusif. Karena aparat lebih rutin patroli,” terang H Abdullah Makcik.

Disamping itu, ia mengimbau kepada pemakai jalan raya yang melintas untuk hati-hati.

“Ya kalau sedang berkendara, jangan sampai mengundang pelaku kejahatan. Misalkan, jangan memakai perhiasan saat bermotor. Lalu berkendaraan itu, jangan sendirian tapi pastikan ada rekan. Kami juga mengajak masyarakat Muratara untuk menjaga keamanan jalan raya itu, apalagi kita dilalui jalan lintas. Jadi mohon kerja samanya,” harap Abdullah Makcik.

Upaya menciptakan Muratara kondusif juga telah dilakukan aparat. Sebagaimana disampaikan Kapolres Musi Rawas, AKBP Pambudi melalui Kapolsek Rupit, AKP Yulfikri.

Kemarin, ia menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pendekatan dalam bentuk mengimbau kepada perangkat desa maupun tokoh agar warganya peduli terhadap lingkungannya, terutama menjaga keamanan.

“Namun ini tidak berjalan. Masyarakat sebenarnya merasa ada keresahan. Tapi belum ada kekompakan mengamankan. Karena mungkin di satu sisi, masih ada ikatan kekeluargaan yang kental. Jadi ada aksi saling menutupi. Tidak sedikit juga memilih ‘tutup mata’. Itu yang musti diubah,” jelasnya.

Tindakan yang dilakukan kepolisian, terang Yulfikri, selalu berkoordinasi dengan TNI agar ada perubahan dalam menghadapi masalah ini.

“Selama ini banyak yang berpikiran bahwa Kecamatan Rupit terutama Desa Karang Anyar itu rawan begal. Kami ingin mengubah image itu. Karena kami sangat yakin, tidak semua warga di sana melakukan hal begitu. Bahkan bisa jadi bukan orang Karang Anyar, namun Tempat Kejadian Perkara (TKP) terjadi di Desa Karang Anyar. Karena ‘nila setitik inilah rusak susu sebelanga’. Akibat ulah segelintir orang, masyarakat kena semua,” imbuhnya.

AKP Yulfikri juga menyayangkan, ketika anggota masuk dan terlalu lama ke Desa Karang Anyar kadang ada segelintir warga yang kurang nyaman. Sementara niatan anggota untuk menjalin silaturahmi.

“Saya mengalami sendiri, lebih dari dua kali saya ingin ke kediaman Kepala Dusun (Kadus). Namun tak lama kemudian terjadi keributan. Ada yang beranggapan kedatangan kami mau mengambil si A dan B. Padahal tidak. Tidak begitu,” terang Kapolsek.

Yulfikri menganalisa, pembegalan terjadi bukan serta merta. Bisa jadi karena masyarakat kesulitan mendapat lapangan pekerjaan. Warga Desa Karang Anyar notabene mengandalkan hasil sadap karet pribadi. Namun tidak sedikit juga yang kerja di kebun PT Rawas Palma Pratama.

Lalu bagaimana motif pembegalannya?

Sepanjang enam bulan AKP Yulfikri tugas di wilayah itu, cara membegal yang dilakukan pelaku diawali dengan memberhentikan kendaraan terutama motor. Lalu tersangka mengambil kunci kontak, motor akan diambil dengan cara pelaku tetap mengancam dengan Senjata Api Rakitan (Senpira) maupun Senjata Tajam (Sajam).

“Kalau korbannya acak. Tidak musti orang Kabupaten Muratara atau luar. Namun sebagian besar korbannya pemilik kendaraan bernomor polisi BD (Bengkulu) atau BH (Jambi). Beraksinya selepas Subuh sekitar pukul 06.00 hingga pukul 08.00 WIB,” paparnya.

Diduga sistem pembegalan ini sudah terorganisir. Dan tidak hanya dilakukan satu orang.

“Ya kalau ada yang masuk, target sasaran ada informannya. Nanti ada eksekutornya. Kalau motor sasarannya, paling hanya seorang pelaku yang muncul. Berbeda kalau mobil. Hanya saja sebagian besar korbannya pengendara motor,” jelasnya lagi.

Melihat sistematisnya pergerakan pelaku begal ini, Tim Mapolsek Rupit meningkatkan intensitas patroli.

Sebagai perangkat desa, melihat data kasus begal di Kabupaten Muratara, PJ Kades Karang Anyar H Jafarin menegaskan, pandangan publik terhadap Desa Karang Anyar harusnya tak seburuk itu.

“Begal ini kan terjadi di Muratara. Bukan di Karang Anyar saja. Yakinlah, masyarakat Karang Anyar itu bagus semua. Kalaupun ada yang ‘nyeleneh’ hanya segelintir,” terang H Jafarin.

Ia berharap agar publik jangan menganggap seakan-akan Rupit, khususnya Desa Karang Anyar amat bahaya.

“Kami patuh pada hukum. Di Karang Anyar ini bukan jahat semua. Banyak yang baik warga sini. Jadi jangan berpikir begitu,” pinta Jafarin.

Terbukti, tegasnya, desa berpenghuni 194 Kepala Keluarga (KK) itu mendominasi jumlah jemaah haji Tahun 2017 lalu.

“Jadi ini menjadi gambaran bahwa masyarakat sini religius,” tandasnya.

Jafarin mengakui ada hal mengecewakan yang membuat masyarakat Desa Karang Anyar kecewa dengan Aparat Kepolisian akhir-akhir ini.

“Ya terkait penangkapan Haromain (Hermen), Selasa (14/11). Dia itu baik. Sekalipun DPO, kan kami persilakan diproses hukum. Tapi saat tahu kabar dia meninggal dan sudah di Rumah Sakit Siti Aisyah. Kami kaget. Karena saat ditangkap aman dan sehat-sehat saja, ini jadi pertanyaan warga. Belum lagi, temannya Hermen yakni Jubir sampai saat ini tak diketahui di mana. Dia memang terjun ke Sungai Rawas, tapi masyarakat dan Tagana sudah dua hari dua malam mencari. Tidak ketemu juga,” papar Jafarin.

Bersama warga, Jafarin memastikan mereka selalu berusaha untuk menjaga kondusifitas Muratara. Agar tetap aman, dan pertumbuhan ekonominya berlangsung pesat.

Sementara Psikolog Irwan Tony, menjelaskan pelaku begal kebanyakan remaja bermasalah, berasal dari keluarga yang tidak memfasilitasi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang dapat mengelola dirinya sendiri. Ditambah lagi dengan lingkungan luar yang tidak mendukung mereka untuk tumbuh menjadi individu yang baik.

“Ada kesalahan dalam parenting sehingga parental education menjadi sangat diperlukan saat ini. Saran saya, penanganan pelaku begal remaja bisa dilakukan dengan menyalurkan energi positif yang ada pada diri mereka ke dalam hal-hal yang positif,” jelasnya.

Misalnya saja dibidang olahraga ataupun kemiliteran.

“Para pelaku ini memiliki karakter positif yakni memiliki keberanian tinggi. Hal inilah yang sebaiknya ditangkap, karakter positifnya ditangani untuk diarahkan ke hal-hal yang baik seperti tinju, sepak bola, atau kegiatan positif lain,” jelas alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) itu.

Sementara itu untuk menghindari munculnya tindakan negatif remaja, ia meminta kepada para orang tua agar lebih memperhatikan dan melakukan pengawasan terhadap anaknya.

“Pasalnya, para remaja berada dalam masa yang tidak stabil dan pada fase pencarian jati diri. Sehingga saat anak tidak memperoleh perhatian keluarga mereka cenderung akan mencari di luar rumah. Sebab ada kekhawatiran akan menjadi korban,” imbuhnya.

Hal lain yang tak kalah besar pengaruhnya, seseorang berani membegal bisa jadi karena hukum yang diputuskan untuk pelaku pencurian dengan kekerasan maksimal.

“Sehingga pelaku tidak jera,” kata Irwan Tony.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita