oleh

Muba Desak Penerapan Aspal Karet

Tingkatkan Harga Karet Bagi Petani Karet Sumatera Selatan

HARGA karet yang fluktuatif sangat bergantung kondisi pasar internasional. Untuk mendapat nilai yang bagus karet perlu sentuhan inovasi. Salah satu yang mungkin dilakukan ialah proses hilirisasi menjadi aspal karet.

Implementasi teknologi baru itu memang membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Tetapi sangat mungkin untuk dilakukan dan hasilnya menjanjikan.

Sumatera Selatan didominasi oleh perkebunan karet, yakni mencapai 96 persen. Sekitar 19 persen berada di wilayah Musi Banyuasin. Diprediksi, pada 2020 produksi karet alam dunia akan mencapai 11,5 juta ton.

Indonesia ditargetkan menyumbang 29 persen atau 3,3 juta ton karet kering. Sumsel, terutama Muba, sebagai salah satu wilayah perkebunan karet terluas, tentu akan mendapatkan manfaat dari posisi ini.

“Inovasi aspal karet ini memiliki keunggulan,” kata Direktur Pusat Penelitian Karet Bogor Dr Karyudi, yang mengapre-siasi dan mendukung langkah Bupati Muba H Dodi Reza Alex, dalam acara Rembuk Nasional Menjadikan Karet sebagai Bahan Baku Aspal di Hotel Aryaduta Palembang, Senin (4/12).

Kondisi jalan aspal saat ini belum banyak memenuhi kualitas yang diinginkan. Cuaca dan beban berlebihan angkutan mem-percepat kerusakan jalan.

Nah, aspal berbahan baku karet dinilai cocok menggantikan aspal jalan saat ini. Daya tahannya 50 persen hingga 100 persen lebih lama dari aspal konvensional. “Jadi, kalau jalan pakai aspal konvensional bisa tahan 6 tahun, maka dengan dilapisi aspal karet bisa tahan 9 hingga 12 tahun,” jelasnya.

Karet akan bekerja sebagai bahan elastis yang meningkatkan daya tahan aspal. “Penggunaan getah karet (rubber latex) untuk bahan campuran aspal tentunya lebih rendah emisi dibandingkan dengan campuran aspal konvensional yang menggunakan bahan berbasis minyak bumi,” tukasnya.

Bupati Muba H Dodi Reza Alex dalam acara rembuk nasional yang diprakarsai Pemkab Muba ini mengatakan, penerapan teknologi terbaru aspal karet harus disegerakan.Sebab, program ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Juga membuat pembangunan jalan lebih bagus dan tahan lama.

Pengembangan teknologi ini sangat potensial. Apalagi Muba merupakan daerah penghasil karet terbesar di Sumsel. Total luas kebun karet yang ada 2,9 juta hektare. Sekitar 90 persen merupakan lahan milik petani swadaya. “Karenanya, perlu adanya percepatan implementasi aspal karet ini,” katanya.

Yang paling penting, penerapan inovasi ini dapat mengangkat harkat dan martabat para petani karet. Kesinambungan ekonomi akan sangat terbantu. Di sisi lain, perlu kerja keras untuk meremajakan tanaman karet di Muba yang saat ini sebagian besar sudah tua.

“Setelah sawit, Pemkab Muba juga akan melakukan peremajaan lahan karet. Program ini menda-pat respon baik dari pusat. Ada dukungan untuk segera direalisa-sikan dalam waktu dekat,” kata Dodi.

Pemkab Muba menjalin kerja sama dengan United Nations Development Progamme (UNDP) atau Badan Program Pembangu-nan PBB untuk melakukan hilirisasi tanaman karet berupa aspal karet yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani karet.

“Jika ini berhasil diterapkan di Muba, insya Allah bisa diterapkan juga di Sumsel,” kata Dodi.

Direktur Pusat Penelitian Karet Bogor Dr Karyudi mendorong langkah Dodi. Menurutnya, apabila implementasi pembangu-nan dan perbaikan jalan aspal berbahan baku dari karet berhasil diterapkan di Muba, kabupaten ini akan menjadi pionir penerapan inovasi aspal karet. “Persiapan uji coba tidak terlalu lama, saat ini tinggal menyiapkan materialnya saja,” jelasnya.

Sebelumnya inovasi pemba-ngunan jalan aspal berbahan baku karet sudah pernah diterapkan di beberapa daerah di Indonesia, namun belum menunjukkan hasil yang maksimal. “Harapan kami akan sukses di Muba, karena dari sisi kesiapan Muba sudah sangat siap dan punya bahan baku yang memadai,” katanya.(adv)

Komentar

Rekomendasi Berita