oleh

Moehammad Din, Mengangkat Senjata Sambil Belajar

LINGGAU POS ONLINE, LAHAT – Hanya sedikit saja pejuang Angkatan 45 yang saat ini diketahui masih hidup, khususnya di Kabupaten Lahat. Adalah wajar, mengingat sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia, terutama masa revolusi yang berlangsung kurun 1945-1948 sudah 72 atau 69 tahun lalu. Sehingga, tidak heran jika para pelaku sejarah pun sudah banyak yang tiada.

Nah, dari sedikit veteran pejuang Kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Lahat yang masih hidup diantaranya adalah H Moehammad Din, Sm. Hk. Meskipun pangkat terakhir beliau TNI sebatas Sersan, namun pejuang kelahiran Pagaralam 15 Oktober 1932 ini cukup memainkan peranan penting dalam masa-masa Revolusi Indonesia tahun 1945-1948.

Tahun 1944 hingga 1945, Moehammad Din mengikuti pendidikan di Sjokyu Kogyogakko, salah satu pendidikan semi militer yang didirikan Jepang di Palembang. Saat menjalani pendidikan ini, usia Moehammad Din masih remaja, baru 12 tahun.

“Saya lulus pendidikan ini dengan pangkat Itochei, berupa dasar berwarna merah dengan bintang dua berwarna kuning,” kata Moehammadin Din, seraya mengulas kembali biografi perjuangannya, Jumat (10/11).

Seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tanggal 21 Agustus 1945 Moehammad Din kemudian dipulangkan ke Pagaralam. Namun lima hari kemudian, dia dipanggil oleh Kapten. A. Roni, yang merupakan eks Gyugun Kanbu Pagaralam (salah satu sekolah semi militer zaman Jepang, red) dan diperintahkan untuk melatih tiga regu Barisan Rakyat (Bara).

“Pelatihan ini diarahkan untuk memutuskan jalan raya yang menghubungkan Kota Lahat-Pagaralam yang berlokasi di Tebing Lubuk Mechinishan antara Desa Karang Dalam Ulu dengan Desa Lubuk Sepang. Mengingat, tentara Jepang masih banyak di Pagaralam waktu itu,” terang veteran yang fasih berbahasa Jepang ini, seraya menambahkan seiring perintah tersebut dirinya mendapat pangkat Sersan atau Gunso.

Saat menginstrukturi Bara ini, bahasa yang digunakan masih bahasa Jepang, seperti Kioskek, Banggo, dan Maware Mige.

Tanggal 5 November 1945, Moehammad Din akhirnya diangkat sebagai Ajudan Kapten A. Roni, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Intendance Resimen II Divisi I Garuda, dengan markas di Lahat.

Di tengah gejolak Revolusi Indonesia saat itu, keinginan Moehammad Din untuk menimba ilmu rupanya masih sangat tinggi. Ini terbukti dengan mendaftarnya dia di sebuah SMP pimpinan Rajagukguk dan Amirul Mukminin, segera setelah sekolah ini dibuka pada 1946 di Lahat.

Masih di tahun yang sama, pengalaman yang mungkin tidak terlupakan baginya adalah bertemu dengan salah seorang Proklamator, Wakil Presiden Moh. Hatta saat berkunjung ke Kabupaten Lahat.

“Waktu itu, saya ditugaskan menjemput beliau (Mohammad Hatta, red) di Stasiun Kereta Api Lahat dalam perjalanannya ke Lubuk Linggau,” katanya.

Kemudian, bertepatan dengan HUT pertama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1946 Moehammad Din mengikuti upacara di Lapangan PJKA Lahat, dengan Inspektur Upacara Kolonel. Barlian.

Tahun 1947, saat pecah Perang Lima Hari di Palembang, Moehammad Din yang waktu itu Ajudan Kapten Roni turut berkontribusi dengan memberi bantuan material pada satuan Tentara Republik Indonesia (TRI) di Kertapati.

“Waktu itu, saya memegang senjata api call jenis 38,” ulasnya.

Tanun 1947, berlangsung Agresi Militer Belanda pertama. Pada fase ini, Moehammad Din aktif sebagai informan pengumpul data intelijen, bersama kedua rekannya, Syamsuddin Syarif dan Tafsin Jumbu. Namun sayang, belakangan Tafsin Jumbu ditawan Belanda dan kemudian dikirim ke Boom Baru sebagai tahanan.

“Beliau (Tafsin Jumbu, red) baru bebas sewaktu penyerahan kedaulatan Indonesia tahun 1949,” tuturnya.

Pendidikan SMP-nya yang sempat terputus akibat Agresi Militer Belanda pertama, akhirnya berlanjut kembali. Tahun 1948, berdiri SMP Partikulir di Lahat dan dia pun masuk mendaftarkan diri.

“Segera setelah didirikan SMP ini, mulai berdatangan sejumlah calon pelajar dari luar kota untuk mendaftarkan diri,” terangnya. (02)

Komentar

Rekomendasi Berita