oleh

Modus Meruqiah, Oknum Ustadz Gagahi Santri

LINGGAUPOS.CO.ID – Unit Pelindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim, Polres Musi Rawas melimpahkan tersangka inisial IR (24) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau, Kamis (18/3/2021).

Tersangka merupakan ustadz di salah satu pesantren di Kabupaten Musi Rawas. Ia berdomisili di Dusun IV, Desa Sumber Rejo, Kecamatan Megang Sakti Kabupaten Mura. Ia dilimpahkan Unit PPA Polres MUra karena diduga menyetubuhi santriwati inisial P (16) Sabtu, 7 Desember 2020.

Kapolres Musi Rawas, AKBP Efrannedy melalui Kasat Reskrim AKP Alex Andriyan  didampingi Kanit PPA  Ipda Al Ihsan Basni membenarkan bahwa berkas tersangka inisial Ir sudah lengkap (P21) dan telah dilimpahkan  ke Kejaksaan Negeri Lubuklinggau dengan No: B-694/L.6.11/E.ku.1/03/2021tanggal 15 Maret 2021.

Selain berkas dan tersangka, Tim Polres Musi Rawas juga mengirim barang bukti berupa sehelai dress tanpa lengan pink, BH warna merah, jilbab berwarna merah, celana dalam putih orange garis hitam, cap stampel pondok pesantren, cap stampel pengurus pondok, lima buah buku double folio, sembilan lembar brosur, tiga lembar foto copy salinan akta yayasan dan enam lembar kartu pembayaran madrasah.

Berkas pelimpahan langsung diterima Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lubuklinggau Ayu, dan tersangka didampingi penasehat hukumnya dan dalam waktu dekat akan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau untuk disidangkan.

Adapu kasus persetubuhan yang dilakukan ustadz terhadap santriwati insial P ini bermula, akhir tahun 2019, korban dititipkan di Pondok Pesantren AM yang dipimpin tersangka,

Selama di pondok pesantren diduga korban disetubuhi oleh tersangka dengan modus berpura-pura hendak meruqiah korban. Tersangka menyuruh korban untuk melepas pakaian dan hanya mengenakan kain.

Awalnya tersangka memijat kaki korban selanjutnya menggerayangi tubuh korban dan menyetubuhi korban, saat hendak menyetubuhi korban tersangka mengancam agar korban menuruti semua permintaan tersangka. Jika tidak, tersangka akan menyebarluaskan bahwa korban adalah perempuan tidak benar dan tersangka juga mengancam agar tidak memberitahukan kepada siapapun bahwa telah disetubuhi oleh tersangka.

Setiap ada kesempatan, tersangka menyetubuhi korban dengan cara memaksa dan mengancam korban. Terakhir  korban disetubuhi tersangka  November 2020 sekira pukul 10.00 WIB di Pondok Pesantren yang ada di Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas.

Karena korban sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan yang dilakukan oleh tersangka, maka korban kabur dari pondok pesantren dan menceritakan kejadian persetubuhan yang dialaminya  kepada kedua orang tua angkatnya inisial AR (51).

Didampingi Tim Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan  Anak (DPPPA), orang tua angkat korban melaporkan kejadian ini ke Unit PPA Satreskrim Polres Mura dengan LP/B-112/XII/2020/Sumsel/Res Mura, tanggal 07 Desember 2020.

Atas laporan tersebut  Anggota Unit PPA Satreskrim Polres Mura melakukan penyelidikan dan melakukan pemanggilan terhadap tersangka. Sehingga  Rabu 30 Desember 2020 sekitar pukul 16.00 WIB menyerahkan diri ke Polres Mura lalu diamankan Tim  Landak Sat Reskrim Polres Mura.

Berdasarkan interogasi, tersangka mengakui perbuatannya telah menyetubuhi korban lebih dari tiga kali. Terutama setiap kali ada kesempatan korban selalu disetubuhi di kamar korban, pernah di dapur, dan di rumah orang tua korban, yang berdekatan dengan pesantren.

Tersangka ini juga sudah beristri dengan memiliki dua anak. Jadi setiap istrinya  tiada di rumah, saat itulah tersangka melakukan tindak asusila.

Modus tersangka dalam melancarkan aksinya yakni dengan mengadakan ruqiah kepada santriwati, sehingga korban menuruti  arahan tersangka.

Selain korban ada juga santriwati lain  inisial SP (16) hanya cabuli oleh tersangka, dan ikut melapor.

Berdasarkan hasil visum at revertum di salah satu RSUD membenarkan bahwa korban telah disetubuhi oleh tersangka.

Ipda Al Ihsan Basni menegaskan atas perbuatannya Tersangka IR dijerat tindak pidana Pasal 81 Jo Pasal 76 (d) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.(*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita