oleh

Unik, Mobil ini Isi BBM Bukan di Lubang Tangki

LINGGAU POS ONLINE – Seorang konsumen kedapatan langsung memegang nozzle mengisi BBM jenis pertalite ke mobil miliknya. Mobil itu sepertinya tak hanya memiliki satu tanki. Melainkan dua. Dugaan sementara, tanki mobil itu dimodifikasi.

Dalam waktu lebih dari 30 menit, proses pengisian BBM Pertalite itu belum juga selesai. Sehingga menyebabkan konsumen lain terabaikan.

Kondisi ini terjadi di SPBU Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Jumat (23/8/2019) siang. Bukan perkara antre saja yang dipermasalahkan. Konsumen yang mengisi BBM sendiri dengan nozzle itu cukup mengkhawatirkan.

Ketua Hiswana Migas Lubuklinggau, Mura dan Muratara, Winasta Ayu Duri menerangkan, manajemen SPBU yang mengetahui itu pasti akan melarang. Sebab Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya yang boleh mengisi BBM adalah petugas SPBU saja.

“Tapi kadang habit (kebiasaan) ya. Kadang konsumen tidak percaya kalau BBM-nya habis. Jadi mereka mau pegang sendiri nozzle-nya. Ini kalau di desa-desa memang sering terjadi,” tuturnya.

Maka ia berharap konsumen memahami aturan sebenarnya. Sehingga mempercayakan pengisian BBM hanya kepada petugas SPBU saja.

Soal antre, ia meyakinkan konsumen jangan khawatir. Sebab ketersediaan BBM pertalite selalu ada.

“Bahkan sepekan terakhir terjadi penurunan angka penjualan pertalite. Biasanya kami bisa jual 8 ton (KL) per hari. Ini maksimal separuhnya saja sekitar 4 ton. Jadi tidak mungkin ada yang tidak kebagian. Kalau di Mura itu jarang antre panjang,” imbuhnya.

Sementara Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI) Lubuklinggau, Dedi Irawan menegaskan, konsumen yang mendapati petugas SPBU melayani pembelian BBM Subsidi ke pengepul bisa melapor. Begitupun ketika konsumen mendapati ada pegawai SPBU mendahulukan pengepul dibanding konsumen biasa.

“Cara lapornya bawa bukti foto atau video rekaman peristiwa itu,” pesan Dedi, kemarin.

Memang, kata Dedi, YLKI belum pernah menerima laporan konsumen terkait layanan SPBU sepanjang dua tahun terakhir.

Meski begitu, ia mendesak pihak Pertamina untuk melakukan tindakan tegas. Karena, jangan sampai ada pelanggaran hak konsumen. Salah satunya untuk dapat BBM.

Sementara kalau SPBU mengutamakan para pengepul dan penjual BBM eceran, hak-hak dari konsumen yang murni dilanggar.

“Pertamina harus melakukan evaluasi ke SPBU yang nakal, bila perlu tidak dipasok BBM lagi. Hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera terhadap SPBU,” jelasnya.

Kalau ada laporan terkait hal ini, pihaknya akan langsung melakukannya klarifikasi mengenai hal itu ke pihak-pihak terkait.

Hal sama disampaikan anggota DPRD Kabupaten Mura, Rudi Hartono.

Ia mengatakan dalam melakukan pelayanan hendaknya seluruh SPBU yang ada di Kabupaten Mura melayani masyarakat secara maksimal.

Caranya, dengan melaksanakan prosedur sesuai dengan yang sudah diterapkan oleh setiap SPBU, salah satunya dengan mendahulukan kendaraan roda dua maupun empat, ketimbang pengepul yang memakai mobil modif, motor modif, maupun jeriken.

Selain itu, kata dia, dalam melakukan pengisian hendaknya petugas pengisi BBM di SPBU tidak menyuruh pelanggan mengisi sendiri di kendaraannya, karena dikhawatirkan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ini harus dipatuhi oleh para petugas, jangan sampai akibat kelalaian itu merugikan SPBU maupun masyarakat setempat,” jelasnya.

Selanjutnya, para karyawan SPBU juga harus mengenakan pakaian seragam dan berprilaku ramah terhadap pelanggan, karena memang itu sudah dianjurkan untuk menggaet pelanggan.(lik/aku)

Komentar

Rekomendasi Berita