oleh

Minta OPD Muratara Laporkan Akun Penyebar Fitnah

“…Sekarang banyak fitnah melalui Medsos, kami pemerintah daerah bukan anti kritik atau anti sosial. Tapi kalau fitnah itu mengarah ke personal itu beda lagi, dan jalurnya ke pidana karena merugikan orang lain. Jadi OPD atau ASN kita yang merasa dirugikan kita minta lapor ke polisi…”

* Asisten I Setda Pemkab Muratara, Siswanto Tunut

LINGGAU POS ONLINE- Banyaknya tudingan negatif oleh akun bodong melalui Media Sosial (Medsos) Facebook, membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muratara, geram. Bahkan Asisten I Setda Pemkab Muratara, Siswanto Tunut meminta seluruh jajarannya yang merasa dirugikan oleh fitnah akun bodong tersebut, segera melaporkan ke polisi.

“Sekarang banyak fitnah melalui Medsos, kami pemerintah daerah bukan anti kritik atau anti sosial. Tapi kalau fitnah itu mengarah ke personal itu beda lagi, dan jalurnya ke pidana karena merugikan orang lain. Jadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) kita yang merasa dirugikan kita minta lapor ke polisi supaya bisa di proses,” tegas Siswanto Tunut.

Ia mengungkapkan, seluruh jajarannya dan pemerintah desa harus lebih terbuka terhadap informasi publik. Karena akibat keterlambatan informasi, bisa mengakibatkan insiden buruk bagi kinerja pemerintahan. Dengan mekanisme transparansi publik itu, diharapkan tidak ada lagi fitnah-fitnah di Medsos.

“Kalau disinggung masalah kinerja atau pelayanan publik, tentunya kami sangat terbuka. Tapi jika mengarah ke personal, itu bukan lagi kritik namanya,” jelas Siswanto.

Ia membenarkan saat ini Kepala OPD, Pejabat Daerah, hingga Kepala Desa (Kades) sering kali menjadi objek sasaran fitnah yang dilakukan oleh akun bodong di Medsos. Mereka mengaku tidak mengetahui secara pasti, motif dari oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

“Kalau dibiarkan begitu saja tentunya akan mengganggu juga. Karena akan merembet ke masalah lainnya,” tegas Siswanto.

Pihaknya berharap, masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi di Medsos. Pasalnya, informasi tersebut sering kali tidak memiliki narasumber yang jelas.

“Karena sumbernya tidak ada, dan informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Saya lebih senang ke media masa, karena legalitas jelas, narasumber lengkap, tentunya bisa jadi acuan dan referensi pembaca,” tegas Siswanto kembali.

Terpisah, Rahmad salah satu pengiat Medsos di Muratara mengungkapkan, mayoritas akun yang digunakan pelaku untuk melontarkan fitnah negatif di Medsos, merupakan akun palsu. Tidak jarang informasi yang di sampaikan, hanya berupa tudingan-tudingan yang tidak jelas.

“Kita belum tahu apakah itu berkaitan dengan tensi politik di Muratara atau tidak. Tapi akun bodong khususnya di Medsos saat ini memang tengah ‘menjamur’,” jelasnya.

Pihaknya berharap, pengguna Medsos bisa bersikap positif dan tidak mempercayai informasi yang di sampaikan melalui Medsos. Sayangnya masyarakat khususnya di wilayah Muratara, mudah terpancing informasi yang sengaja disampaikan melalui Medsos.

“Karena Medsos mudah di akses dan menjadi ruang publik, tidak jarang ada orang yang sengaja membuat akun palsu untuk mengungkapkan kepribadian mereka yang negatif,” tutupnya.

Laporan Fahmilan Jadidi

Rekomendasi Berita