oleh

Minimalisir Remaja Buta Alquran

Hasbi Mustofa, Ketua DPD BKPRMI Kota Lubuklinggau

Wakil I Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Lubuklinggau Hasbi Mustofa mendapat amanah baru. Secara aklamasi, 25 November 2017 lalu, ia dipilih sebagai Ketua DPD BKPRMI Kota Lubuklinggau Periode 2017-2021.

Laporan Sulis, Lubuklinggau

BERGABUNG di BKPRMI Kota Lubuklinggau sejak tahun 2002. Kala itu, Hasbi Mustofa tercatat sebagai anggota Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Dakwah dan Sumber Daya Manusia (LP2SDM).

“Dari titik inilah, saya merasakan bahwa tak mudah untuk berdakwah dari tingkat bawah. Saya terus jalani, alhamdulillah akhirnya tak begitu sulit. Tahun 2005 saya dipercaya menjadi Direktur Daerah hingga tahun 2011,” jelas Hasbi.

Suami dari Nura Fitria itu menyebutkan, amanah yang diemban pengurus BKPRMI itu tak sekadar menangani guru ngaji (ustadz/ustadzah,red). Namun lebih dari itu. Seperti merangkul dan mengaktifkan remaja masjid, juga memotivasi santriwan-satriwati untuk aktif di Taman Kanak-kanak Alquran (TKA) maupun Taman Pendidikan Alquran (TPA).

“Fokus utama kami saat ini, membina pemuda remaja masjid. Jadi masing-masing Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) masing-masing kecamatan harus aktif. Kita juga berupaya meminimalisir remaja buta Alquran,” kata Hasbi.

Dengan memberdayakan 1.125 guru ngaji, yang 75 %usia produktif, Hasbi optimis bisa mewujudkan itu.

Sebab, kata Hasbi, ia prihatin ketika melihat pemuda jaman sekarang hanya berapa persen yang bisa baca tulis Alquran.

“Oleh karena itu, pembinaannya perlu secara mendetail dan mendalam,” terangnya.

Prioritas lainnya, BKPRMI Lubuklinggau meningkatkan kualitas dan kuantitas ustad-ustadzah.

“Meningkatkan kualitas artinya memperdalam pengetahuan mereka tentang Alquran, dan tentang prosesi belajar mengajar. Jadi ilmunya tidak begitu-begitu saja. Mereka dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan, yang menghadirkan ahli bidang tahsinul Quran,” imbuhnya.

Selain tuntutan untuk berkualitas, insentif juga diberikan untuk guru ngaji. Hasbi menyadari itu tidak bisa diberikan setiap bulan.

“Namun yang pasti ada. Rp 1 juta untuk tahun 2017 ini. Itu yang dapat insentif 900-an orang. Sementara 2018 mendatang bisa naik jadi 1.125 orang,” imbuhnya.

Dalam sesi wawancara itu, alumni UIN Raden Fatah Tahun 2001 ini juga berpesan kepada orang tua agar menanamkan aqidah dan keimanan putra-putrinya melalui mengaji. Sebab, tak jarang, Hasbi kerap mendapati orang tua kadang rela bayar Rp 500 ribu sebulan untuk kursus Bahasa Inggris, kursus musik, maupun kursus matematika. Tetapi ketika iuran ngaji Rp 10 ribu per bulan saja kadang nunggak 6 bulan.

“Memang masing-masing guru ngaji ada yang mematok iuran ada yang tidak. Jumlahnya pun bervariasi. Namun, sebagai ucapan terima kasih saja kadang orang tua belum paham akan itu. Padahal ilmu yang diberikan guru ngaji itu bekal bagi orang tua untuk bisa mendapatkan anak yang bisa mendoakannya kelak. Baik di dunia maupun ketika sudah meninggal dunia,” imbuh ayah dari Havia Mar Atussholehah, Ahmad Rafif Nadhmi Havi, Ahmad Pardan Alkafi, Ahmad Tsaqieb Rozieq Havi dan Ahmad Muflih Hafidz Havi.

Terakhir, alumni Fakultas Dakwah Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) ini berharap, dengan amanah barunya tersebut senantiasa mendapat dukungan dan bisa bekerja sama dengan baik terhadap seluruh Dewan Perwakilan Kecamatan (DPK). Alumni Program Magister Sains Universitas Taman Siswa itu juga bersyukur, terus mendapat masukan dan inspirasi dari kepengurusan sebelumnya yang dipimpin H Jamaluddin. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita