oleh

Merismon Kenalkan Biochar dan Kompos

Teknik Remediasi Tanah Tercemar Logam Berat

Sejak 11 Januari 2018 Merismon SP, MSi resmi menyandang gelar Doktor (DR). Berdasar hasil sidang terbuka promosi Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang ia meraih predikat dengan pujian. Apa objek penelitian politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini?

Laporan Muhammad Yasin, Lubuklinggau

PADA sidang terbuka tersebut, disertasi Merismon diuji oleh Prof. DR Ir Suntoro, Prof. DR Nurhayati, Prof DR Hatta Dahlan, Prof. DR Dwi Setiawan, DR Fuji Lukito Wati Haryani. Promotor Prof. DR Dodik Budianta dan Kopromotor Prof Adipati Napolion serta Hermansyah.

Dengan judul disertasi “Remediasi Pencemaran Timbal (Pb) dan Cadmium pada Lahan Sawah Intensif di Musi Rawas dengan Pemberian Biochar dan Kompos”.

Merismon memilih objek penelitiannya ke sawah intensif di Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas.

Anggota DPRD Kota Lubuklinggau ini menerangkan, yang melatarbelakangi dirinya melakukan penelitian sawah intensif di Kecamatan Tugumulyo karena maraknya penggunaan pupuk fosfat. Sementara areal persawahan tersebut di bangunan dari zaman Belanda.

Ia berkeyakinan dengan penggunaan pupuk tersebut dalam jangka waktu puluhan tahun maka tanah akan tercemar logam berat.

Menurut promopendus, Merismon pada penelitiannya itu ia berhasil menemukan suatu teknologi remidiasi yakni teknologi untuk menguraikan senyawa pencemar yang ada di dalam tanah menggunakan biochar dan kompos.

“Hasil saya pemberian biochar dan kompos mampu menurunkan Pb dan Cd di dalam tanah sehingga mengurangi serapan tanaman, juga mengurangi tingkat senyawa pada bagian beras. Penelitian ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat, akademisi dan bagi saya pribadi karena dengan aplikasi penelitian ini diharapkan melindungi masyarakat,” harap pria kelahiran Muaro Bungo 5 Mei 1976.

Mantan Calon Wakil Walikota Lubuklinggau, pada Pilkada 2008 itu juga menjelaskan tanah sawah yang tercemar oleh logam berat yang berasal dari aktivitas budidaya yang menggunakan bahan-bahan agrokimia terutama penggunaan pupuk fosfat yang kurang terkendali, dapat menurunkan kualitas tanah. Bahkan, produk pertanian yang dihasilkan tidak akan maksimal. Hal inilah yang menjadi permasalahan dunia dan Indonesia.

Salah satu solusi untuk remidiasi logam berat Pb dan Cd pada tanah sawah dapat dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan bahan organik secara ini situ.

Penggunaan bahan organik ini situ pada budidaya padi lahan sawah yaitu dengan memanfaatkan bahan organik yang berasal dari sisa tanaman yang terdapat di sekitarnya seperti jerami padi dan sekam.

Merismon melakukan penelitian selama 1 tahun 2 bulan, dimulai dari Februari 2016 sampai dengan April 2017. Dalam melakukan penelitian tersebut suami dari Nevi Agussuswati ini membagi menjadi tiga tahapan utama penelitian.

Penelitian tahap pertama bersifat eksploratif yang bertujuan untuk menganalisis akumulasi Pb dan Cd pada tanah dan butir beras berdasarkan umur lahan sawah.

Sampel tanah dan tanaman diambil pada lahan sawah intensif yang berumur 20 tahun, 40 tahun, 60 tahun dan 80 tahun di Kabupaten Musi Rawas. Data hubungan antara pengaruh umur lahan sawah dengan kandungan Pb dan Cd pada tanah dan tanaman analisa dengan uji regresi.

Penelitian tahap kedua menggunakan eksperimen dengan percobaan pot, bertujuan untuk menganalisis kemampuan biochar jerami dan sekam padi. Dan kemampuan kompos jerami dan sekam dalam menurunkan ketersediaan Pb dan Cd dalam tanah.

Penelitian tahap ketiga menggunakan eksperiman desain dengan percobaan lapangan bertujuan untuk menentukan dosis optimum biochar dan dosis kompos yang tepat di lapangan. Tujuannya untuk meremediasi tanah sawah tercemar logam berat Pb dan Cd.

Sementara itu dikutip dari TVRI, promotor Prof DR Didik Budianto mengatakan sangat yakin temuan Merismon akan menjadi kontribusi yang positif bagi masyarakat luas khususnya bagi petani di Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuklinggau.

“Saya minta Merismon mahasiswa saya, coba teliti di Tugumulyo karena itu dibangun dari jaman Belanda, siapa tahu ada logam berat,” ucapnya.

Setelah sidang terbuka tersebut, Merismon akan diwisuda pada 15 Februari 2018 mendatang. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita