oleh

Merelakan ditinggal Anak, Cucu, Menantu

Catatan Dahlan Iskan (Seri 2)

KE LUAR HOTEL, melewati parkir, taksi sudah siap. Sedan. Cukup tiga orang: Azrul, Tatang dan saya. Saya terus bicara keras sebisa saya. Bahwa saya kena serangan jantung. Suara saya memang tidak jelas karena posisi saya harus terus menengadah dan mulut terus membuka.

Tapi sopir taksi cukup paham kata-kata “I got heart attack” yang terus saya ucapkan secara darurat. Saya rasakan sang sopir lagi zig-zag. Menerobos lalu lintas Kota Madinah yang ramai. Bahkan saya lirik taksi ini memotong jalan.

Melanggar aturan. Demi cepat mencapai rumah sakit. Dalam hati saya memuji keberanian sopir melanggar aturan itu.

Azrul memapah saya menuju UGD. Tatang membereskan taksi. Sepanjang dipapah menuju ruang UGD nafas saya masih tersengal. Hanya bisa bernafas dalam posisi wajah menengadah. Dan mulut membuka. Tapi, meski suara kurang jelas, saya terus mengucapkan kata-kata bahwa saya lagi kena serangan jantung. Agar perawat dan dokter di situ ambil perhatian serius.
Benar saja. Perawat bergegas membawakan kursi roda. Mendorong saya menuju ruang perawatan. Membaringkan saya di tempat tidur pemeriksaan. Tapi begitu berbaring saya terjungkit bangun. Saya tidak bisa bernafas dalam posisi berebah. Dokter langsung membuat tempat tidur itu dalam posisi tegak separo. Agar saya bisa diperiksa dalam posisi setengah duduk. Sambil nafas terus tersengal, wajah menengadah dan mulut terbuka.

Madinah lagi musim dingin. Udara kering. Bibir kering. Tenggorokan yang terus membuka ikut kering. Saya minta Azrul, yang terus memijiti punggung saya yang nyeri, untuk meneteskan air ke tenggorokan saya yang terus membuka.

Setiap lima menit. Saya masih bisa berpikir tenggorokan itu bisa luka. Dan menimbulkan persoalan tersendiri.

Saya menengok wajah dokter. Arab. Terlihat dari wajah, berewok dan pakaian gamisnya.

“Saya kena serangan jantung,” kata saya padanya. Beberapa kali. Sambil memukul dada yang sakit. Punggung saya juga sakit dan perut saya terasa penuh sesak.

“Dari mana kamu tahu kena serangan jantung,” tanya dokter.

“Sepupu saya meninggal minggu lalu. Dengan gejala yang sama,” jawab saya tersengal.

Seminggu terakhir ini keluarga saya dari Magetan memang terus menceritakan drama meninggalnya KH Ridlo Tafsir, kyai kami di Takeran, Magetan. Akibat serangan jantung. Saya begitu terpengaruh kisah-kisah itu. Tapi setidaknya, dengan mengatakan kena serangan jantung, dokter segera ambil tindakan.

Saya lihat ada dua tempat tidur pemeriksaan di ruang itu. Beberapa pasien diperiksa di kursi roda. Atau di kursi. Ada perawat berkebangsaan Filipina yang bisa berbahasa Indonesia.

Dialah yang memarahi saya agar tidak terus berteriak kesakitan.

Saya tidak memedulikannya. Dia tidak tahu tersiksanya badan saya.

Dokter Madinah ini bergegas menyiapkan alat-alat pemeriksaan jantung. Di kanan kiri tempat tidur saya. Perekaman jantung dimulai. Stetoskop dipindah-pindah: dari dada kiri, dada kanan, bagian-bagian di perut dan punggung.

“Jantung anda prima. Baik sekali,” ujar dokter setelah membaca print out rekaman jantung.

“Anda ini tidak apa-apa. Anda boleh kembali ke hotel,” ujar dokter tersebut.

Kata-kata dokter itu diucapkan dengan nada tertentu. Seperti menyalahkan saya. Memojokkan saya. Sok tahu kena serangan jantung. Bikin ruangan bising. Bikin semua perawat sibuk.

Meski dipojokkan begitu saya lega. Jantung saya ternyata dalam kondisi prima. Menjadi pasti sakit saya ini bukan serangan jantung. Berarti tidak akan mati mendadak. Tapi sakit apa?

Saya tidak mau meninggalkan rumah sakit. Nafas saya masih sesak. Masih tersengal. Posisi badan pun masih serba salah. Serba sakit. Dada masih nyeri. Punggung masih sakit. Perut masih terasa sangat penuh. Saya menolak pergi dari RS.

Tapi saya tidak panik lagi. Sudah lebih tenang. Sudah ada penegasan saya tidak kena serangan jantung. Tidak akan segera menyusul Kyai Ridlo Tafsir, sepupu saya itu. Tapi saya ini sakit apa?

Saya pun menceritakan asal-usul apa yang terjadi sebelum sakit ini. Dokter mau mendengarkan. Lalu memeriksa lebih teliti perut saya. Rupanya dia melihat perut saya memang bergejolak. Akibat makanan-makanan yang dengan rakus saya lahap sepanjang pagi itu.

Dokter tidak lagi memaksa saya meninggalkan rumah sakit. Saya benar-benar tidak kuat menahan sesak nafas, nyeri dada, sakit punggung dan perut yang sesak. Sebagai gantinya dokter minta suster untuk menyuntik saya morphin. Dua kali suntikan. Untuk menghilangkan semua rasa sakit itu. Saya pasrah saja.
Azrul menawari saya apakah ingin minum minuman hangat. Misalnya coklat panas. Untuk selingan agar tidak terus meneguk air putih. Saya mengangguk. Tatang, menantu saya lari mencari coklat panas.
Setelah coklat segelas kecil saya teguk habis dokter bertanya: minum apa itu?
“Coklat,” kata Azrul.
Dokter pun marah.
Saya tidak boleh makan atau minum apa pun kecuali air putih. Pencernaan saya harus diistirahatkan setelah tadi padi terlalu banyak macam-macam isi.

Dua kali suntikan morphin itu ternyata tidak mempan. Sakit-sakit itu tidak terasa berkurang. Saya terus berbising. Tidak tahan. Akhirnya dokter memberi isyarat kepada perawat. Sambil menggerakkan tangan, sambil mengedipkan mata. Isyarat untuk memberikan suntikan rahasia. Saya bisa menduga isyarat rahasia itu: disuntik obat tidur.

Benar saja, perawat mengambil alat suntik. Tanpa memberitahu obat apakah itu. Langsung menyuntikkannya. Saya tahu. Itu obat tidur.

Saya pasrah.

Hanya saja obat tidur itu juga tidak bisa membuat saya tidur. Rasa sakitnya melebihi kekuatan obat tidurnya. Tapi saya tidak punya kekuatan untuk bising lagi. Saya lemas. Sakitnya tetap, tapi lemas.

Setengah jam kemudian dokter memutuskan saya harus meninggalkan rumah sakit. Sudah lima jam saya mendominasi gawat darurat. Saya tidak punya kekuatan lagi.

Menyerah.

Dokter menegaskan bahwa saya harus sabar. Menunggu pencernaan saya memproses secara alami segala makanan berat yang saya lahap. Nanti akan normal kembali. Tunggu saja. Pulanglah ke hotel. Begitu kata dokter.

Saya pun meninggalkan rumah sakit Madinah. Entah apa nama rumah sakit itu. Badan masih sakit. Lemas. Saya dipapah Azrul dan Tatang.

Sempoyongan.

Tiba di lobi hotel perut saya bergejolak. Mungkin akibat zig-zag di dalam taksi. Tapi berhasil naik lift.

Tiba di lorong menuju kamar, tiba-tiba saya muntah. Luar biasa banyak. Di atas karpet yang empuk dan tebal. Seisi perut seperti tumpah semua.

Muntah itu membuat saya merasa lega. Perut tidak lagi sesek. Saya bisa lebih mudah bernafas. Tidak harus lagi selalu dalam posisi menengadah. Istri memandikan saya dengan sisa minyak kayu putih. Isna memberi saya minum air hangat.

Habis muntah saya kian lemas. Tapi saya bisa berbaring. Bisa bernafas dalam posisi berbaring. Maka saya tergolek di tempat tidur. Dada masih nyeri sekali. Punggung masih sakit sekali. Hanya perut tidak lagi sesek.

Sampai di sini fokus sakit saya masih di seputar pencernaan. Tidak ada kecurigaan ke yang lain. Apalagi ke saluran darah utama yang robek.

Saya terus terngiang kata-kata dokter: nanti akan sembuh sendiri. Berilah waktu pada pencernaan untuk bekerja secara alami.

***** Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu

Saya sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) ke skala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan dibanding skala 9.

Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00 WAS. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan.

Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.

Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur.

Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.

Selebihnya harus berangkat ke Makkah. Terutama Azrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istri Azrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.

Tatang, suami Isna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umrah mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.

Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bisa cepat.

Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umrah. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya…ya…ya.

Sakit saya masih datang pergi. Pergi datang.

Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk RS di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya.

Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara.

Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit.

“Tidak mungkin kalau malam ini,” jawab saya.

“Tidak kuat.”

Isna kembali utak-atik handphone.

“Besok malam ada?” tanya saya.

“Ada juga,” jawab Isna.

“Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya.

“Anda nyusul ke Makkah.”

Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bisa pulang dengan kondisi seperti ini?

Berulang-ulang saya yakinkan bahwa saya akan bisa sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.

Isna mencoba ngotot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedang saya, seberapa sakit pun, adalah ‘anak besar’.

Malam itu Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.

Tapi Isna menemukan kontak lain: rombongan dokter dari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus Parama Bambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra Putera Lubis.

Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umrah itu: Prof Rowena G. Hoesin, dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebis dan dr Irfani Prajna Paramita.

Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokter seadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman.

Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah.

Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baik saya di Singapura. Robert lah yang paling tahu riwayat kesehatan saya. Robert lah yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.

Robert lah yang merawat saya hampir dua tahun saat saya sakit kanker hati dulu. Robert lah yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.

Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.

Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Toh ini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.

Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan.

Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (bersambung)

Rekomendasi Berita