oleh

Merasa Kecewa

WARGA yang menempati lahan Perum Damri sebagian besar mengerti (merelakan,red), kalau tanah itu bukan milik mereka. Namun sebagian dari mereka cukup menyayangkan kerugian materil karena sudah membangun rumah atau tempat usaha.

Hj Erlinda (45) misalnya. Pemilik Cafe Bengkel Perut yang dibangun di lahan Perum Damri ini mengaku kecewa sekaligus ngeri menyaksikan proses eksekusi kemarin.

“Uang kami di laci Rp 500 ribu hilang, laptop kami juga dirampas petugas. Nilainya sekitar Rp 2 juta. Itu isinya data-data untuk tugas saya,” terang Kepala SMPN 4 Lubuklinggau ini.

Bahkan empat motor yang terparkir di Cafe Bengkel Perut juga rusak.

“Kami tidak tahu. Apa begini cara eksekusi yang benar itu. Ada empat motor yang ada di sekitaran Bengkel Perut dirusak spion, juga lampunya. Belum lagi televisi juga dihancurkan. Kami kecewa dengan yang begini. Kalau ditotal-total kerugian kami sampai Rp 300 jutaan. Karena untuk beli lahan ini saja, saya menghabiskan uang Rp 60 juta,” jelas Hj Erlinda.

Kemarin, tempat usaha yang dijalankan putranya Galih (26) juga turut dieksekusi sebagian. Dan sebagian lagi dijadwalkan akan dieksekusi besok siang (hari ini,red).

“Akibat kejadian ini, otomatis 15 karyawan kami kehilangan pekerjaannya. Mereka semua tanya ke kami harus bagaimana. Kami minta pada mereka untuk bersabar. Dan berdoa semoga diberi kemudahan untuk membangun usaha lagi,” jelas Erlinda.

Ia juga sempat menceritakan awal mula bisa membeli lahan Perum Damri tersebut.

“Awalnya tahun 2013 itu, ada teman saya menawari kavlingan di lahan ini (Perum Damri,red). Awalnya saya sudah sangsi, lahan ini bermasalah. Kalau dari harga tidak murah. Per kavling Rp 30 juta. Tadinya saya mau ambil satu kavling saja. Tapi katanya ada kavlingan satu lagi kosong. Dan dari si penawar Dayat yang mengaku orang kepercayaan ahli waris, katanya bisa dikredit. Dia juga bilang status lahan ini pinjam pakai oleh Perum Damri. Makanya tidak lebih dari satu minggu, saya langsung bayar Rp 30 juta untuk kavlingan satu. Nah, yang kavlingan satunya lagi saya DP Rp 7 juta. Luas dua kavling tanah yang kami beli ini 20×20 Meter. Pembayarannya di tempat notaris Hariyanto,” terangnya.

Setelah pelunasan satu kavling itu, Erlinda menerima SPH (Surat Pengakuan Hak) yang diterbitkan Notaris Hariyanto.

“Dengan memegang SPH itu, saya berpikir lagi, artinya tanah ini benar tidak bermasalah. Dan saya punya kekuatan. Karena yang mengeluarkan ini sudah notaris. Saya juga tidak sempat mengecek ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Tapi tak berapa lama, saya dengar lagi tentang masalah lahan ini. Nah, saat saya tanya-tanya, dari Aliansi Indonesia Provinsi Sumatera Selatan itu menjanjikan 2018 kami dapat sertifikat. Lalu Om Benny (Syarbeny,red) mengurus ke Jakarta. Sepulang dari Jakarta dia langsung menemui saya. Dia lalu bilang ‘aman buk’ begitu. Om Benny menginformasikan, ternyata memang pembuatan sertifikat tanah itu memang penuh dengan rekayasa. Lalu saya tanya ke dia, masalahnya apa? Menurutnya, ada yang menghilangkan alat dasar surat asli dari ahli waris itu. Informasi ini membuat saya lega. Insya Allah tanah kita selamat. Begitu saya bilang ke dia,” tutur Erlinda.

Dua minggu lalu, ketika Erlinda tahu Benny ke Jakarta lagi, ia pun berusaha untuk mendapat informasi terbaru tentang lahan tempat usahanya ini.

“Saya tanya ke beliau, gimana om surat tanah yang sah ini. Dia cuma bilang tunggulah dulu, kita sama-sama berdoa bae. Itu kata Om Benny. Nah, terakhir saat peringatan Hari Guru Nasional di STKIP-PGRI 27 November 2017, saya ketemu teman. Dia bilang bahwa tanah saya jadi mau dieksekusi. Saya sempat tanya kenapa? Saya juga sempat tanya Om Benny, dia jawab tidak (tidak ada eksekusi,red). Namun, Rabu 13 Desember 2017, ada yang bilang dapat surat dari Pengadilan Negeri Lubuklinggau perihal pemberitahuan bakal ada eksekusi itu. Saya sempat tanya ke Om Benny, dia bilang jangan diambil. Karena status tanah itu tetap atas nama Dayat. Kebetulan nama kami belum ada. Yang ada si Dayat. Atas nama Dayat.

Kebetulan Aliansi Indonesia Provinsi Sumatera Selatan sepertinya bertanggung jawab. Jadi saya tenang saja,” imbuhnya.

Ternyata, Erlinda tak menyangka kemarin, hal yang dirisaukannya beberapa bulan terakhir ini (eksekusi,red) justru jadi kenyataan.

“Bengkel Perut belum seluruhnya dirobohkan. Besok sampai pukul 11.00 WIB, kami diperintahkan untuk membongkar sendiri. Jadi masih ada kesempatan menyelamatkan papan-papan yang bisa digunakan,” imbuhnya. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita