oleh

Menyesal Menikah Lagi

Nama saya sebut saja Ratu (35). Saya berasal dari Kecamatan Lubuklinggau Barat II. Untuk pembaca tahu, aku ibu dari dua orang putra. Setahun lalu aku memiliki segalanya, dua orang putra yang tampan, rumah yang megah dan indah, dan suami sekaligus ayah yang baik hati untuk aku dan anak-anakku.

Saya juga mampu mengatur segala keperluan rumah tangga. Meski begitu, ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri, saya merasa ada yang salah dengan pernikahan yang saya jalani. Di mana saya selalu merasa kesepian dan tidak bahagia.

Saya bertemu dengan ayah dan anak-anak saat berusia 17 tahun. Dia 4 tahun lebih tua dari saya, dan ia tampak sudah terlihat sangat baik dan pekerja keras.

Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah, jadi saya menilai menikah dengannya terasa sangat tepat. Setelah lulus kuliah dan memiliki kekasih yang tepat, langkah selanjutnya tentu saja menikah.

Dia sudah sangat siap menjadi seorang suami sehingga terjadilah pernikahan kami yang berjalan dengan baik. Kami akhirnya memiliki dua orang anak. Semuanya terlihat sangat sempurna saat itu.

Setelah anak kedua lahir, barulah saya merasakan perubahan. Saya mulai tidak menyukai diri saya sendiri, sebagai seorang istri dan ibu. Saya merasa ada yang kurang, tidak bahagia, dan kesepian seperti tidak di hiraukan oleh suami saya.

Padahal selama ini saya sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang sempurna. Jadi rasanya wajar jika saya ingin mendapat pengakuan dan dihargai oleh suami. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, dan ujung-ujungnya saya harus menelan kekecewaan.

Saya dan suami hanya berkomunikasi untuk membicarakan masalah keperluan rumah dan anak-anak. Jangankan pergi bersama, di ajak berdiskusi pun tidak mau. Kesepian itu seolah memaksa untuk membenci sosok ayah dari anak-anak saya.

Lalu dari situlah semuanya berasal aku mulai berpikir tidak keruan akhirnya datang seorang pria, dan kami berkomunikasi setiap hari dan menjadi teman baik. Saya bisa menjadi diri saya sendiri saat bersamanya. Dia bahkan menyukai hal-hal dalam diri saya yang tidak disukai suami saya.

Namun ada satu masalah, ia sudah menikah, begitu pun saya yang juga sudah memiliki dua orang anak dari suami saya dan akhirnya kami saling mencintai.

Disini awal dari segalanya saya mengajukan perceraian terhadap suami saya dan semua berjalan lancar tanpa  permasalahan dari suami saya. Singkat cerita, saya sudah bercerai, namun dia belum. Tapi kami tetap membicarakan tentang rencana masa depan, dan betapa bahagianya kami nanti.

Dan akhirnya kami pun menikah, namun naas nasib saya baru beberapa bulan menikah saya pun ditinggal suami saya, di sana saya merasa hancur dan berpikir apa salah dan dosa yang pernah saya lakukan, saya pun menggugat dan menjadi seorang janda kembali.(19)

Komentar

Rekomendasi Berita