oleh

Menggunakan Pena dan Kertas Selembar, Bos Parno Menulis Nama Perusahaan Linggau Pos

Oleh: Solihin

Hingga awal 2000, oplah Sumatera Ekspres di Kabupaten Musi Rawas (Mura) 6.000 hingga 8.000 eksemplar per hari. Tingginya jumlah koran Sumatera Ekspres dikirim ke Lubuklinggau berdasarkan orderan (permintaan) agen.

Tapi masyarakat belum puas juga dengan kehadiran Sumatera Ekspres. Mengapa? Karena untuk mendapatkan Koran Sumatera Ekspres secara cepat (pagi hari) belum bisa terpenuhi.

Bukan hanya itu, jumlah berita dari Mura
yang ada di Sumatera Ekspres sangat sedikit, walaupun saat itu Sumatera Ekspres terbit 16 hingga 20 halaman.

Sedikitnya porsi berita dari Mura, karena harus berbagi pemuatan berita dari daerah lain, yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Komering Ulu (OKU), Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Mura dan Banyuasin.

Sementara jatah berita untuk daerah hanya dua halaman, dan satu halaman BOM. Itupun terkadang dipenuhi iklan.

Tidak bisa terpenuhinya harapan masyarakat Mura untuk membaca Sumatera Ekspres pagi hari juga karena koran ini diangkut mobil, lewat jalur Palembang-Prabumulih-Muara
Enim-Lahat-Lubuklinggau.

Sebab, jalur Palembang-Sekayu-Lubuklinggau belum memungkinkan untuk dilewati kendaraan roda empat. Akibatnya, koran Sumatera Ekspres sampai di Lubuklinggau paling cepat pukul 10.00 WIB.

Jadi untuk sampai di daerah kecamatan dalam wilayah Kabupaten Mura bisa pukul 17.00 WIB bahkan esok hari. Karena koran dikirim lewat angkutan pedesaan (angdes). Begitupun seandainya ada koran dari daerah lain, seperti Provinsi Jambi yang hendak didistribusikan ke Lubuklinggau, butuh waktu lima jam proses pengantaran.

Bahkan jika ada koran dari Provinsi Bengkulu untuk bisa sampai ke Lubuklinggau butuh waktu empat jam. Jadi sangat tidak memungkinkan masyarakat Lubuklinggau dan sekitarnya bisa membaca koran harian di pagi hari (06.00 – 07.00 WIB).

Melihat kondisi ini, Bos Parno punya pemikiran Kabupaten Mura memiliki peluang untuk dibuat koran lokal tersendiri. Karena kebutuhan informasi masyarakat di Mura sangat tinggi.

Sementara koran Sumatera Ekspres tidak mungkin memuat semua berita yang dikirim wartawan daerah, dikarenakan jumlah halaman terbatas.

Lalu koran Sumatera Ekspres tidak akan bisa sampai pagi-pagi hari di Lubuklinggau, disamping jaraknya jauh juga kondisi jalan saat itu belum begitu baik, dan risiko di jalan sangat tinggi.

Bos Parno sangat memahami semua ini. Karena hampir setiap bulan, Bos Parno ke Lubuklinggau. Walaupun jadwalnya tidak tetap, Bos Parno rutin mendatangi kantor koran yang ada di Sumbagsel.

Diantaranya, di Provinsi Bengkulu ada kantor Rakyat Bengkulu dan Bengkulu Ekspres. Di Palembang, Sumatera Ekspres dan Palembang Pos. Kemudian di Jambi, Koran Independen dan Jambi Ekspres. Di Lampung, Radar Lampung dan Lampung Ekspres.

Jadi setiap Bos Parno dari Bengkulu mau ke Palembang atau Jambi dan sebaliknya, ketika lewat darat pasti bermalam di Kota Lubuklinggau. Dan setiap datang ke Lubuklinggau menginap di Hotel Royal.

Saat Bos Parno datang ke Lubuklinggau
saya pasti diteleponnya, kalau bukan Bos Parno yang nelepon, pasti disuruhnya Tohir (yang biasa jadi sopir). Bos Parno, sangat dekat dengan setiap karyawan yang dikenalnya, dan tidak ada batasan atau jaga jarak. Bos Parno sangat terbuka dan low profile (sederhana).

Saat Bos Parno menginap di Hotel Royal Lubuklinggau, saya langsung bisa masuk ke kamarnya. Di kamar itulah Bos Parno menanyakan perkembangan koran (Sumatera Ekspres) di Mura.

Dari situlah Bos Parno menyampaikan ide untuk mendirikan koran lokal. Idenya ini disampaikannya pada unsur pimpinan koran yang ada di Sumbagsel.

Terkadang rencana pembuatan koran di Mura ini disampaikannya dalam rapat Jawa Pos Group di Sumbagsel.

Maka awal Desember 2000, Bos Parno minta saya untuk mencari rumah atau Rumah Toko (Ruko) untuk kantor. Tetapi Bos Parno minta rumah/Ruko yang akan dijadikan bakal kantor harus di Jalan Yos Sudarso.

Setelah ada Ruko yang bakal disewa untuk kantor, saya sampaikan kepada Bos Parno saat itu sedang di Bengkulu. Mendapat informasi itu Bos Parno langsung ke Lubuklinggau. Sampai di
Lubuklinggau, dia mengajak saya untuk melihat Ruko dua pintu di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Jawa Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II.

Saat ini berseberangan dengan kantor Bank Syariah Indonesia Lubuklinggau. Sebelah kanan Ruko ini ada loket SAN Travel, berjarak lebih kurang 20 meter. Dari Ruko dua pintu inilah, satu pintu sudah digunakan oleh pemiliknya usaha rumah makan.

Sampai sekarang Ruko yang dijadikan kantor pertama Harian Pagi Linggau Pos, belum ada perubahan (renovasi), kini jadi tempat usaha Bakso Solo.

Setelah Bos Parno melihat Ruko itu, dia menyatakan setuju dan mengajak saya untuk menemui pemilik Ruko. Setelah, bertemu dengan pemilik Ruko, Bos Parno setuju dengan harga sewa Rp6 juta per tahun.

Lalu Bos Parno membayar uang muka sebagai tanda jadi, dan ruko itu disewa selama tiga tahun. Mengapa Ruko itu disewa tiga tahun? Menurut Bos Parno, untuk melihat perusahaan surat kabar itu bisa hidup atau tidak, jangka waktunya tiga tahun.

Awal Januari 2001, dimulailah pembersihan dan pemasangan jaringan listrik, dan pembelian meja dan kursi untuk redaksi. Untuk merangkai jaringan komputer wartawan connect ke server komputer pracetak dikerjakan Rahman (sekarang Pimpinan Perusahaan Radar Lampung).

Selanjutnya pengurusan izin, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Surat Izin Tempat Usaha (SITU), dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Sebelum mengurus izin ini, harus ada dulu Akta Pendirian Usaha.

Saat akan membuat Akta Pendirian Perusahaan ini, Bos Parno berdiskusi dengan saya untuk membuat nama perusahaan dan nama koran. Dengan menggunakan pena Pilot harga Rp1.000 dan selembar kertas HVS, Bos Parno mulai menulis nama perusahaan penerbit.

“Gimana Dek, kalau nama PT penerbit koran baru ini PT Wahana Semesta Linggau, untuk nama korannya Harian Pagi Linggau Pos?” tanya Bos Parno. “Setuju Pak,” jawab saya.

Mengapa koran yang akan dibuat ini diberi nama Linggau Pos?

Pertama, alasan Bos Parno bahwa Kantor Linggau Pos terletak di Kota Lubuklinggau. Kedua, saat itu Undang-Undang (UU) Pembentukan Kota Administratif menjadi daerah otonomi baru (pembentukan Pemerintahan Kota Lubuklinggau) pemekaran dari Kabupaten Mura tinggal menunggu persetujuan DPR RI.

Dengan demikian, Linggau Pos salah satu koran lokal, yang aktif menyosialisasikan, ikut memberi semangat masyarakat daerah ini secepatnya terbentuk daerah otonomi baru, yakni Pemerintahan Kota Lubuklinggau. (Bersambung)

Rekomendasi Berita