oleh

Mengenal Keunikan Satam Belitong, Warisan Geologi Dunia Setelah Timah

LINGGAUPOS.CO.ID- Penyematan status Belitong UNESCO Global Geopark (UGG) tidak terlepas dari dukungan keunikan warisan geologi dunia, yang terdapat di Negeri Laskar Pelangi. Salah satunya adalah batu Satam, warisan geologi dunia yang ada di bumi Belitong setelah timah.

Satam begitu istimewa karena satu-satunya di dunia hanya ditemukan di Pulau Belitong. Bukan hanya sekedar batu perhiasan cinderamata khas dari pulau yang sudah menjadi destinasi wisata kelas dunia ini.

Ahli Geologi asal Belitong Veri Yadi, Msc, MCSM, yang juga mantan Konsultan Geopark Belitong, memberikan penjelasan tentang sejarah proses pembentukan dan penemuan batu satam tersebut.

Sebelum tentang Satam, Veri memaparkan timah di Pulau Belitong telah berjalan hampir dua abad. Bahkan membuat Belitong terkenal se antero dunia sebagai pulau penghasil timah. Di masa kejayaannya di awal tahun 1980an timah mencapai harga sekitar US$ 16.000 per ton atau setara dengan US$ 50.000 per ton apabila menggunakan nilai uang saat ini.

Veri mengatakan, peran timah baik melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT. Timah maupun swasta seperti perusahaan Australia PT. Broken Hill Proprietary Indonesia (BHPI) sangat dominan menggerakkan perekonomian Pulau Belitong.

Menurutnya, hampir sebagian besar penduduk Pulau Belitong bergantung pada sektor ini dan sektor niaga pun terimbas dari kejayaan timah tersebut. Timah sendiri merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang merupakan kekayaan alam berupa mineral ekonomis yang terkandung di tanah Belitong.

Secara geologi jalur timah ini memanjang dari daratan Cina Selatan terhubung dengan semenanjung Malaka sampai ke Karimun, Bangka, Belitong dan bagian barat Kalimantan. Sumberdaya geologi berupa mineral timah ini merupakan kekayaan alam yang mendunia, serta sangat dekat dengan perkembangan peradaban di Pulau Belitong.

Selain kekayaan geologi mineral timah, kata Veri Belitong juga memiliki warisan geologi bernilai internasional berupa Satam (Billitonite). Warisan geologi merupakan komponen yang diperkenalkan sebagai “Geological Context” menurut Wimbledon, dkk (1999).

Sedangkan penilaian keinternasionalan tersebut berdasarkan kriteria yang di usulkan oleh Professor José Brilha yang merupakan professor jurusan ilmu kebumian di Universidad Minho di Portugal. Professor Brilha memaparkan 5 kriteria untuk menilai tingkatan warisan geologi. Yaitu representativeness berupa keberadaan warisan itu sebagai contoh suatu peristiwa geologi, rarity berupa kelangkaan dari warisan geologi itu.

“Integrity menjelaskan upaya perlindungan, key locality sebagai referensi geologi internasional dan scientific knowledge berupa riset ilmiah,” terang Veri yang saat ini sedang menempuh pendidikan S3 Geologi di University of the Witwatersrand, Johannesburg, South Africa, kepada Belitong Ekspres.

Untuk itu, secara Geological Context maka Satam bisa masuk kategori astrobleme berupa dampak dari jatuhnya meteor. Kemudian, untuk menguji nilai internasional, maka 5 kriteria Professor Brilha menjadi alat ukur yang diakui oleh International Union of Geological Science (IUGS). Dan poin yang paling menonjol adalah Satam merupakan impact meteorite 700 ribu tahun lalu yang merupakan bagian dari The Australasian Tektites Strewn Field.

Satam tersebut karena memiliki keunikan baik dari morfologi maupun kimiawi dari sehingga bagian dari sub tipe The Australasian Tektites Strewn Field Bersama dengan tektites lainnya di kawasan ini seperti Muong Nong, Indochinite, Philipinite, Australite dan Tasmanite.

“Dengan sangat langkanya keberadaan Satam (rarity) di dunia serta merupakan contoh suatu sub tipe tektites (representativeness), maka nilai satam memiliki nilai geologi internasional yang sangat tinggi. “Karena itu, satam merupakan warisan geologi dunia yang di miliki bumi Belitong,” ujar Veri.

Sejarah dan Keterjadian Satam

Satam berasal dari Bahasa Cina Kek (sa: pasir dan tam: empedu), dimana pertama kali ditemukan pekerja tambang pencucian timah yang didatangkan dari cina daratan. Laporan ini dirangkum oleh Van Dijk tahun 1879 yang kemudian diberi nama intam hitam (black diamond).

Penelitian tentang Satam sangat intensif dilakukan oleh Ye. S. Burkser, dkk tahun 1960. Dari 3 sampel, didapatkan kandungan kimia dari satam tersebut. Dr. F. P. Mueller melakukan penelitian di wilayah koloni Inggris di Borneo dan melaporkan sebaran Satam tersebut.

Dalam laporannya yang disimpan di British Museum, Mueller mengilustrasikan sebaran satam yang mana pertama kali dan paling banyak ditemukan di Belitong, sehingga di namakan Billitonite. Sebaran Satam tersebut juga ditemukan Gunung Muria di Jawa Tengah, Pleihard dan Sungai Riam di Selatan Kalimantan, Natuna, Pahang dan Negeri Sembilan.

Lulusan Mining Engineering Universitas Triksati, Jakarta, tahun 2004 itu menjelaskan, penemuan Satam ini dikarenakan oleh banyaknya penambangan timah alluvial di Belitong seperti penemuan Australite di Australia oleh penambang emas alluvial. Satam sendiri terbentuk akibat impact dari meteor dengan kecepatan tinggi menghantam permukaan bumi dengan bobot 100 juta ton.

“Hantaman dengan kecepatan tinggi ke permukaan bumi melemparkan material ke angkasa berupa langsung pecah tanpa melebur (layered form tektites), sebagian sempat melebur (splash-form tektites), bagian dari splash-form yang melebur dan membeku karena terubah oleh kikisan atmosfer (ablated-form tektites), serta mikrotektites berupa tektites splash-form dengan ukuran lebih kecil dari 1mm (Glass, 1984),” papar Veri.

Kemudian, dia memaparkan peristiwa meteor menghantam bumi dan menghasilkan tektites di dunia dengan lokasi sebarannya di kenal dengan Strewn Fields. Ada 4 strewn field yang dikenal di dunia: 1) North American, 2) Central European, 3) Ivory Coast, dan 4) Australasian. Satam sendiri masuk bagian Australasian yang merupakan peristiwa benturan termuda dengan sebaran paling terbesar di dunia.

Sebaran dengan ciri morfologi dan kandungan kimia yang unik menjadikan satam memiliki klasifikasi sendiri sebagai bagian dari sub-Australasian. Saat es mulai mencair 20 ribu tahun lalu jaman Pleistosene Akhir, material satam dan timah sebagai material berat tertransportasi ke lembah – lembah purba.

Yakni, berupa kanal dimana kanal tersebut terbentuk akibat peristiwa divergen yang terjadi intensif di Sundaland pada masa Oligosen (34 – 23 juta tahun). Material yang melapuk secara intensif pada masa Miosen (23 – 5.5 juta tahun) terbawa bersamaan dengan satam dengan timah tersebut. Sehingga penemuan satam bersamaan dengan penambangan timah alluvial di lembah – lembah purba.

Konservasi dan Edukasi Satam

Veri mencontohkan salah satu upaya menjaga nilai warisan dunia serta memberikan pemahaman tersebut kepada masyarakat serta nantinya berdampak terhadap sosial ekonomi. Seperti pemuda Desa Sukamandi berinisiatif membangun geosite yang mengangkat tema satam tersebut sebagai pengetahuan dan geowisata.

Adapun kawasan geosite tersebut dinamakan Garumedang Tektites Geosite yang terletak di Dusun Garumedang, Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur. Penambahan “Tektites’ bertujuan memberikan penekanan warisan geologi yang di angkat pada lokasi tersebut sebagai tema untuk menarik pengunjung.

Teori ini seperti dipaparkan Professor Brilha dengan memberikan contoh “Denver Dinosaurs” untuk memberikan pemahaman kepada pengunjung akan kekuatan geologi di kawasan tersebut. Tektites sendiri berasal dari Bahasa Bahasa Yunani “Tektos” yang berarti material lebur (molten).

“Di Geosite ini akan ditemukan proses terjadinya satam, sejarah penemuan satam serta serta dampak perubahan iklim global akibat dampak dari jatuhnya meteor dan punahnya sejumah kehidupan paska peritiwa tersebut,” sebut pria kelahiran Damar Kabupaten Beltim itu.

Dia melanjutkan, paparan tersebut dapat ditemukan pada interpretative panel yang berada di dalam Visitor Center. Dengan mengangkat tema satam tersebut, maka selain pemaparan tentang keterjadian satam, Geosite Garumedang juga menawarkan geowista menyusuri lansekap. Dimana satam ditemukan yang sangat erat kaitannya dengan penambangan timah alluvial. Proses pengendapan satam bersamaan dengan mencairnya es di jaman Pleistosen di kawasan Sundaland.

Dengan demikian, atraksi yang disiapkan sangat berkenaan dengan keterdapatan satam tersebut dengan timah seperti GeoWalking Trail menyusur kawasan hutan alluvial tempat pengendapan satam, susur alur sungai bekas tambang dengan sampan serta anthropogenic lapisan tanah. Dimana satam ditemukan serta demonstrasi proses pencucian timah (tin dressing).

Oleh karenanya, dengan memberikan edukasi yang intensif tentang warisan geologi dunia yang ada di Pulau Belitong, maka akan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan geologi tersebut.

“Keberadaan warisan geologi yang diajarkan selain menjaga kelestarian warisan tersebut, juga diharapkan meningkatkan nilai ekonomi dengan banyaknya pengunjung yang datang untuk mengeksplor dan ingin tahu tentang warisan geologi dunia tersebut,” tandas Veri.(*) 

Sumber: belitongekspres.co.id

Rekomendasi Berita