oleh

Medsos Dongkrak Peningkatan Kasus Anak

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Tiga tahun terakhir, tindak kriminal yang melibatkan anak bawah umur terus menunjukkan peningkatan. Hal ini diungkapkan Kapolres Musi Rawas (Mura), AKBP Bayu Dewantoro melalui Kasat Reskrim, AKP Wahyu Setyo Pranoto, Minggu (20/5).

Ia menjabarkan, tahun 2016 hanya tiga kasus kriminalitas yang melibatkan anak terjadi. Lalu tahun 2017, hanya delapan kasus. Namun pada tahun 2018, baru empat bulan (Januari-April,red) ada 15 kasus yang melibatkan anak bawah umur.

AKP Wahyu Setyo berpendapat, salah satu penyebabnya adalah Media Sosial (Medsos).

“Semakin berkembangnya Medsos, maka itu berpengaruh terhadap aksi kejahatan yang melibatkan anak. Salah satu contoh akibat Medsos, anak-anak bisa terpengaruh berbuat asusila akibat menonton video porno yang tersebar dijaring Medsos. Kemudian, nekat melakukan kekerasan bahkan mencuri, jambret korban karena ingin mendapatkan uang dengan mudah untuk membeli narkoba,” paparnya.

Jujur saja, kata dia, tidak jarang anak bawah umur terlibat dengan penyalahgunaan narkoba.

Meski begitu, anak bawah umur terlibat dengan perkara tetap akan diproses secara hukum sesuai pasal 81 ayat 1 Undang-Undang (UU) RI Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun dan denda Rp 5 miliar.

“Maka dari itu, sudah jelas apabila terlibat dengan perkara hukum akan tetap diproses,” ucap Kasat Reskrim.

**Amankan Empat Anak

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar melalui Kasat Reskrim, AKP Wahyu Maduransah mengatakan setidaknya ada empat perkara yang melibatkan anak-anak bawah umur pada Mei 2018.

Menurut Kasat Reskrim, mayoritas tindak pidana yang melibatkan anak umur 17 tahun ke bawah itu adalah Pencurian dengan Pemberatan (Curat) dan pengeroyokan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap para pelaku motif mereka melakukan tindak pidana hanya ikut-ikutan untuk perkara pidana Curat. Sementara untuk tindak pidana pengeroyokan, rata-rata terjadinya karena jiwa korsa yang negatif, atau setia kawan.

Bahkan dilanjutkan Kasat, berdasarkan pengelamannya sebagai penegak hukum, ada beberapa anak-anak yang tidak tahu kalau perbuatan yang dilakukannya dapat menyeret ke jeruji besi, akibat belum mengerti tentang hukum. Maka ia menjelaskan dibutuhkan peran serta semua pihak dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak, terutama lingkungan keluarga.

“Kepala keluarga harus memberikan pendidikan ke anak, mengenai akibat melakukan tindak pidana. Sehingga, anak dapat memahami bahaya yang akan diterimanya ketika coba-coba untuk melakukan tindak pidana” katanya.

Terpisah, Pengamat Hukum asal Kota Palembang, DR Rahmat Setiawan menjelaskan terjadinya tindak pidana yang melibatkan anak-anak, akibat salah pergaulan. Sebab rata-rata motif anak-anak melakukan tindak pidana hanya ingin mencari jati diri, ingin dikatakan hebat dan kuat, sehingga melakukan perbuatan melawan hukum.

Untuk menghindari hal itu dibutuhkan kepedulian semua pihak dimulai dari lingkungan keluarga, sebab intensitas anak lebih banyak di lingkungan keluarga.

“Sebenarnya, bila setiap kepala keluarga peduli dengan anggotanya, pengaruh dari pergaulan dan lingkungan sekitar rumah bisa dinetralisir. Tapi, bila kepala keluarganya cuek, pengaruh dari luar akan mendominasi pertumbuhan anak,” imbuhnya.

Kemudian, kepedulian lingkungan juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang sang anak, sebab bila lingkungan acuh tak acuh atau cuek, maka di lingkungan itu anak-anaknya kurang supan terhadap orang tua. Bahkan, bisa saja ada anak-anak yang tidak menghargai orang lebih tua darinya, semua itu terjadi akibat masyarakatnya tidak peduli terhadap lingkungan. (01/03)

Rekomendasi Berita