oleh

Media Massa Masih Dipercaya Oleh Publik, Namun Jangan Lengah

LINGGAUPOS.CO.ID – Wakil Ketua Dewan Pers Hendry CH Bangun menegaskan bahwa di Indonesia, publik masih mempercayai media massa, baik itu online, cetak dan elektronik. Hal ini dijelaskannya dalam seminar Forum Silaturahmi Media Online se Sumatera Selatan di Lubuklinggau, Rabu (2/6/2021).

Ia mengatakan berdasarkan survey Einderman di 2021, secara global terjadi penurunan tingkat kepercayaan terhadap media tradisional. Begitu juga terhadap media sosial ada penurunan kepercayaan secara global, dari 43 pada 2019 tinggal 35 pada 2021.

Namun di Indonesia, kepercayaan terhadap media tinggi mencapai angka 72. Bahkan lebih tinggi dari pemerintah (70), LSM (68), tapi kalah dari dunia bisnis (73).

Selain itu Dewan Pers sendiri dikatakan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry CH Bangun bahwa Dewan Pers dan Universitas Prof Dr Moestopo yang dirilis pada 2019, bahwa sumber informasi pertama responden adalah media online (41,70 persen), baru kemudian WA (22,75 persen), Instagram (13,70 persen), Facebook (12,65 persen), Televisi (11,08 persen), Twitter (4,7 persen), surat kabar harian (3,43 persen) dan Youtube (2,65 persen).

Namun, untuk memastikan kebenaran informasi pembaca di Indonesia masih membutuhkan media mainstream, setelah mendapatkan informasi dari media sosial.

“Namun jangan lengah. Karena kecenderungan saat ini, media justru membesarkan media sosial, sebaliknya mengecil media,” kata Wakil Ketua Dewan Pers ini.

Selain itu, ia menambahkan bahwa media online di Indonesia saat ini cenderung langgar kode etik, seperi tidak konfirmasi langsung, namun konfirmasi diberita berikutnya. “Makanya harus kreatif dan inovatif,” ia mengatakan.

Sementara itu Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus mengatakan bahwa kondisi saat ini sudah sejak lama menjadi kegelisahan masyarakat pers. Makanya mau tidak mau pers harus digitalisasi. (*)

Rekomendasi Berita