oleh

Mayoritas Korban Meninggal Pendatang

Sisi Lain Tikungan Tiga Beradik

Minggu (20/1) sekira pukul 09.30 WIB, Tikungan Kakak Beradik kembali ‘menelan’ korban. Lakalantas sebuah bus sekolah milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura) mengakibatkan seorang warga Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II meninggal.

Laporan Syamsul Maarif, Rejang Lebong

TIKUNGAN Tiga Beradik berada di Desa Suban Ayam, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong. Di lokasi ini, memang kerap terjadi Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas). Rata-rata korbannya merupakan kendaraan pendatang. Lantaran mereka belum hafal dengan kondisi jalan.

Lakalantas bus bermuatan 30 orang ibu-ibu pengajian Desa K Kali Bening, Kecamatan Tugumulyo itu masih menyisakan cerita bagi warga sekitar Tikungan Kakak Beradik. Selain adanya korban meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka dan mendapat perawatan di klinik terdekat dan RSUD Curup.

“Memang butuh konsentrasi dari pengemudi saat melintas di Tikungan Tiga Beradik. Kalau warga setempat rata-rata sudah paham lokasinya. Tapi belum tentu bagi pendatang,” tutur Kasat Lantas Polres Rejang Lebong, AKP Henry Hutasoit, Senin (21/1).

Menurut Henry, pengemudi yang datang dari luar Rejang Lebong diharapkan bisa memahami rambu-rambu yang tersedia sebelum Tikungan Tiga Beradik.

“Itu jalan provinsi, nanti kita koordinasi untuk penambahan rambu-rambu lalu lintas, maupun pagar pembatas di sekitar lokasi,” ungkap Henry.

Menurut Henry, selama dua minggu terakhir ada dua kecelakaan terjadi di kawasan tersebut. Sebuah mobil yang membawa duku terguling.

Lalu, jelas Henry, 2018 lalu juga, beberapa kecelakaan juga sering terjadi bahkan memakan korban jiwa.

Sementara itu, terkait Lakalantas Bus Sekolah milik Pemkab Mura, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.

“Untuk sopir masih kita minta keterangan, kita lihat dulu apakah ada unsur kelalaian atau hal lainnya,” kata Henry.

Terpisah, warga Suban Ayam Kecamatan Selupu Rejang, Damhuri mengakui, memang kerap terjadi kecelakaan terutama pada malam hari di Tikungan Tiga Beradik. Menurutnya, ini akibat minimnya penerangan atau lampu jalan.

“Memang kalau malam sering terjadi kecelakaan baik mobil maupun motor. Karena memang tikungannya tajam dan beruntun tiga kali, ditambah lampu jalanya mati, dulu sempat hidup sebentar tapi sekarang mati lagi,” tutur Damhuri.

Senada disampaikan Muhammad Antoni yang memiliki usaha counter handphone persis di Tikungan Tiga Beradik.

“Memang kalau penerangan lampu jalan minim, paling lampu dari rumah warga yang sedikit memberi penerangan kondisi jalan,” tutur Antoni.

Masih menurut dia, korban kecelakaan di tikungan tiga beradik memang rata-rata kendaraan yang datang dari arah Lubuklinggau sebab kondisi jalan sebelum di tikungan lurus kemudian menurun dan langsung menikung.

“Mungkin pengendara mengira tikungan hanya satu kali, tapi tikungannya ternyata tiga kali sehingga sulit dikendalikan apalagi sembari menurun, sehingga sering terjadi kecelakaan,” ceritanya.

Setahu dia, dalam dua bulan terakhir ada tiga kecelakaan.

Masih menurut Muhammad Antoni, lokasi itu dinamakan Tikungan Tiga Beradik karena kondisi tikungan tajam dan tiga kali tikungan secara bergantian.

“Dari atas turun ke kiri tikungan pertama, kemudian selang beberapa puluh meter tikungan ke kanan tikungan kedua dan tikungan ketiga berada di bawah membelok ke kiri lagi,” paparnya.

Ia berharap, dengan minimnya lampu penerangan jalan bisa segera diatasi oleh pihak terkait terutama pihak Provinsi Bengkulu lantaran jalan tersebut merupakan jalan provinsi. (*)

Rekomendasi Berita