oleh

Mayoritas Dipicu Dendam dan Sakit Hati

LINGGAU POS.CO.ID– Sedikitnya 13 kasus pembunuhan terjadi di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas (Mura) sepanjang 2019. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya hanya 7 kasus ditangani jajaran Polres Lubuklinggau dan Polres Mura.

Rinciannya pada 2018, Polres Mura menangani 3 kasus tindak pidana pembunuhan dan 6 kasus sepanjang 2019. Selanjutnya di wilayah hukum Polres Lubuklinggau pada 2018 hanya terjadi 4 kasus pembunuhan dan pada 2019 meningkat menjadi 7 kasus.

Kapolres Mura, AKBP Suhendro mengatakan untuk kasus pembunuhan motifnya mayoritas terduga pelaku dendam dengan korban. Untuk mengantisipasi kejadian serupa, kedepannya pihaknya akan mengedepankan Bhabinkamtibmas untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat serta pembinaan agar masyarakat sadar hukum.

Diakui Suhendro, rata-rata kasus pembunuhan terjadi pada tingkatan dewasa antara umur 20 tahun-40 tahun.

Terpisah Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono melalui Kasat Reskrim, Kompol Alex Andrian mengatakan kasus pembunuhan yang terjadi motifnya bermacam-macam. Mulai dari tersangka yang sakit hati hingga faktor ekonomi.

Untuk antisipasi kedepan, pihaknya sudah membentuk tim khusus Reskrim untuk patroli hunting. Mereka akan bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran hukum.

Diakuinya rata-rata kasus pembunuhan terjadi pada tingkatan anak-anak dan dewasa antara umur 15 tahun-40 tahun.

“Yang sering terjadi pada anak-anak yakni faktor sakit hati, dendam dan ekonomi,” ucapnya.

Terpisah Psikolog Irwan Tony saat dibincangi mengatakan, kasus pembunuhan sangat banyak faktornya. Mereka tergantung motif, tidak bisa berdiri sendiri.

Ia menjelaskan, ada faktor dari sisi psikologi seseorang yang melakukan pembunuhan secara spontan biasanya lebih ke personal kepribadiannya. Seperti antisosial, pendendam sehingga ketika ada masalah akan puas jika dengan kekerasan hingga pembunuhan.

“Tipe seperti ini, biasanya gampang tersinggung dan tidak melihat norma yang ada,” jelas Irwan Tony.

Ada juga dilanjutkan Irwan dengan motif kriminalitas.

“Kalau kasus dengan motif ini, biasanya tega membunuh untuk menghilangkan jejak. Mereka takut korban mengenali salah satu dari mereka, sehingga harus membunuh,” ungkapnya.

Ada juga kasus KDRT, ketersinggungan atau marah dengan pasangan. Serta ada juga yang sampai dikatakan sadististik. Biasanya lebih ke motif seksual yang tidak akan puas jika belum menyiksa korbannya.

“Selain itu ada juga faktor ekonomi yang sulit, serta faktor salah pergaulan untuk anak-anak remaja. Dan sejauh ini yang saya dengar, untuk di Lubuklinggau dan sekitarnya lebih banyak ke motif kriminalitas dan KDRT,” tambahnya.(*)

Artikel ini sudah terbit di Harian Pagi Linggau Pos dengan judul “Dipicu Dendam dan Sakit Hati”

Rekomendasi Berita