oleh

Masuk SD Minimal Usia 5,7 Tahun

Psikolog, Irwan Tony
“Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas I, karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi. ..”

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Anak usia di atas lima tahun tujuh bulan, diperbolehkan masuk SD. Kabar ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Lubuklinggau H Tamri melalui Kasi Kurikulum, Tarwan kepada Linggau Pos, Jumat (18/5).

“Usia 5,7 bulan itu minimal. Jadi ketika bulan Juli 2018, usia anak sudah 5,7 bulan, boleh masuk SD. Kalau usia anak masih di bawah itu, jangan dipaksakan. Sekalipun anak sudah bisa baca, tulis maupun berhitung (Calistung),” terang Tarwan.

Menurut Tarwan , hal ini dipertegas dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 17 Tahun 2017 terkait persyaratan ternyata anak usia 6 tahun bisa masuk SD.

“Jadi 6 tahun itu usia idealnya. Sebagaimana tertera pada Pasal 5 Permendikbud menyebutkan calon peserta didik baru yang berusia 7 tahun wajib diterima sebagai peserta didik. Sementara untuk calon peserta didik baru berusia paling rendah enam tahun pada 1 Juli tahun berjalan,” paparnya.

Tahun ini, ada 102 SD negeri dan swasta siap menampung murid baru. Penerimaan siswa baru sebagaimana jadwal pendidikan, diprediksi baru dilakukan Juli 2018 ini.

“Penting pula kami ingatkan, penerimaan murid SD ini tidak wajib pakai ijazah TK atau PAUD. Jadi kalau anak sudah usia tujuh tahun misalnya. Mau masuk SD, bisa. Dan SD wajib menerimanya. Karena belajar Calistung itu idealnya dilakukan di bangku kelas I SD,” imbuhnya lagi.

Ia juga memastikan, tidak ada biaya-biaya terkait pendaftaran murid SD, karena semua sudah di-handel dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Psikolog Irwan Tony menambahkan, ada alasan tertentu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan orang tua memperhatikan usia ideal anak masuk SD.

Karena, kata dia, pada usia 7 tahun, anak dianggap paling siap secara fisik. Untuk diam di kelas sampai siang.

“Selain itu, gerakan motorik anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk. Untuk memegang pensil misalnya, anak sudah lebih mampu jika harus menulis sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Sementara usia kurang dari 6 tahun terkadang belum siap, karena anak-anak usia ini masih suka bermain,” jelasnya.

Disamping itu, lanjut Irwan, dari aspek psikologis, dalam teori perkembangan, anak mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Semakin bertambah usianya, kemampuan konsentrasi meningkat, semakin mampu memilah materi mana yang harus diperhatikan dan yang harus diabaikan. Rentang konsentrasi untuk usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit.

“Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas I, karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi. Ia masih mengembangkan keterampilan geraknya. Akibatnya dia akan sulit berkonsentrasi, meskipun secara kemampuan intelektualnya dia sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan,” imbuhnya.

Lalu, ada juga aspek kognitif yang akan berpengaruh. Karena, lanjut alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, saat akan masuk ke SD anak diharapkan mampu membaca, menulis, berhitung sederhana. Selain itu anak juga diharapkan mampu mengikuti instruksi, paham dan bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan.

Terakhir, aspek emosi. Sebab, umumnya anak yang terlalu dini masuk SD memang cukup matang secara akademik. Namun biasanya kematangan emosi dan kemandiriannya belum maksimal.

“Padahal di jenjang SD anak tidak lagi akan mendapat perhatian seperti di TK. Ia diharapkan lebih mandiri dan juga tidak lagi terlalu tergantung pada orang tuanya. Jadi, masalah yang akan terlihat adalah anak bisa mengikuti pelajaran di sekolah, tapi di sisi lain, misalnya anak masih minta ditunggui bunda atau tidak berani pipis sendiri di toilet umum sekolah atau mudah menyerah terhadap tugas yang diberikan atau tidak mau mengerjakan PR karena masih lebih suka bermain dan sebagainya,” bebernya.

Melihat berbagai aspek tersebut, Irwan Tony menyarankan, sebaiknya orang tua jangan terlalu dini menyekolahkan anak, lihat kondisi anak. Karena tiap anak berbeda. Jika orang tua memang masih belum yakin memasukkan anak ke SD, bila perlu konsultasikan dengan psikolog anak apakah anak ayah bunda sudah siap atau belum memasuki SD.(02)

Rekomendasi Berita