oleh

Maskapai Penerbangan Kompak Turunkan Harga Tiket Pesawat

JAKARTA – Maskapai penerbangan di Tanah Air kompak menurunkan harga tiket pesawat. Kesepakatan ini diambil setelah pertemuan antara Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dengan seluruh direksi maskapai, di Jakarta, Minggu (13/1).

Di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carries Association (INACA), IGN Askhara Danadiputra, memastikan penurunan harga tiket pesawat di atas 20 persen.

“(Penurunan tiket pesawat) bervariatif mulai dari 30 sampai 60 persen. Yang pasti di atas 20 persen. Kita kembali ke harga normal sebelum Natal dan Tahun Baru,” katanya, kemarin.

Dengan adanya potongan harga tiket pesawat, menurut Air, maskapai penerbangan akan melakukan berbagai macam efisiensi di antaranya potongan harga dari Angkasa Pura I dan Angkasa Pura, serta dari Airnav Indonesia.

Ari mengungkapkan, pada Jumat lalu Garuda Indonesia telah menurunkan harga tket di enam rute. Kemudian Citilink di 33 rute, dan Lion Air 40 rute.

Harga tiket pesawat mahal disebabkan tiga hal, analisa Ari yakni bahan bakar avtur yang mencapai 4-50 persen, maintenance yang mencapai 20 persen menggunakan kurs dolar AS, dan 2 hingga 20 persen beban biaya airport.

“Komponen yang paling ebsar adalah fuel 40-50 persen. Jadi kita sudah dapat support dari BUMN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral untuk turunkan avtur khususnya di Jakarta,” jelas dia.

Karena itu, sambung Ari, kenaikan harga tiket pesawat tidak bisa dihindari. Ini bisa dilihat dari nilai rupiah terhadap dolar AS terus melemah hingga 107 persen dari periode 2016 hingga 2018. Diketahui transaksasi yang dilakukan maskapai menggunakan kurs dolar AS.

“Tarif maskapai sejak April 2016 sampai sekarang enggak ada kenaikan. Sementara yang lainnya naiknya sudah 100 persen,” tutur dia.

Dilansir dari data avtur bulanan (weekly) dari aeroportos.weebly.com, bahan bakar pesawat (jet fuel) di Changi Airport Singapura dijual 2.02 dolar AS per galon dan di Kuala Lumpur International Airport Malaysia ditetapkan 2,07 dolar AS per galon,

Sementara harga avtur di Suvarnabhumi International Airport Bangkok, Thailand, juga dijual lebih murah 2,10 dolar AS per galon.

Sedangkan di Indonesia, harga avtur di Bandara Internasioanal Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, pada Januari 2019 2,14 dolar AS per galon. Kemudian Bandara Juanda Surabaya 2,32 dolar AS per galon, Bandara Ngurah Rai Denpasar 2,37 per galon dolar AS, Bandara Kualanamu Sumatera Utara 2,41 dolar AS per galon.

Terkait tingginya harga tiket pesawat, Menteri Budi Karya Sumadi sebelumnya mengatakan, bahwa kenaikan tarif tiket pesawat sebenarnya masih di bawah tarif batas atas. Selama ini, kata dia, maskapai melakukan perang tarif dengan harga termurah. Nah begitu harga normal jadi langsung terasa.

“Kita secara umum, apa yang dilakukan itu masih di bawah tarif batas atas, memang selama ini mereka perang tarif, begitu harga normal seolah-olah tinggi. Namun demikian, saya memang mengajak mereka secara bijaksana melakukan kenaikan secara bertahap, kita lagi bicara,” kata Budi, Sabtu (12/1).

Usai rapat dengan Menteri Budi Karya, Direktur Utama Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ari Askhara, dan Direktur Utama Citilink Indonesia, Julianto Nurtjahjo mengaku akan mengikuti ketentuan dari pemerintah. “Semua ikut kebijakan (pemerintah),” katanya, kemarin.

Dalam keterangan pers yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (13/1), Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi merespons gonjang-ganjing kenaikan tarif pesawat akhir-akhir ini. Dia memberi beberapa catatan terkait hal itu.

Pertama, Kenaikan tarif yang dilakukan oleh maskapai besarannya memang terlalu menghentak prosentasenya, bisa mendekati 85 persen dari tarif biasanya. Tentu saja masyarakat syok.

Kedua, kenaikan terasa lebih berat lagi karena terakumulasi dengan bagasi berbayar oleh maskapai kategori low cost carrier (LCC). Bahkan bagasi berbayar besarannya bisa lebih mahal dari tarif tiketnya.

Oleh karena itu, saran dia jika maskapai mau menaikkan tarif idealnya menaikkan tarif secara bertahap, jangan terlalu signifikan besarannya. Sehingga masyarakat tidak syok seperti sekarang.

Selanjutnya kata dia, Kemenhub juga harus mengatur besaran bagasi berbayar. Jangan sampai besaran bagasi berbayar melampaui batas maksimum tarif pesawat dengan kategori medium service.

“Dan, pemerintah harus memberikan berbagai insentif pada industri penerbangan nasional. Agar tarif tetap terjangkau, sehingga tidak menganggu mobilitas dan perekonomian nasional. Dan khususnya sektor pariwisata. Ironis kan kalau warga Indonesia malah berwisata ke luar negeri karena tarif pesawatnya lebih murah,” pungkas dia.(din/fin)

Rekomendasi Berita