oleh

Masjid Tuo Kayu Jao Tertua Kedua di Indonesia

Islam dan Masjid Bersejarah di Pulau Sumatera (11)

Sebelumnya pembaca disuguhkan dengan sejarah Masjid Baiturrahman Aceh, dan masjid tua dan bersejarah di Kota Medan Sumatera Utara (Sumut), Minggu (27/5) akan mendapatkan informasi mengenai masjid kuno bersejarah di Bumi Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Berikut laporannya.

Dirangkum Oleh Solihin

MUNGKIN masih banyak masyarakat yang belum tahu masjid tertua di Provinsi Sumbar, apalagi masyarakat di luar tanah Minangkabau? Masjid tertua bisa saja Masjid Raya Gantiang. Tapi ternyata masih kurang tepat.

Lalu, masjid mana yang tertua di Kota Padang?

Jawabannya, yakni Masjid Tuo Kayu Jao yang berada di Kanagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Konon katanya masjid ini adalah masjid tertua kedua di Indonesia dan berdiri sekitar tahun 1599.

Untuk menuju lokasi masjid ini adalah dengan berkendara ke arah Alahan Panjang, jika dari Kota Padang setidaknya membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Dari jalan utama Kanagarian Kayu Jao tepat di sebuah tikungan sisi kanan jalan terdapat gapura yang menandakan jalan masuk menuju Masjid Tuo Kayu Jao. Dari gapura tersebut kita harus melanjutkan perjalanan lagi sekitar 800 meter.

Sebelum sampai ke masjid ini, kita akan melewati sebuah jalan yang menurun sangat tajam sehingga perlu hati – hati untuk melewatinya. Sesampainya di sana kita akan melihat sebuah masjid dengan bentuk yang unik. Masjid Tuo Kayu Jao memiliki ciri khas arsitektur Minang, atapnya terbuat dari ijuk dan  berundak dengan lambang bulan dan bintang di pucuknya.

Di bagian mihrab atau tempat imam salat atapnya berbentuk gonjong seperti yang mencirikan kebudayaan Minangkabau. Terdapat papan nama yang sudah usang dan dihiasi korosi bertuliskan ‘Situs Cagar Budaya – Masjid Tuo Kayu Jao’. Papan nama tersebut menandakan bahwa masjid ini dilindungi oleh pemerintah daerah.

Masjid Tuo Kayu Jao berdiri lebih rendah dibanding  jalan, menurut cerita, semula masjid ini hendak dibangun di atas bukit. Namun kayu – kayu yang telah dipersiapkan sebagai bahan bangunan terbawa banjir bandang dan terkumpul di suatu tempat.

Akhirnya diputuskan bahwa tempat berkumpulnya kayu tersebut sebagai lokasi masjid seperti yang kita lihat saat ini. Di sebelah masjid ini terdapat sungai kecil yang airnya jernih, saat suasana sunyi maka suara gemericik air terdengar riuh dan syahdu didengar.
Pada awalnya masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku namun setelah adanya pemugaran pada beberapa bagian kayu harus di paku namun meski telah mengalami beberapa kali pemugaran bentuk dan keaslian masjid ini masih sangat terjaga.

Meski terlihat sepi namun ternyata masjid ini telah banyak yang mengunjunginya di daftar buku tamu kita bisa melihat pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah tidak hanya dari Sumatera Barat saja.

Di malam hari juga ramai apalagi saat bulan Ramadhan, banyak jamaah dari Padang, Solok dan daerah lain yang datang dengan maksud I’tikaf kemudian setelah subuh baru mereka pulang. Suasananya tenang, udaranya sejuk jadi bagi yang mencari ketenangan serta mendekatkan diri kepada Allah cocok sekali disin. (Bersambung)

Rekomendasi Berita