oleh

Masih Banyak Warga BAB Sembarangan

“…Masih banyak jamban di sungai, maka sungai menjadi kotor. Belum lagi airnya dipakai untuk minum, cuci piring, cuci pakaian. Itulah salah satu penyebab stunting…”

* Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Muratara, Evi Yuliansyah.

LINGGAU POS ONLINE- Masyarakat di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) masih banyak Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Kebiasaan tersebut dilakukan oleh masyarakat, terutama yang bermukim di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).

Untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu, pemerintah hingga pemerintah desa gencar melakukan sosialisasi. Terutama mengenai dampak negatif dari kebiasaan BAB sembarangan bagi kesehatan.

“Warga di daerah kita ini kebanyakan tinggal di pinggir sungai, jadi masih banyak yang BAB di sungai,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Muratara, Evi Yuliansyah belum lama ini.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan sosialisasi dampak dari BAB di beberapa titik dalam wilayah Kabupaten Muratara. Diantaranya di Desa Batu Gajah baru pada bulan lalu. Pihaknya terus berupaya menyadarkan masyarakat untuk tidak BAB sembarangan lagi, karena hal itu dapat mencemari lingkungan sekitar.

Selain itu, permasalahan sanitasi dan air bersih menjadi syarat utama untuk menurunkan angka stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak.

“Kalau masih banyak jamban di sungai, maka sungai menjadi kotor. Belum lagi airnya dipakai untuk minum, cuci piring, cuci pakaian. Itulah salah satu penyebab stunting,” ungkapnya.

Pihaknya mengharapkan partisipasi masyarakat untuk selalu mengingatkan atau mencegah, siapapun yang melakukan kebiasaan BAB sembarangan tersebut.

“Kami hanya bisa mengingatkan saja, masyarakat yang bisa mengubah kebiasaan buruk mereka itu,” ungkapnya.

Sementara Kepala Desa Batu Gajah Baru, Heri mengatakan, pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi karena di desanya masih banyak warga yang BAB di sungai. Pihaknya juga terus mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Muratara, untuk pembangunan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK) di desanya.

“Saat ini sudah ada beberapa bangunan MCK, kebanyakan dibangun oleh pemerintah daerah melalu dana aspirasi DPRD. Ada juga bantuan dari Corporate Social Responsibility (CSR) bank,” jelasnya.

Pantauan di lapangan, warga yang masih BAD di aliran sungai juga terjadi di Kecamatan Rawas Ilir, Karang Dapo, Rupit, Krang Jaya, Rawas Ulu dan Ulu Rawas.

“Di mana daerah 5 kecamatan tersebut dilalui aliran Sungai Rupit dan Rawas”.

Sementara warga yang berada dekat bantaran sungai sudah menganggap hal biasa melakukan BAB di aliran sungai. Sementara mereka juga mencuci maupun mandi di sungai.

Laporan Fahmilan Jadidi

Rekomendasi Berita