oleh

Mantan Pekerja Pertanyakan Pesangon, Diduga Menyalahi Aturan

LINGGAU POS ONLINE – Belasan pekerja dari perusahaan perkebunan sawit PT Lonsum Riam Indah Estate, datangi kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (18/9). Mereka meminta Disnakertrans, untuk membantu memperjuangkan hak pesangon mereka yang dibayarkan tidak sesuai.

Mereka datang ke kantor Disnakertrans, didampingi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (Serbundo) Kabupaten Muratara. Ketua DPC Serbundo Muratara, Rinto Simamora mengatakan pihaknya hanya mendampingi 17 warga mantan pekerja PT Lonsum Riam Indah Estate, untuk menuntut hak mereka kepada perusahaan.

Mereka mengaku diberhentikan atau diputuskan hubungan kerja, namun tidak diberikan uang pesangon sesuai aturan Perundang-undangan.

“Kami harus memperjuangkan hak mereka. Ini diduga menyalahi aturan dalam Undang-Undang (UU) No.13 Tahun 2003 Pasal 56 tentang Tenaga Kerja,” kata Rinto.

Menurutnya, para eks pekerja dengan status Pekerja Harian Lepas (PHL) ini sudah diberikan uang pesangon, namun tidak sesuai aturan Perundang-undangan.

“Memang sudah dikasih itupun setelah didesak, tapi itu bukan pesangon hanya semacam penghargaan, tentu tidak sesuai dengan aturan yang ada,” ungkapnya.

Salah seorang eks pekerja, Mawin membenarkan telah menerima pesangon dari PT Lonsum Riam Indah Estate, namun tidak sesuai dengan aturan. Mereka tidak menuntut dipekerjakan kembali, akan tetapi meminta hak pesangon mereka dibayarkan sesuai dengan aturan Perundang-undangan yang berlaku.

“Ada yang sudah bekerja selama 10 tahun di sana, masa iya dikasih pesangon cuma Rp2 juta, itu sangat tidak sesuai aturan,” ungkapnya.

Sementara pantauan di lapangan manajemen PT Lonsum Riam Indah Estate tidak hadir memenuhi undangan Disnakertrans untuk menjelaskan permasalahan tersebut.

“Alasan perusahaan tidak hadir katanya sedang di luar daerah. Nanti mereka kami undang lagi Jumat besok,” jelas Kabid Hubungan Industrial Disnakertrans Muratara, Fery Aprianto.

Laporan Fahmilan Jadidi

Rekomendasi Berita