oleh

Manfaatkan Cangkang Telur Jadi Pupuk

LINGGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Kebutuhan kedelai lokal terus meningkat. Seiring besarnya permintaan produk pangan, jenis tempe dan tahu. Hal ini menjadi peluang bagi petani kedelai untuk semakin produktif. Namun harapan itu terkadang tak bisa terwujud. Lantaran biaya produksi tak mampu tertutupi dengan hasil panen.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Musi Rawas (Unmura), Nelly Murniati, Minggu (19/11) menjelaskan yang menjadi kendala bagi petani terkadang belum memahami kondisi tanah.

“Tanah itu kan semakin sering dipakai, Potensial Hidrogen (PH) atau tingkat keasamannya makin turun. Nah, inilah yang menyebabkan produktivitas juga anjlok. Biasanya petani menggunakan kapur pertanian untuk meningkatkan PH tanah darat ini. Untuk 1 hektar tanah, butuh 100 kg kapur. Bayangkan kalau harga kapur ini minimal Rp 2.300 saja. Bengkak biaya produksinya,” jelas Nelly.

Sedangkan jika menggunakan cangkang telur, nyaris tidak mengeluarkan biaya lagi. Menurut Nelly, dengan kadar Kalsium Carbonat yang tinggi dari cangkang telur ini, sangat besar manfaatnya untuk meningkatkan PH tanah.

Hal inilah yang membuatnya memanfaatkan hibah penelitian dari Dirjen Dikti untuk meneliti Aplikasi Cangkang Telur untuk Budidaya Tanaman Kedelai di Tanah Podsolik Merah-Kuning (PMK).

Dana hibah penelitian itu didapatnya 2016 lalu. Dengan memanfaatkan lahan di Kelurahan Lubuk Kupang, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, Nelly berharap hasil penelitiannya ini bisa segera ditularkannya kepada para petani kedelai saat ini.

“Sebenarnya bukan hanya di Lubuklinggau dan Musi Rawas. Rerata se-Indonesia ini umumnya PH tanahnya rendah dan miskin hara. Ini kalau ditanami tanpa ada perlakuan, pertumbuhan tidak maksimal. Salah satu upaya yang kami tawarkan ya dengan pemanfaatan limbah cangkang telur ini,” jelasnya lagi.

Cara menggunakannya, cangkang telur bisa dari ayam broiler, dibersihkan lalu ditumbuk halus. Lalu balik terlebih dahulu tanah yang akan ditanami. Sepekan menjelang masa tanam, taburi dengan cangkang telur yang telah dihaluskan tadi.

“Dengan aplikasi ini, peningkatan PH tanah dari 4,5 menjadi 5,5. Bahkan, terjadi kenaikan PH dari tidak ada menjadi tersedia. Dengan begitu produktivitas meningkat,” imbuhnya.

Tak hanya di Lubuklinggau, kata Nelly, petani kedelai juga banyak terdapat di Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas.

“Namun mereka menggunakan sistem rotasi pola tanam. Diselingi, bayam, jagung dan kangkung biasanya,” imbuh Nelly.

Untuk aplikasinya, satu hektar tanah membutuhkan sekira 1 ton (1.000 kg) cangkang telur. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita