oleh

Manajemen PT KAI Belum Juga Takziah

Duka Keluarga Korban Tabrak Kereta Api

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Alm. Sudar. Tulang punggung keluarga itu meninggal tergilas Kereta Api (KA) di perlintasan rel RT 08, Kelurahan Muara Enim, Kecamatan Lubuklinggau Barat I.

Laporan Daulat, Muara Enim

SELASA kemarin, kami sengaja meniatkan untuk datang ke rumah Alm Sudar. Dari pusat Kota Lubuklinggau, hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk menuju ke kediaman ayah empat anak ini.

Cukup menggunakan motor, kami langsung menuju rumah Alm Sudar. Letaknya, di RT 09, Kelurahan Muaraenim. Jarak kediamannya dengan rel perlintasan kereta api sekitar 50 meter. Sementara rel perlintasan tempat Alm Sudar tergilas kereta api bermuatan barang, sekitar 100 meter dari rumahnya.

“Dia sudah puluhan tahun tinggal di sini. Empat anaknya dua perempuan dan dua laki-laki sudah menikah semua. Dan Pak Sudar tulang punggung keluarga,” jelas seorang warga sambil membawa kami ke kediaman Alm. Sudar.

Selama ini warga mengenal Sudar sebagai petani karet. Kesehariannya menyadap karet di kebun miliknya. Pukul 10.45 WIB memang waktu Sudar pulang. Namun naas, Senin (23/4) pukul 10.45 WIB kejadian mengenaskan menimpa Sudar, yang membuatnya menghembuskan nafas terakhir di tempat kejadian.

Di rumah Sudar, sejumlah ibu-ibu tampak sibuk membersihkan sayur, mencacah bumbu, dan menyiapkan masakan.

“Nanti malam (tadi malam,red) mau yasinan untuk almarhum,” jelas Siswanto (61), kakak sepupu Alm. Sudar.

Kami bisa menyaksikan dalam jarak dekat rumah tempat Alm. Sudar bersama sang istri melepas lelah. Rumah berdinding papan dan berlantai semen itu berukuran 5×10 meter. Tak ada halaman di depan maupun samping. Rumah ini amat sederhana untuk pasangan paruh baya ini.

Siswanto membenarkan, Alm. Sudar memang mengalami gangguan pendengaran. Itu karena usianya yang sudah lanjut.

“Yang pasti, dia orangnya baik dan mudah bergaul dengan orang. Meski kejadiannya seperti ini, namun kami mengikhlaskan kepergian beliau. Bagaimanapun, kami tidak bisa menyalahkan pihak manapun. Memang sudah ajalnya meninggal dengan cara seperti itu,” kata Siswanto.

Hingga kemarin siang, kata Siswanto, manajemen PT KAI Kota Lubuklinggau belum ada yang takziah ke kediaman korban.

“Sampai saat ini belum ada yang datang, kami tidak menuntut untuk datang ke rumah. Tetapi setidaknya ada rasa kepedulian terhadap keluarga korban,” ungkap Siswanto.

Saat ini, keluarga Alm Sudar sedang mengurus untuk Jasa Raharja. Dan berharap secepatnya cair, untuk mengurus biaya pemakaman korban.

Terpisah, Kepala Stasiun PT KAI Lubuklinggau, Anton Timur Raya mengatakan, mengenai kejadian yang menewaskan satu orang warga Kelurahan Muara Enim kemarin, pihaknya menyerahkan ke Jasa Raharja.

“Semuanya itu Jasa Raharja yang mengurus, dari kami tidak ada, baik biaya pemakaman maupun lainnya. Karena posisi kejadiannya pada perlintasan liar, jika kejadiannya di palang perlintasan maka kami yang bersalah,” ucap Anton.

Lebih lanjut Anton menjelaskan, pihaknya akan bertanggung jawab jika kejadian di depan perlintasan, kalau di perlintasan liar itu tidak ada. Karena kereta api itu tidak seperti kendaraan roda empat, yang secepatnya bisa mengerem.

“Kalau di perlintasan liar itu kami tidak bisa tanggung jawab, karena sudah diatur oleh Undang-Undang (UU). Dan jarak klakson dihidupkan, maupun mengerem, itu satu kilo dari perlintasan,” jelas Anton.

Anton mengaku, mengenai masinis kereta api, itu tidak ada sanksinya atau pun pemecatan. Hanya berupa sebatas teguran saja.

“Kalau kejadian di perlintasan liar masinisnya tidak ada sanksi, karena bukan salah dia. Jika kejadiannya di depan perlintasan, maka ia bisa bersalah, bahkan sanksinya berupa pemecatan,” tegas Anton. (*)

Rekomendasi Berita