oleh

Makin Perhatian dengan Anak Disabilitas

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Kemarin, 3 Desember 2017 menjadi Hari Penyandang Cacat International. Era kini, makin banyak orang tua anak penyandang disabilitas menyadari bahwa tak seharusnya mereka menuntut banyak. Keterbatasan yang Allah SWT berikan untuk sang anak, bukanlah akhir yang menyakitkan.

“Semua masih bisa bangkit. Ada 116 anak didik kami mulai TK, SD, SMP hingga SMALB. Mereka semua punya semangat untuk hidup. Mereka mulai berani menunjukkan potensi masing-masing. Dan orang tua sudah tak seperti dulu. Saya ingat betul tahun 2006 SLBN Musi Rawas berdiri, hanya tiga anak didik kami. Sekarang sudah 116 orang. Makin banyak yang menyadari, bahwa anak disabilitas juga harus dipenuhi hak-haknya,” tutur Kepala SLBN Musi Rawas, Dwi Tugiantoro, Minggu (3/12).

Memang, orang tua maupun guru, kata Dwi tak bisa berharap banyak pada pencapaian anak disabilitas, baik tuna rungu, tuna wicara, maupun tunagrahita untuk memiliki nilai akademik yang bagus.

“Namun, sekarang ini setiap tahun ajaran baru khusus yang masuk TKLB, masuk SDLB, SMPLB dan SMALB kami kerja sama dengan Psikolog RSUD Dr Sobirin. Anak-anak di-assessment. Digali secara optimal sebenarnya berapa IQ anak, ada potensi apa dalam diri anak. Apa yang mereka sukai. Sampai apa yang tidak disukai anak. Dari sinilah, orang tua dan guru bisa bersinergi menggali potensi anak. Hingga mereka bisa berpotensi layaknya anak normal,” terang Dwi.

Dwi menegaskan, SLBN Musi Rawas memang masih memberikan pelajaran akademik bagi anak. Namun, semakin naik tingkatan, bobot penilaian akademik akan semakin dikurangi. Anak lebih difokuskan sesuai dengan potensi dan kesukaan.

“Banyak keterampilan yang kami ajarkan. Ada yang suka menari, melukis, kami ajari mereka dengan telaten. Ada yang suka jualan, kami ajak mereka belajar dengan Owner Rumah Lele. Kami undang pengusaha Rumah Lele dari Manaresmi, Kecamatan Muara Beliti. Lelenya diolah menjadi abon, tulang lele jadi steak, kulitnya jadi kerupuk, dan masih banyak lagi. Menurut kami, penting bagi kita untuk terus memupuk optimisme mereka. Kami yakin, kalau kita mau memupuk semangat itu dalam diri mereka, kelak mereka tumbuh jadi orang yang mandiri,” imbuhnya.

Di SLBN Musi Rawas, terang Dwi, kurikulum yang diterapkan Kurikulum 2013 Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus. Tidak 100% akademik. Salah satu diantara hasil yang sudah dicapai anak didi SLBN Musi Rawas, adalah Juara Harapan III Lomba Lukis Tingkat SMA/MA/SMALB se-Provinsi Sumsel memperingati Hari Lingkungan Hidup.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita