oleh

Majukan Perpustakaan Butuh Inovasi

LINGGAU POS ONLINE, MUARA BELITI – Setiap satuan pendidikan pasti memiliki perpustakaan. Namun, tidak seluruh dari mereka mampu mengelola ‘gudang ilmu’ ini. Meski begitu, ada baiknya kita belajar. Menggali ilmu dari peraih gelar perpustakaan terbaik se-Kabupaten Musi Rawas.

Mendapat predikat perpustakaan terbaik II se-Kabupaten Musi Rawas bukan hal baru bagi SMA Negeri 1 Model Muara Beliti. Sekolah yang kerap disebut ‘Blue School’ ini Tahun 2015 pernah meraih gelar yang sama.

Hal itu diungkapkan Kepala Perpustakaan SMA Negeri 1 Muara Beliti, Herni saat dibincangi Selasa (28/11).

Herni menjelaskan, tahun 2015 perpustakaan yang dikelolanya Terbaik I. Namun tahun 2017 jadi terbaik II.

“Kami tidak kecewa dengan pencapaian ini. Karena memang dari segi meubelair, SMAN Model Terawas lebih bagus. Kami akui itu. Dan kami akan berusaha untuk lebih baik lagi,” jelasnya.

Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Palembang itu menjelaskan, di dalam perpustakaan seluas 8×20 meter ini, ada 14.286 eksemplar buku yang bisa dipinjam dan dibaca oleh peserta didik.

Letaknya yang strategis di depan musala dan di sekitar ruang belajar siswa, membuat perpustakaan mudah dijangkau oleh peserta didik.

Ia meyakini, faktor-faktor tadilah yang membuat siswa-siswi kerap menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku-buku di perpustakaan.

Selain itu, memang yang beda dengan sistem pengelolaan perpustakaan di SMA Negeri 1 Model Muara Beliti.

Didampingi Kepala SMA Negeri 1 Model Muara Beliti, Yasbudaya, ia menjelaskan, di perpustakaannya itu pembiasaan buku-buku tertata rapi.

“Selain itu, visi dan misi perpustakaan memang dipergunakan untuk penunjang sarana belajar. Jadi anak-anak diarahkan lebih banyak mengunjungi perpustakaan,” kata dia.

Bahkan, setiap triwulan Perpustakaan SMA Negeri 1 Model Muara Beliti punya program unggulan. Yakni pemilihan pengunjung terbaik, dan Lomba Minat Baca. Dengan begitu, anak-anak akan sangat tertarik datang ke perpustakaan.

Hal ini dilakukan, menurut Herni sebagai wujud baktinya agar misi perpustakaan harus jalan. Yaitu, membantu kelancaran proses KBM untuk meningkatkan minat baca warga sekolah.

“Di sekolah pada umumnya, perpustakaan dikunjungi saat jam istirahat. Tapi di sekolah kami, perpustakaan bisa dikunjungi saat jam pelajaran. Bahkan, guru yang ingin mengajak anak belajar dan melakukan bahasan ilmiah, bisa langsung ke perpustakaan,” jelasnya.

Sekalipun bukan berlatar disiplin ilmu pustakawan, Herni amat menikmati tugasnya itu. Bahkan tak jarang, agar semakin baik sistem pengelolaan perpustakaan di SMA Negeri 1 Model Muara Beliti, ia belajar melalui internet juga sharing dengan Dinas Komunikasi dan Informatika.

Untuk mengelola perpustakaan, ia dibantu seorang bagian layanan, dan seorang lagi bagian teknis.

Lantas bagaimana dengan minat baca?

Herni menjelaskan, dalam sehari minimal 50 siswanya datang ke Perpustakaan. sebagian besar siswa-siswinya doyan membaca buku fiksi. Namun, tak jarang mereka juga mencari buku-buku terapan. Seperti teknik menjahit, membuat kerajinan dan lain-lain.

Setiap siswa hanya diperkenankan meminjam satu buku dalam satu minggu. Ketika buku yang dipinjam belum tuntas dibaca, siswa tersebut wajib melakukan perpanjangan.

Untuk menambah koleksi buku di perpustakaan ini, setiap alumni SMA Negeri 1 Muara Beliti diminta menyumbangkan buku, untuk penambah koleksi. Perpustakaan tidak menentukan harus buku apa.

“Selain itu, kami pernah mengikuti program peminjaman silang dari Perpustakaan Daerah. Kami dipinjamkan buku berjumlah 100 eks. Dalam satu bulan kami pakai buku, lalu kami kembalikan lagi ke kantor arsip. Dan meminjam 100 eksemplar lagi. Begitu seterusnya. Jadi buku-buku yang ada di perpustakaan daerah bisa dipinjam anak didik kami, melalui perpustakaan sekolah,” jelas ibu yang memimpin perpustakaan sejak 2012 itu. (05)

Komentar

Rekomendasi Berita