oleh

Mahasiswi di Rejang Lebong Bunuh Diri

LINGGAU POS ONLINE– Warga RT 03 RW 02 Dusun Curup, Kecamatan Curup Utara mendadak heboh, Kamis (7/11). Sekitar pukul 13.00 WIB mereka gempar oleh jeritan Netti H Adisa (41) lantaran melihat tubuh putrinya, Monica Rahmayani (18) dalam kondisi tergantung.

Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Curup Fakultas Ekonomi Syariah itu menggantungkan diri di pintu kamarnya dengan seutas selendang. Kematian putri Hadi Sofian itu dibenarkan Kapolres Rejang Lebong, AKBP Jeki Rahmat Mustika SIK melalui Kapolsek Curup, Iptu Untoro, kemarin.

Iptu Untoro menjelaskan setelah mendapat laporan tersebut petugas Polsek Curup langsung mendatangi lokasi bersama petugas SPKT Polres Rejang Lebong.

“Pertama kali korban ditemukan oleh ibu korban,” jelas Kapolsek.

Awalnya, ayah dan ibu korban baru saja pulang dari melihat orang yang bekerja di kebun mereka. Sesampai di rumah, ibu korban hendak masuk ke kamar anaknya. Saat buka pintu kamar Monica, ibu menabrak jasad Monica yang sudah tergantung di pintu kamarnya.

Ibu korban langsung menjerit sekencang-kencangnya. Dia langsung memanggil suaminya dan keluarga serta tetangga untuk memotong selendang biru diduga digunakan korban untuk gantung diri.

Untuk motif korban diduga gantung diri masih belum diketahui. Pasca ditemukan tewas, sambung Kapolsek, rencana korban akan langsung dimakamkan.

“Untuk motifnya belum diketahui, berdasarkan keterangan saksi, yang bersangkutan pendiam dan tidak ada masalah dalam keluarga,” tambah Kapolsek.

Sebelumnya, Psikolog Irwan Tony menjelaskan penyebab keinginan seseorang untuk melakukan percobaan bunuh diri dapat dipicu oleh banyak faktor.

Antara lain menderita gangguan mental seperti depresi, mengalami kekerasan psikologis misalnya perundungan (bully) penyalahgunaan Napza, menderita penyakit parah, memiliki tekanan batin. Misalnya karena kehilangan pekerjaan status/kedudukan atau uang, mengalami kekerasan seksual sampai kehilangan kerabat dekat atau anggota keluarga di penjara.

Selain beberapa faktor di atas, cyberbullying atau perundungan di dunia maya turut meningkatkan risiko bunuh diri, terutama pada remaja.

Menurut Irwan Tony, seseorang yang akan melakukan percobaan bunuh diri biasanya menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa, seperti membuat surat wasiat, memberikan benda-benda berharganya, pamit ke kerabat dan keluarga.

Kadang, juga ada yang menjauhkan diri dari kerabat atau keluarga dengan terlihat cemas atau gelisah dan terjadi perubahan pada kebiasaan makan atau tidur.

“Terkadang seseorang yang menunjukkan perubahan suasana hati yang drastis dengan berani melakukan sesuatu yang berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian. Misalnya, berkendara dengan sangat cepat,” tutur Irwan Tony.

Selain gerak-gerik, seseorang yang ingin melakukan percobaan bunuh diri juga kerap mencurahkan perasaannya. Dalam hal ini, perasaan yang diungkapkan dapat berupa mengungkapkan rasa sakit yang dirasakan entah itu emosi atau fisik, berbicara tentang rasa bersalah atau malu, merasa seperti membebani orang lain, memperlihatkan amarah atau berbicara tentang balas dendam, mengungkapkan perasaannya yang sepi, putus asa, dan tidak lagi memiliki alasan untuk hidup, mengutarakan keinginan untuk mati atau bunuh diri. Kadang juga ada yang sering berpikir atau berbicara tentang kematian, pencegahan percobaan bunuh diri.

“Penting untuk mengetahui faktor risiko serta tanda-tanda percobaan bunuh diri yang muncul pada diri seseorang. Jika Anda mendapati anggota keluarga atau teman memiliki tanda-tanda tersebut, pencegahan yang dapat dilakukan dengan mendengarkan dengan seksama sekaligus mempelajari apa yang dia pikirkan dan rasakan, membantu dia dalam mengatasi depresi yang dialami,” saran Irwan.

Lalu, jangan ragu untuk menanyakan padanya tentang adanya keinginan untuk bunuh diri, jangan ragu untuk mengekspresikan rasa sayang, baik dalam bentuk perbuatan maupun kata-kata, jangan mengabaikan perasaan dia terhadap suatu hal, meski hal itu sepele atau mudah untuk diselesaikan.

“Sebisa mungkin jauhkan barang-barang yang dapat digunakan untuk bunuh diri, misalnya senjata api. Jika Anda khawatir bahwa cara di atas masih belum cukup untuk bisa mencegah upaya bunuh diri, maka Anda bisa membawa dia ke psikiater,” jelasnya.

Untuk mencegah percobaan bunuh diri berulang, metode medis yang mungkin disarankan oleh psikiater yakni psikoterapi, salah satunya adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini akan melatih pasien dalam menangani stres yang dapat memicu keinginan untuk bunuh diri.

Laporan Syamsul Ma’arif/Apriyadi

Rekomendasi Berita