oleh

Magnet Ketokohan Tentukan Kemenangan

LINGGAU POS ONLINE- Pengamat politik asal Kabupaten Musi Rawas (Mura), Ach Zaein menjelaskan calon perseorangan yang mampu memenangkan kontestasi Pilkada umumnya memiliki magnet ketokohan yang lebih besar daripada kontestan yang diusung oleh Partai Politik (Parpol). Karena, beberapa tokoh telah mampu membuktikan itu, salah satunya Suherman dan Hijazi di Pilkada Rejang Lebong. Mereka merupakan tokoh dengan basis dukungan akar rumput yang sangat kuat, dan mampu melawan dominasi mesin politik dari Parpol.

Calon perseorangan dapat juga diposisikan sebagai respons kelompok terhadap para aristokratis yang didominasi elite Parpol yang selama ini dipersepsikan negatif. Karena dinilai abai terhadap kepentingan-kepentingan publik yang seharusnya diperjuangkan mereka.

Namun, ada berbagai syarat yang harus dipertimbangkan oleh calon perseorangan untuk memperbesar kemenangan dalam kontestasi Pilkada. Pertama, syarat dukungan minimal yang merupakan jejaring modal, karena itu bisa dioptimalkan sebagai mesin politik sekaligus meningkatkan magnet elektoral terhadap calon perseorangan.

Kedua, tren perilaku memilih. Terjadi kecenderungan pergeseran perilaku memilih, dari perilaku pragmatisme ke arah rasional. Kesadaran politik membuat pemilih semakin cerdas menentukan pilihan-pilihan politik dengan pertimbangan yang lebih rasional. Hal ini tidak terlepas dari tren meningkatnya partisipasi pemilih pemula.

“Bila ini dimaksimalkan bukan sesuatu yang istimewa bila calon perseorangan bisa memenangkan Pilkada,” ujarnya.

Selain itu, bila berbicara terkait kalkulasi perolehan suara. Sebenarnya, calon perseorangan memiliki peluang yang sangat besar untuk meraup suara yang signifikan. Sebab, ketika akan maju saja mereka sudah diwajibkan untuk menyerahkan sejumlah dukungan. Seperti di Kabupaten Mura, calon perseorangan wajib mendapat dukungan 8,5 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT). Artinya, calon perseorangan harus menyerahkan sejumlah 24.612 dukungan. Bahkan jumlah ini lebih banyak dari jumlah pengurus Parpol di wilayah Mura.

“Coba kita kalkulasikan kalau langkah awal saja calon perseorangan sudah dapat 24.612 dukungan, bagaimana bila dimaksimalkan oleh calon perseorangan. Tentu, jadi kekuatan yang menakutkan,” ujarnya.

Hanya saja, tren yang terjadi di lapangan kerap dukungan yang diberikan masyarakat kepada calon perseorangan tidak berbanding lurus dengan perolehan suara. Bahkan, ada yang mendapatkan suara lebih sedikit dibandingkan dengan syarat pencalonan yang sudah disampaikannya ke KPU.

Jadi, garis besarnya pada perhelatan Pilkada 2020 mendatang, masyarakat tidak memilih Parpol yang melakukan pengusungan dan metode pencalonan. Karena, yang dipilih masyarakat saat ini ketokohan dari kandidat yang mencalonkan diri. Bahkan, diusung koalisi gemuk sekalipun tidak menjamin kemenangan.

“Ingat, masyarakat tidak pilih Parpol atau metode pencalonan, yang mereka pilih ketokohan. Jadi, tidak ada sedikit pun jaminan maju melalui jalur perseorangan maupun melalui dukungan dari koalisi Parpol gemuk dapat memenangkan pertarungan,”jelasnya.

Maka, ending akhirnya siapa yang mampu untuk merebut hati masyarakat dipastikan memenangkan Pilkada. Tidak peduli itu dari jalur perseorangan maupun Parpol.

Laporan Aan Sangkutiar

Rekomendasi Berita