oleh

Lubuklinggau Berpotensi Marak Penderita Stunting

Dinas Ketahanan Pangan Adakan Bimtek

LINGGAU POS ONLINE, WATERVANG – Lubuklinggau masih berpotensi adanya penderita stunting dan gizi buruk. Salah satu penyebabnya ketidaktahuan masyarakat akan kebutuhan gizi.

Hal ini yang melatarbelakangi Dinas Ketahanan Pangan Kota Lubuklinggau mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) tentang Analisis Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi di Hotel Burza, Rabu (11/4).

Pesertanya, ketua sekaligus Ketua Dasawiswa Kelurahan se-Kota Lubuklinggau. Dengan narasumber, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sumatera Selatan (Sumsel), Hj Nariman Kitia, dan Dosen Fakultas Pertanian Unsri, Nurhayati serta dr Budi Santoso.

“Dari PPH ini kita bisa menentukan kualitas SDM, dari sini juga ketahuan energi standar 2200 kilo kalori/kapita. Untuk mendapatkan kalori tentunya ada beberapa komponen yang dikonsumsi seperti padi, biji-bijian, dan lemak. Dari program PPH ini ketahuan berapa besar konsumsi lemaknya, umbi atau padi,” jelas Kepala Dinas Ketahanan Pangan kota Lubuklinggau, Dedi Yansa.

Ditambahkan Dedi Yansa, standar kalori masyarakat Kota Lubuklinggau hampir mendekati, tapi keragamannya yang minim.

“Sudah 88,9 % sudah mendekati standar yang di tetapkan Pemprov Sumsel. Jika konsumsi padi-padian ketetapan Sumsel 25 % kita baru 21%, umbi-umbian 2,5 % Lubuklinggau baru 0,8 %, pangan hewani 24 % kita baru 23 %, kacang-kacangan 10 % Lubuklinggau baru 7 %, gula 2,5 % kita baru 1 %. Tapi skor Lubuklinggau lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain se-Sumsel,” papar Dedi Yansa.

Diakui Dedi Yansa, garis merah penderita stunting dan gizi buruk di Kota Lubuklinggau sedikit tapi potensi itu tetap ada.

“Makanya peserta Bimtek ini Dasawisma, biar materi yang kami sampaikan ini tepat sasaran karena yang berperan besar terkait gizi dalam keluarga ya mereka ibu-ibu ini,” ungkapnya.

Menurut Dedi, pendanaan ketahanan pangan nasional tidak sampai Rp1 triliun sementara dana dekon Lubuklinggau terbatas hanya Rp200 juta untuk bantuan optimalisasi pekarangan dengan satu dasawisma kisaran Rp 20-30 juta atau rata Rp1 juta per orang.

“Usai dari sini ibu-ibu menyampaikan pola makan tiga kali sehari. Kami juga akan ambil sampel 1.000 rumah tangga terhadap kebutuhan energi sesuai pedoman gizi seimbang. Pangan lokal harus dikuatkan, sudah saatnya makanan ringan dari pangan lokal baik acara kedinasan dan sebagainya. Tidak menyajikan jagung, ubi dan pisang tapi dalam bentuk olahan,” tambahnya.

Sementara Penjabat Walikota Lubuklinggau, H Riki Junaidi menyatakan, pangan merupakan kebutuhan pokok selain sandang dan papan. Dengan itu, ketahanan pangan tersedia dan tercukupnya kebutuhan pangan termasuk mutu, nilai gizi dan sebagainya agar masyarakat sehat, aktif dan produktif.

“Peredaran pangan saat ini sudah banyak ditambah bahan lain seperti pengawet, pewarna dan perasa. Ini yang tidak disadari terus dikonsumsi dan sewaktu-waktu jadi racun dalam tubuh. Perlu ada uji petik sampel pangan sekolah karena tidak mungkin orangtua bisa terus melihat pangan apa yang dimakan anak di sekolah,” ungkapnya.(07)

Rekomendasi Berita