oleh

Lokasi Gempa Jadi Memorial Park

PALU — Balaroa, Petobo, dan Jono Oge tak dapat lagi dijadikan kawasan permukiman. Memorial park akan dibangun di atas lokasi terdampak gempa terparah itu. Kepala Kantor SAR Palu, Basrano, mengatakan, evakuasi korban masih dilakukan di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge. Sementara beberapa titik lainnya dinyatakan selesai. Hanya saja, jenazah yang dievakuasi hampir tak bisa dikenali. Misalnya, 15 korban yang berhasil dievakuasi di Petobo.

Evakuasi juga terhambat wilayah yang sangat luas. Wilayah di Balaroa yang tertimbun sekitar 200-an hektare, sedangkan Petobo dan Jono Oge memiliki luas sekitar 182 hektare. “Meski alat berat bertambah, sulit mengevakuasi korban,” imbuhnya.

Rencananya, proses evakuasi korban akan dihentikan. Korban yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang. “Secara keseluruhan, jumlah korban di Balaroa, Petobo, Jono Oge, sekitar 5.000 orang. Kalau sudah ada perintah presiden dihentikan, maka akan dinyatakan hilang,” ujarnya.

Selanjutnya, lokasi BTN Balaroa, Petobo dan Jono Oge akan menjadi Memorial Park atau tempat bersejarah. Rencananya akan dibangun monumen pada lokasi tersebut. “Pada hari terakhir Tanggap Darurat akan dilakukan doa bersama di lokasi tersebut,” katanya.

Pascagempa dan tsunami, Sulteng berangsur bangkit pascagempa dan tsunami. Penanganan pengungsi secepatnya dimulai.

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola mengatakan, pemerintah berencana membangun hunian sementara bagi pengungsi. Jumlah hunian sekitar 5.000 unit untuk korban gempa dari Petobo, Balaroa, dan sekitar kawasan pantai.

Pembangunan hunian sementara rencananya di daerah pengungsian. Sembari menunggu penetapan lokasi pembangunan hunian permanen. “Lokasi tanah dipersiapkan pemda. Mengenai lokasinya, masih sementara dicari,” kata Longki usai rapat tertutup di Kantor Gubernur, Senin, 8 Oktober.

Pastinya, kondisi tanah nantinya akan disesuaikan dengan ornamen bangunan antigempa. “Bentuknya seperti apa, nanti kita lihat. Semoga bangunannya bisa berkelanjutan,” imbuhnya.

Pemerintahan juga harus kembali berjalan pascabencana. Gubernur meminta seluruh pegawai harus aktif kembali. Pegawai yang tidak aktif tanpa laporan, kata Longki, akan dikenakan sanksi.

Selain itu, dia berharap masyarakat yang mengungsi kembali ke Sulteng. Membangun Sulteng. “Kami yakin Sulteng bangkit,” tandasnya.

Masyarakat palu mulai beraktivitas. Kota Palu mulai hidup. Sulteng harus pulih dengan cepat. Jalanan di Kota Palu juga mulai padat. Polisi lalu lintas sudah bertugas. Berdiri di setiap perempatan jalan. Setiap pengendara roda dua yang tak mengenakan helm, diberi imbauan. Pantauan FAJAR, kendaraan mulai ramai sekitar pukul 07.30 hingga 17.30 Wita.

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga sudah teratasi. Masyarakat tak lagi antre panjang di sejumlah SPBU. Pasar-pasar sudah beroperasi. Toko-toko sudah mulai buka.

Pusat perbelanjaan, seperti Trans Mart sudah beroperasi. Pengusaha mulai berani membuka tokonya. Begitu pula toko onderdil kendaraan, meski pintunya tak dibuka lebar. Tetapi, beberapa orang sudah mulai belanja.

Senin kemarin, siswa mulai masuk sekolah. Aktivitas itu terpantau di SMPN 1 Palu. Meski baru puluhan siswa yang datang. Informasi yang dihimpun dari sejumlah siswa, mereka hanya mencatat nama.

Pihak sekolah baru melakukan pendataan. Kepastian jadwal aktivitas belajar mengajar belum ditentukan. Beberapa orang tua atau wali siswa juga datang. Di antara mereka ada yang berniat memindahkan anaknya.

Proses pendidikan menjadi salah satu perhatian pasca gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih mendata jumlah sekolah yang rusak dan guru yang meninggal.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad, mengatakan jumlah gedung sekolah yang rusak menurut data BNPB  mencapai 2.736 bangunan. “Kami terus data. Proses pendataan masih sulit akibat medan, terutama di daerah terisolasi,” ujarnya di Gedung Kemendikbud.

Kemendikbud juga sudah mulai menerima data guru yang meninggal. Hanya saja jumlah yang masuk, kata Hamid, masih sedikit. Proses belajar mengajar juga belum diwajibkan selama masa tanggap darurat diberlakukan.

“Namun kita tak melarang jika ada sekolah yang sudah mulai melakukan aktivitas belajar mengajar. Contohnya SMPN 13 Palu,” jelas Hamid.

Proses belajar di SMPN 13 Palu dilakukan di tenda darurat. Ini lantaran gedung sekolah tersebut rubuh akibat gempa. Pihaknya juga telah menyiapkan kebijakan khusus. Terutama saat menghadapi ujian nasional.

Kemendikbud berencana menambah jumlah tenaga pendidik. Sebab, tidak sedikit guru menjadi korban bencana.

Berdasar laporan sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 22 guru meninggal saat terjadi gempa dan tsunami. Kemudian, 14 guru dinyatakan hilang dan 1 orang dirawat di rumah sakit.

Selain itu, menurut Hamid, ada beberapa guru yang eksodus keluar Palu. Karena itu, Kemendikbud kini mencari guru pengganti. “Mungkin diambil dari sarjana pendidikan yang baru lulus,” tuturnya.

Pendistribusian bantuan logistik akhirnya menjangkau wilayah terisolasi. Misalnya, di Desa Malei, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala.

Tim relawan Indonesia Bangkit, Kabupaten Donggala, Faisal, melaporkan, pemda bersama anggota TNI telah mendistribusikan logistik. Sebelumnya, belum pernah.

Selama ini, pengungsi sebanyak 650-an kepala keluarga bertahan hidup dengan hasil pertanian. Mengonsumsi pisang dan sagu. “Dua hari lalu sudah habis. Untuk beli beras, penjual ada. Hanya saja mereka menjual beras Rp15 ribu rupiah per liter. Pengungsi tak mampu,” ujarnya.

Di wilayah lainnya, Dusun I, Sesa Sidondo I, Kabupaten Sigi, logistik sudah tersalurkan. “Sudah dapat logistik. Dari 187 KK, ada dapat dua, enam, delapan dan 10 mi instan. “Tambahannya dua liter beras,” kata tim relawan Indonesia Bangkit, Ahmad.

Panglima Komando Tugas Gabungan dan Paduan (Kogasgabpad), Mayjen Tri Soewandono, mengatakan, penyaluran logistik sudah sampai di wilayah yang sulit diakses.

Menurutnya, bencana yang menimpa Sulteng yang tidak seperti bencana biasanya menjadikan pengawalannya banyak terkendala. “Utamanya penyaluran logistik di wilayah tak terjangkau,” imbuhnya.

Untuk itu, perlu adanya sinergi antara seluruh instansi agar tak ada pengungsi yang tak mendapat jatah logistik. “Secepatnya laporkan. Demikian dengan adanya korban yang sakit. Maka akan kita kirim dokter dan obat-obatan,” tandasnya.

Secara perlahan, Sulteng membaik. Meski gempa masih terjadi. Kemarin, gempa sempat mengguncang sekitar pukul 04.00 Wita dan pukul 14.00 Wita. Tapi aktivitas tetap berjalan. (fin)

Rekomendasi Berita