oleh

Lion Air Akhiri Pencarian Perekam Suara Kokpit Jet Boeing 737 MAX

JAKARTA – Pihak maskapai Lion Air menginformasikan bahwa, pencarian kotak hitam kedua dari jet Lion Air Boeing 737 MAX yang menabrak Laut Jawa pada Oktober telah berakhir. Kecelakaan itu, jet Boeing Co 737 MAX pertama di dunia dan yang paling mematikan pada 2018, menewaskan semua 189 orang di dalamnya.

Kontak dengan penerbangan JT610 hilang 13 menit, setelah lepas landas dari ibukota Jakarta menuju utara ke kota penambangan timah Pangkal Pinang. Perekam suara rongsokan dan kokpit utama, satu dari dua yang disebut kotak hitam, tidak ditemukan dalam pencarian awal.

Dikutip laman Daily Mail, pihak Lion Air Group melalui juru bicaranya, Danang Mandala mengungkapkan, pada bulan Desember pihaknya sudah mendanai pencarian 38 miliar rupiah (2,1 juta poundsterling), untuk menggunakan kapal pasokan lepas pantai MPV Everest.

“Apa yang dilihat sebagai tes langka norma-norma global mengenai independensi pencarian, karena biaya seperti itu biasanya dibayar oleh pemerintah. Pencarian menggunakan kapal telah berakhir pada hari Sabtu,” kata Danang kepada Reuters.

Adapun juru bicara Komisi Keselamatan Transportasi Nasional Indonesia (KNKT) mengatakan, pada hari Kamis badan akan memulai pencarian sendiri untuk kotak hitam secepat mungkin. CVR cenderung memiliki petunjuk penting yang dapat memberi wawasan simpatisan tentang tindakan pilot.

Pihak KNKT mengatakan, negosiasi dengan angkatan laut Indonesia sedang dilakukan untuk menggunakan kapal angkatan laut, untuk meluncurkan kembali pencarian kotak hitam kedua sesegera mungkin.

“Mungkin minggu depan. Ini tidak akan semewah MPV Everest (disubsidi Lion) tetapi akan dilengkapi dengan detektor CVR dan kami sudah memiliki kendaraan yang dioperasikan jarak jauh,” kata juru bicara itu.

Sementara itu, keluarga co-pilot Indonesia dari penerbangan mengajukan gugatan kematian, pada hari Jumat terhadap Boeing di Chicago, menambah litigasi menumpuk terhadap produsen di kota kelahirannya.

Gugatan tersebut menuduh, bahwa Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan Lion Air berbahaya, karena sensornya memberikan informasi yang tidak konsisten kepada pilot dan pesawat.

Setidaknya dua tuntutan hukum lainnya telah diajukan terhadap Boeing di Chicago oleh para korban. Namun, keluarga korban tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. (der/fin)

Rekomendasi Berita