oleh

Lima Hari, Kebakaran 14 Hektare Lahan Belum Juga Padam

LINGGAU POS ONLINE – Sudah lima hari, sejak Kamis (15/8/2019) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda lahan gambut di dua desa dalam Kecamatan Sungai Rotan, yakni Desa Suka Merindu dan Desa Danau Tampang, belum kunjung padam. Akibatnya, karhutla di wilayah tersebut semakin meluas hingga mencapai 14 hektare lahan yang hangus.

Bencana kebakaran di Kecamatan Sungai Rotan ini berpotensi terus meluas karena api belum berhasil dijinakkan. Petugas di lapagan terdiri tim pemadam BPBD Muara Enim bersama TNI, Polri dan masyarakat telah berjibaku memadamkan titik api.

Namun api belum juga dapat dipadamkan karena sulitnya medan menuju titik api. Selain itu, petugas juga minim personel dan peralatan.

“Petugas kami harus siaga 24 jam di lokasi memadamkan api, pemadaman di dua desa ini memerlukan banyak personel dan peralatan,” kata Kepala BPBD Muara Enim, M Tasman, Senin (19/8/2019).

Bahkan upaya pemadaman via udara juga telah dilakukan menggunakan helikopter water bombing.

Sayangnya, lanjut Tasman, upaya itu hanya membuat api padam sejenak dan muncul lagi beberapa jam kemudian. “Tiga hari water bombing digencarkan di Desa Suka Merindu, dan dua hari di Desa Danau Tampang, tapi lahan gambut tetap terbakar sampai hari ini,” paparnya.

Begitupun upaya pemadaman yang dilakukan petugas di lapangan. Petugas mengandalkan peralatan seperti selang dan mesin pompa air. Saat proses pemadaman petugas juga sulit menempuh jalan menuju titik api. “Lokasi titik api sangat jauh dari jalan, termasuk sumber air untuk pemadaman juga sangat terbatas, sejauh ini 20 petugas kami sudah dikerahkan disana,” beber Tasman.

Bencana karhutla di dua desa dalam Kecamatan Sungai Rotan mendapat perhatian Bupati Muara Enim H Ahmad Yani. Orang nomor satu di Bumi Serasan Sekundang ini turun langsung melihat proses pemadaman di Desa Suka Merindu.
Di sela peninjauan, Ahmad Yani mengatakan, karhutla ini merupakan masalah serius sehingga tugas semua untuk memadamkan. Yani juga menegaskan, jika ada yang sengaja membakar hutan dan lahan, maka harus ditindak tegas oleh aparat terkait sesuai Undang-undang yang berlaku.

“Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, apalagi di lahan gambut seperti perkebunan sawit dan rawa-rawa yang kering, jadi sangat perlu tindakan tegas bila ada pelaku yang memang sengaja membakar,” sebut Yani.

Agar masalah ini bisa ditanggulangi, Yani mengungkapkan, pentingnya membuat embung untuk penyimpanan air di titik-titik rawan kebakaran hutan dan lahan.

“Sehinggga jika terjadi karhutla kita bisa cepat bertindak,” ujarnya. (*)
Sumber ; Enim Ekspres

Rekomendasi Berita