oleh

“Lihat Anak Diejek, Hati Saya Pedih”

Perjuangan Lukman Jadi Guru Disabilitas (1)

Baharam dan Badariah gusar. Malam itu tubuh Lukman panas tinggi. Badan, kaki dan tangan putra bungsu yang baru berusia sembilan bulan itu lunglai. Hanya kepala saja yang bisa merespon. Pilihan satu-satunya, membawa Lukman ke Kota Lubuklinggau. Namun tak mungkin.

Laporan Sulis-Daulat, STL Ulu Terawas

“Paginya kami bawa dia berobat. Ke manapun. Di mana orang kasih tahu di situ ada pengobatan, kami datangi. Segala upaya kami tempuh. Agar anak kami selamat. Ada sekitar enam bulan kami berusaha cari pengobatan!” terang Baharam diawal perbincangan kami di ruang tamu kediaman Baharam, Selasa (25/9).

Kami sengaja tandang ke rumah Baharam di Desa Kosgoro, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Kedatangan kami disambut hangat oleh Lukman dan Baharam. Keduanya bersedia membagi kisah, tentang proses mensyukuri disabilitas yang ditakdirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka. Baharam yang mengenakan kaos biru berkerah dan songko putih mengulas masa-masa getir itu di ruang tamu.

Sementara Lukman berseragam cokelat muda khas PNS guru. Sementara Lukman sengaja meluangkan waktu untuk wawancara, usai menyelesaikan tugas mengajarnya hari itu.

Baharam melanjutkan, ia bersama sang istri pernah membawa Lukman ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Namun hasilnya, belum juga ada kemajuan. Tak sedikit dukun urut mencoba membantu, namun hasilnya nihil juga.

Lalu Baharam dapat kabar dari sanak, untuk ke Dusun Lubuk Ngin Baru, Kecamatan Selangit. Di sana, ada Unai Tino seorang dukun yang dikenal dengan pengobatan alternatif.

“Kami gendong Lukman ke sana (tempat Unai Tino). Kaki dia ini diurut pakai serbuk putih dari talas. Biasanya disebut pijar. Rasanya hangat. Tiga hari sekali Lukman dipijar. Barulah ada hasil. Kaki kirinya bisa digerakkan, tapi kaki kanannya tidak. Berulang kali kami coba dipijar lagi, kaki kanannya tetap lumpuh. Akhirnya, saya dan istri pasrah. Namun kami tetap bersyukur Lukman sembuh, meski tak seperti anak-anak yang lain (kakinya cacat),” terang Baharam.

Sejak sakit panas itu, dia (Lukman) tidak pernah sakit parah lagi. Tapi begitulah, jalannya tidak normal. Karena kaki kirinya lumpuh. Dalam istilah medisnya, polio.

“Saat menyadari Lukman tak bisa jalan normal, jelas hati kami pedih. Namun lebih pedih lagi, saat lihat dia diejek teman-temannya waktu SD. Karena saya Penjaga SDN 2 Terawas. Jadi selalu melihat bagaimana keseharian dia di sekolah. Kadang ada anak-anak yang sebenarnya normal, namun mengejek Lukman dengan jalan pincang menirukan Lukman. Hati saya pedih, namun saya tidak marah,” tutur Baharam, yang duduk didampingi Lukman.

Lukman membenarkan itu. Bahkan, ia sempat ngamuk dengan teman-temannya yang mengejek.

“Saya ingat betul, saat itu saya kelas 2 SD. Hampir setiap hari saya diejek. Memang awalnya saya diam. Setelah beberapa waktu, saya bosan juga diejek terus. Lalu saya pukul teman-teman yang mengejek saya itu pakai sapu. Setelah itu saya dikucilkan, saya tidak punya teman. Saya benar-benar putus asa. Saya khawatir kalau dewasa nanti, saya hanya akan jadi beban. Sebab, kalau jalan jauh saya nggak bisa. Kadang harus digendong. Saya akan sangat tergantung dengan orang lain. Saya gusar dengan itu,” tutur Lukman yang kini sudah jadi Guru sekaligus Kepala Laboratorium IPA SMPN Simpang Kosgoro, Kabupaten Musi Rawas itu.

Berbeda dengan sang ibu. Menurut Baharam, istrinya tak pernah mengeluhkan ejekan teman-teman Lukman.

“Istri saya (almh Badariah) sabar sekali. Dia selalu bilang ke Lukman, Tuhan lebih tahu,” kata Baharam.

“Iya, ibu tidak pernah mengizinkan saya membalas ejekan itu. Kalau saya sampai berkelahi gara-gara diejek, dia selalu bilang itu nggak baik. Saya harus balas ejekan itu dengan bukti prestasi. Saya harus jadi bintang, agar kelak tak jadi ejekan,” Lukman menambahkan.

Sejak kerap diejek teman, Lukman tak pernah mengisi waktu istirahatnya untuk main di luar rumah. Sepulang sekolah, ia masuk ke kamar Rumah Sekolah SDN 2 Terawas yang didiami keluarganya.

“Dia memilih di kamar. Bukulah teman dia. Pernah saat saya pulang kerja, saya kasih dia oleh-oleh makanan dan mainan. Dia nggak begitu suka. Suatu saat lagi, saya coba belikan dia buku, dia senang sekali. Sejak saat itu, dia baca semua buku,” papar Baharam.

Lebih kurang tiga tahun melalui masa-masa sulit penuh ejekan. Baharam dan Bahariah pun tetap galau.

“Kami berdua nyaris setiap saat memikirkan Lukman. Mau jadi apa dia nanti. Nyadap karet tidak mungkin, karena berjalan saja dia kesulitan. Kerja keras yang lain juga tidak mungkin. Namun, kami selalu yakin Allah SWT punya rencana baik dari setiap takdir yang Dia tentukan. Kami percaya itu. Pokoknya doa terus, dan dukung apapun yang Lukman mau raih,” jelas Baharam.

Memasuki kelas IV SD barulah potensi Lukman tergali. Ia mulai jago Matematika. Lukman terus tertantang dengan soal-soal Matematika, sampai ia mengerjakan semua soal ujian.

Sang ibu terus memberi dukungan. Lukman tak menyia-nyiakan motivasi dari sang ibu. Ia juga mendapat semangat dari ketiga saudaranya, Rosna, Redho, dan Rukmawati.

Prestasinya terus melesat. Ia kerap menjadi juara kelas. Sehingga, setelah lulus dari SDN 2 Terawas, Lukman memilih sekolah di MTsN Lubuklinggau, lalu lanjut ke MAN 1 Lubuklinggau.

Setelah lulus dari MAN 1 Lubuklinggau, Lukman memantapkan diri untuk menjadi guru. Lalu ia memilih ikut tes jalur umum masuk salah satu kampus di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI).

“Tapi di kampus itu, saya ditolak. Fisik saya tidak memenuhi syarat. Saya nggak bisa jadi guru, karena saya begini,” tutur Lukman.

Ia sempat kecewa, namun tak patah arang. Ditahun yang sama Lukman lalu mengikuti SPMB di Universitas Negeri Padang (UNP), barulah ia diterima di Prodi Pendidikan Fisika.

“Saya pilih Fisika karena menantang. Dari sisi keilmuannya lebih rumit, tapi saya suka kerumitan itu,” kata pria kelahiran 27 April 1984 itu.

Baharam mengaku tak tahu menahu tentang bagaimana proses kuliah Lukman. Ia dan Badariah hanya mensupport doa yang tanpa putus.

Kejutan didapat pasangan suami istri ini Oktober 2008. Saat itu Baharam dan Badariah mengikuti Sidang Senat Terbuka wisuda Lukman. Putranya itu jadi wisudawan terbaik.

Tak hanya itu, November 2009 Lukman kembali memberi kejutan bagi kedua orang tuanya, karena dia diterima sebagai CPNS Guru IPA SMP di SMPN Kosgoro. Sejak saat itu, ia tak pernah dimutasi dari tempat tugasnya.

Lalu, tahun 2013 Baharam dan Badariah kembali mendapat surprize dari Lukman. Ia menjadi wisudawan terbaik dan meraih gelar Magister Manajemen Pendidikan (M.Pd).

Baharam mengaku selepas Lukman kuliah, ia ingin mengajak sang istri menunaikan Ibadah Haji. Harta sisa ia menyekolahkan Lukman dan saudara-saudaranya, akan dijual, untuk ke Baitullah. Namun, cita-cita itu pupus. Badariah menghembuskan nafas terakhir, setelah menjalani proses pengobatan yang panjang sejak awal April 2014.

Lukman tahu tentang rencana itu. Dan tak dinyana, ia menyisihkan segala penghasilannya untuk memberangkatkan sang ayah ke Baitullah.

Seminggu sebelum berangkat, Baharam baru diberi kabar. Terang saja, ia terkejut.

“Tiba-tiba seminggu sebelum berangkat April 2018, dia kasih tahu ke saya. Bak, siap-siaplah, kita berangkat umrah. Saya bilang pakai apa. Duit nggak punya. Tahu lah gaji sudah nggak ada. Pensiunan penjaga sekolah berapa gajinya. Jadi nggak mungkin umrah. Dia bilang, sudah saya siapkan. Nah, dari situ, saya nggak bisa bilang apa-apa lagi. Saat di depan Kakbah pun saya nggak minta apa-apa sama Allah SWT. Saya cuma minta ampun dan bersyukur. Itu saja,” tutur Baharam dengan mata berkaca-kaca.

Perjalanan hidup Lukman, ternyata jadi inspirasi salah seorang siswi disabilitas yang kini menimba ilmu di SMPN Simpang Kosgoro. Dia adalah Linda. Saat kami bincangi di sekolah, dengan suara terbata-bata Linda ingin sukses seperti Lukman.

“Saya mau jadi orang sukses, seperti Pak Lukman,” kata Linda, didampingi Kepala SMPN Simpang Kosgoro, Komiah di ruang lobi sekolah. (bersambung)

Rekomendasi Berita