oleh

Liburan Berujung Duka, Pelajar SMKN Diseret Ombak

LINGGAU POS CO.ID- Niat Arief Maihendra (18) warga RT 04 Kelurahan Sungai Lilin Jaya Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menikmati liburan Tahun Baru 2020 berujung duka. Siswa SMKN 1 Sungai Lilin ini hilang digulung ombak di Pantai Panjang Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, Kamis (2/1/2020) sekitar pukul 14.00 WIB.

Meski empat unit perahu karet dari Polairud dan Basarnas sudah mencari dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, jasad korban belum ditemukan. Jika kondisi cuaca masih memungkinkan, pencarian masih akan dilanjutkan sampai malam hari. Dan informasi terakhir hingga pukul 21.00 WIB tadi malam, korban masih belum ditemukan.

Data dihimpun Bengkulu Ekspres (Group Koran Ini), lokasi korban tenggelamnya korban tepat di depan ikon tulisan Pantai Panjang. Tidak jauh dari Pos Polisi Pantai Panjang. Dari pengakuan pedagang kelapa muda, sebelum tenggelam, korban bersama tiga orang temannya Muhammad Arif (18), Restu Nanda (22) serta satu orang teman perempuan Riski Ramadhani (16) sempat minum es kelapa muda saat tiba sekitar pukul 12.00 WIB menggunakan sepeda motor. Usai minum es, mereka bermaksud berenang di pantai. Pedagang sekitar sempat menyarankan kepada mereka agar tidak mandi di pantai. Tetapi mereka masih nekat masuk ke dalam air.

Selain mendapat larangan dari warga, di dekat Pos Polisi Pantai Panjang terpasang tulisan dilarang mandi. Tidak lama mereka masuk ke dalam air, warga mendengar teriakan minta tolong dan tangan melambai.  Restu Nanda sempat menarik Arief Maihendra, tetapi upaya tersebut tidak berhasil karena Nanda juga nyaris tenggelam diseret ombak.

“Sudah sempat dilarang jangan mandi, tetapi mereka masih saja mandi. Kita tidak sempat menolong, kejadiannya cepat. Tadi sempat lihat tangan mereka melambai-lambai, saat kami dekat sudah tidak ada yang satu orang,” jelas pedagang minuman di lokasi kejadian.

Tidak banyak yang dikatakan saksi Restu saat dibincangi wartawan. Karena dia masih syok setelah berjuang melawan tarikan ombak Pantai Panjang. Terlebih lagi upaya dia menyelamatkan temannya gagal.

Dari pengakuan Riski Ramadhani, tiga orang temannya memang nekat berenang ke pantai. Tetapi Riski hanya bermain di pinggiran. Bahkan ia sempat mengingatkan agar tidak berenang di Pantai Panjang. Karena sudah ada larangan. Terlebih lagi pedagang juga sudah mengingatkan agar tidak berenang.

“Saya cuma main di pinggiran, tetapi mereka bertiga berenang. Sudah saya ingatkan jangan berenang, ombaknya besar, selain itu sudah ada larangan tidak boleh berenang,” cerita Riski.

Kepala Kantor SAR Bengkulu, Yudi Patria mengatakan pencarian korban tenggelam melibatkan Polairud, Polres Bengkulu, BPBD, TNI dan PMI. Penyisiran dilakukan sampai ke arah Pulau Baai tetapi belum menemukan hasil. Pencarian masih akan dilanjutkan dengan melakukan penyisiran ke arah Pantai Pasar Bengkulu-Pantai Jakat.

“Kita tetap melakukan pencarian sampai pukul 17.00 WIB, nanti akan kita cari ke arah Pasar Bengkulu. Ya semoga cuaca masih seperti ini bagus, sehingga tidak ada kendala kedepannya,” tegas Yudi.

Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Pol Sudarno, menceritakan empat remaja tersebut tiba di Kota Bengkulu sekira pukul 12.00 WIB menggunakan sepeda motor. Tujuan mereka memang berwisata di Pantai Panjang Kota Bengkulu. Setibanya di lokasi, mereka sempat minum kelapa muda di salah satu warung yang ada di pantai. Setelah itu mereka langsung mengarah ke bibir pantai.

“Sewaktu berenang, korban mengarah menjauh dari bibir pantai dan dipanggil oleh teman-temannya agar jangan terlalu jauh. Tidak lama berselang terdengar teriakan korban meminta bantuan dan temannya langsung berenang ke arah korban dan sempat menarik korban namun tak berhasil.
Korban diperkirakan masih berada dibawah gulungan ombak laut yang mana saat ini masih dilakukan pencarian oleh tim di lapangan,” jelas Sudarno.

Pamit Tahun Baruan di Rumah Nenek

Sementara itu Ujang Fahri orang tua saksi Muhammad Arif kepada Harian Muba (Group Koran Ini) mengungkapkan jika anak, menantu beserta korban dan Restu Nanda Aditya berangkat dari Sungai Lilin pada Selasa (31/12/2019). Mereka izin kepada dirinya untuk merayakan tahun baru di rumah neneknya di Kota Sekayu.

“Tapi bukannyo di Sekayu, malam Rabu (1/1/2020) Ari nelpon dio berempat tu lagi di Lahat, aku terkejut dak tau ngapo mereka laju ke Lahat. Nah pagi ini (kemarin) nelpon lagi sudah ado di Bengkulu, nah siangnyo ditelepon kejadian itu,” cerita Ujang.

Ujang mengungkapkan anaknya bersama korban dan juga Restu memang tiga sekawan sejak kecil. Bahkan mereka sekolah di tempat yang sama sejak SD hingga tingkat SMK.

“Sebelumnyo mereka wong tiga itu sempat minta izin nak tahun baru di Palembang, tapi aku dak boleh, ku suruh bae tahun baruan tempat neneknyo di Sekayu, eh dak taunyo malah ke Bengkulu,” jelas Ujang.

Ujang yang juga RT di Kelurahan Sungai Lilin Jaya ini mengungkapkan, dirinya sama sekali tidak menyangka korban bisa mengalami kejadian tersebut. Ia mengaku sudah menghubungi korban dan saksi menyuruh pulang dan menghalangi untuk mereka pergi. Namun ketiganya masih tetap berangkat.

“Orang tua Arief memang lagi di Lahat kabarnya karena ada acara keluarga, tapi aku tidak tahu pasti itu benar idak,” ucapnya.

Ujang berharap jasad korban Arief bisa segera ditemukan. Ia berencana berangkat ke Bengkulu untuk melihat kondisi dan menjemput anaknya.

“Ini saja masih mencari kendaraan untuk ke sana,” ucapnya.

Hal senada juga dijelaskan Mus Istri Ujang Fahri. Ia mengungkapkan saking akrabnya Arief sudah dianggap sebagai anak sendiri dan sering main ke rumahnya.

“Memang akrab benar mas, sudah teman dari kecil sampai besar, kami juga sangat syok dengar kabar ini,” jelasnya.

Mus mengungkapkan tidak ada keanehan saat keempatnya berangkat dari rumah.

“Namun saya ingat dia (korban) tidak salam ke saya saat berangkat padahal kalau biasanya saat berangkat dengan Ari pasti dia juga ikut salam dengan saya,” akunya.(*)

Artikel ini sudah terbit di Harian Pagi Linggau Pos dengan judul “Liburan Berujung Duka”

Rekomendasi Berita