oleh

Lahir Tanpa Tempurung Kepala, Bayi Ferza Butuh Bantuan

LINGGAUPOS.CO.ID – 3 November 2020, Ferza lahir. Kini usianya baru 21 hari. Namun fisiknya berbeda dengan bayi pada umumnya. Putri pertama pasangan Fero Fernando dan Reza Metiara ini lahir tanpa  tempurung kepala.

Saat dikunjungi di rumahnya Rabu (25/11/2020) di Desa Taba Tinggi, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, kondisi Ferza sangat memprihatinkan.

Nenek Ferza, Rima Kustiana didampingi sang suami Familidin menjelaskan Ferza baru saja menjalankan pengobatan akibat pendarhan di kepala.

Kata Rima, Ferza lahir melalui operasi cesar di RS Dr Sobirin Lubuklinggau dengan kondisi yang sehat.

Usai tahu kondisi Ferza tak memiliki tempurung kepala, pihak keluarga juga menanyakan kepada pihak rumah sakit apakah bisa dilakukan penambahan batok kepala?

Namun, kata Rima, pihak rumah sakit mengatakan tidak bisa.

“Sempat kami tanyokan jugo apo ado solusi tambah daging atau batok di Rumah Sakit Curup. Tapi  dijawab mereka idak ado. Itu waktu kami nak ngganti kain kasa yang lengket. Nah, pas dilepas di Bidan Curup, jadi pendaharan. Barulah kami bawa ke RS AR Bunda Lubukilinggau,”jelasnya.

Dijelaskan Rima, bahwa yang tidak ada batok ini ada dibagian atas kepala, batang kening kebelakang kepala, di bagian bawah kepala masih terdapat rambut. Jadi isi kepala bayi ini keluar. Dan memang dikatakan nenek Ferza, sewaktu di dalam kandungan, ibunya tidak pernah melakukan cek kandungan. Jadi tidak tahu jika terjadi masalah kepada bayinya.

Dijelaskan juga oleh Rima bahwa Ferza diberikan susu ASI dan juga Formula, dan setiap 3 jam sekali kain kasa yang berada di kepalanya diganti. Dan ketika diberi ASI atau susu formula, Ferza mendapatkannya dari suntikan kemulut yang dilakukan ibunya.

“Sampai saat ini belum adao solusi untuk Ferza, kito sedih jugo dikasih cobaan seperti ini, kami inginnya Ferza panjang umur dan sehat,”harap Rima.

Dokter Kandungan RS AR Bunda Lubuklinggau, dr Wahyu,Sp.Og mengatakan bayi yang terlahir tanpa tempurung kepala bisa dikarenakan adanya virus selama kehamilan.

“Biasanya karena virus itu, virus tokso, rubella, atau ibunya mengalami gizi buruk. Kurang asupan seperti asam folat, zat besi dan lainnya”ungkapnya.

dr Wahyu mengatakan biasanya anak yang tanpa tempurung ini tidak lama hidupnya. Biasanya beberapa jam setelah dilahirkan meninggal dunia.

“Kalau kasusnya si Bayi masih hidup mungkin masih ada selaput penyelubung di otaknya masih ada,”jelasnya.

Sekarang ini, lanjut dr Wahyu, banyak kasus-kasus bayi yang terlahir tanpa tempurung kepala ini mudah terinfeksi.

Pada kasus ini, dr Wahyu menyarankan agar si bayi dikonsultasikan lagi dengan dokter anak. Karena, tidak adanya tempurung kepala bisa memiliki kelainan yang lainnya.

“Ini harus dirujuk ke Palembang, kalau masalah biaya, BPJS bisa itu, biasanya kalau kelainan kayak gini bisa di cover BPJS,”ungkapnya.(*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita