oleh

Lagi, Prostitusi Berkedok Salon

Mengaku Lebih Aman

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Pemberantasan bisnis prostitusi terselubung di Kota Lubuklinggau patut jadi program prioritas. Pasalnya jika tidak, dikhawatirkan anak remaja yang bergaya hidup hedonis, tergiur ‘bisnis haram’ ini.

Setelah mengungkap dugaan bisnis prostitusi berkedok kedai kopi di Jalan HM Soeharto. Tim Investigasi Linggau Pos melanjutkannya dengan menyusuri Jalan SMB II.

Hasil Minggu (7/1) salah satu salon kecantikan di Jalan SMB II, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I diduga juga menjalankan bisnis layanan lelaki hidung belang.

Investigasi dilakukan pukul 13.00 WIB, ke salah satu salon pangkas rambut Kelurahan Simpang Periuk.

“Di sini tidak juga potong rambut, bisa juga cuci muka, krimbat, smoothing, dan pijit. Bahkan bisa juga plus-pelus,”ungkap pengelola salon tersebut, Herry (35).

Pada saat masuk ke salon tersebut, tamu disambut oleh dua gadis cantik bernama ML dan MY, yang menawarkan jasanya.

“Kalau biaya pijit yaitu Rp. 150 ribu per jam, kalau mau plus-plus itu nambah sebesar Rp 350 ribu per jam. Jadi totalnya kalau mau keseluruhan Rp 500 ribu per jam,” jelasnya Herry.

Salon tersebut, buka pukul 08.00-20.00 WIB. Untuk karyawan Herry bukan hanya mengambil dari Kota Lubuklinggau. Namun ada juga dari luar.

Tim investigasi sempat menanyakan, kenapa harus memakai nama salon kecantikan, untuk menutupi bisnis plus-plusnya.

Herry justru beralasan, jika membuka bisnisnya dengan nama salon kecantikan relatif lebih aman.

“Bedalah kalau kota-kota besar yang secara terang-terangan. Kalau di salon kecantikan itu bisa relatif aman,” terangnya

Biasanya, PSK yang berkedok sebagai karyawan salon kecantikan memang terlihat menarik. Selain penampilan mereka yang bersih, caranya pun relatif halus untuk mengajak berkencan.

Pol PP Harus Segera Bertindak

Mendengar informasi maraknya dugaan kedai kopi, bahkan salon kecantikan yang membuka layanan plus-plus, anggota DPRD Kota Lubuklinggau, Merizal menyesalkan hal tersebut.

Politisi Partai Demokrat ini meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau, dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) untuk segera turun ke lapangan, guna menindak para pelaku usaha yang nakal, atau menyalahi prosedur tersebut.

“Mestinya, Sat Pol PP rutin melakukan razia ke tempat-tempat yang disinyalir kerap dijadikan ajang prostitusi. Dan kalau ditemukan segera di tutup, supaya tidak berkembang ke tempat lain,” jelas Merizal, Sabtu (6/1).

Apalagi, menurut Merizal, sudah jadi rahasia umum kalau tempat-tempat panti pijat maupun salon kerap dijadikan tempat prostitusi, atau menyalahi izin usahanya.

“Tindakan tegas patut diberlakukan untuk para pelaku usaha yang nakal, demi terciptanya generasi penerus bangsa yang bermoral dan berakhlak mulai, untuk menyambut estafet kepemimpinan ke depan,” jelasnya.

Bila perlu, dilanjutkan Merizal, dilakukan pemeriksaan terhadap izin-izin para pelaku usaha yang diduga nakal, sebab ada kemungkinan tempat yang dikelola mereka tidak memiliki izin.

“Periksa izin seluruh tempat usaha yang disinyalir nakal, kalau tidak ada langsung ditutup saja. Hal yang sama, berlaku untuk pelaku usaha yang menyalahi izin, supaya tidak berkembang ke daerah lain,” ungkapnya.

Psikolog Nelly Tridinanti mengatakan, salah satu cara mengurangi jumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) yakni dengan melakukan rehabilitasi.

“PSK bisa direhabilitasi dan diberikan skill untuk bekerja, seperti menjahit, tata boga, salon dan sebagainya. Nah, ini adalah tugas pemerintah setempat yang bisa membuat sebuah Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Wanita (BPRSW),” kata Nelly, yang merupakan Alumni Pasca Sarjana Universitas Mercubuana Yogyakarta itu.

Karena, lanjut Nelly dengan adanya balai rehab seperti itu, kemungkinan besar dapat mengurangi pertumbuhan PSK.

“Karena kita tahu, rata-rata wanita yang menjadi PSK memiliki latar belakang ekonomi, pendidikan dan pengetahuan agama yang rendah walau tidak semua.

“Nah dengan adanya rehabilitas, maka mereka akan mendapatkan pendidikan nonformal berupa pengarahan, bimbingan, ilmu keagamaan dan juga skill yang bisa menghasilkan uang,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi agar wanita tidak terjun ke dunia prostitusi dimulai dari keluarga, pola asuh yang tepat. Khususnya pada usia remaja. Karena usia remaja merupakan usia yang labil dan mudah tergoda dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Orang tua harus menanamkan nilai-nilai agama sejak dini.

“Keluarga juga harus memberi teladan perilaku yang baik, agar bisa membentuk perilaku anak yang lebih berkarakter. Selanjutnya, harus mengontrol lingkungan anak. Agar anak tidak salah memilih teman dan pergaulan,”tuturnya. Lalu, memperkuat benteng diri dengan nilai-nilai agama dan keimanan, agar tidak mudah terbujuk oleh hal-hal yang menyimpang dari norma agama dan masyarakat.(20/11/12)

Komentar

Rekomendasi Berita