oleh

Kurir Ekstasi Dituntut 10 Tahun

LUBUKLINGGAU – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anton Sujarwo, SH menuntut terdakwa Walkopli (35) warga Desa Marga Bakti Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas (Mura) selama 10 tahun penjara.

Walkopli dinyatakan menjadi perantara peredaran narkotika jenis pil ekstasi sebanyak 200 butir.

Sidang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Kamis (20/12) dipimpin Hakim Ferdinaldo SH,MH didampingi Hakim Anggota Hendri Agustian SH,MH dan Tatap Situngkir SH dengan Panitera Pengganti (PP) Boy Hendra Kusuma SH.

Menurut JPU, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 114 Undang-Undang (UU) RI No.35 Tahun 2009.

Adapun pertimbangan JPU yang memberatkan terdakwa, bahwa perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah yang sedang gencar-gencarnya memberantas Narkoba. Sedangkan hal yang meringankan, bahwa terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya.

Terdakwa memohon keringanan hukuman kepada majelis hakim, karena ia menyesali perbuatannya.

Berdasarkan dakwaan JPU, peristiwa yang menyebabkan terdakwa duduk di kursi pesakitan, Sabtu 11 Agustus 2018 sekitar pukul 15.00 WIB, terdakwa didatangi Ferry (DPO).

Ferry menawarkan pekerjaan kepada terdakwa, untuk mengambil paket berisi narkoba jenis pil ekstasi dan satu paket sabu dengan upah Rp2 juta.

Kemudian keduanya sepakat, lalu Ferry, memberikan satu paket sabu kepada terdakwa. Ferry menugaskan terdakwa untuk mengambil pil ekstasi dari Mael (DPO), di daerah Jalan H Madnur Kelurahan Muara Enim, Kecamatan Lubuklinggau Barat I sembari memberikan nomor kontak ponsel Mael.

Sekitar pukul 20.30 WIB terdakwa berangkat dari rumahnya di Desa Marga Sakti, menuju Kota Lubuklinggau dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Xeon. Tiba di Lubuklinggau sekitar pukul 22.15 WIB, terdakwa langsung menghubungi Mael.

Kemudian, Mael memberitahu jika ingin mengambil pil ekstasi di rumah Ana Patra di Jalan H Madnur Kelurahan Muara Enim, Kecamatan Lubuklinggau Barat I.

Kemudian, terdakwa mencari alamat Ana Patra. Saat tiba di rumah Ana, terdakwa mengetok pintu pagar rumah tersebut, dan Anapun Keluar dari rumah dan membuka pintu pagar tersebut.

Lalu terdakwa memperkenalkan diri, jika dirinya temannya Mael dan disuruh untuk mengambil pil Ekstasi. Lalu Ana menjawab, ”Iya tunggu sebentar, saya mengambil barang dahulu”.

Kemudian Ana Patra kembali masuk ke dalam rumah, dan tak lama, Ana kembali keluar sambil membawa satu bungkus plastik hitam yang berisikan pil ekstasi dengan berkata, ”ini barangnya”. Dijawab oleh terdakwa “iya”. Kemudian terdakwa menerima satu bungkus plastik hitam tersebut.

Setelah menerima, terdakwa pergi dari rumah Ana Patra, namun tidak jauh terdakwa pergi dari rumah Ana, tepatnya masih berada di Jalan Madnur, tiba – tiba dihadang oleh satu unit mobil Avanza warna hitam.

Kemudian keluar beberapa orang dari mobil tersebut, ternyata rombongan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan (Sumsel).

Merasa terkejut, sehingga sepeda motor terdakwa terperosok ke dalam siring, dan terdakwapun terjatuh hingga Helmnya terlepas dan tergeletak di depan pagar rumah warga.

Kemudian petugas langsung melakukan pemeriksaan di badan terdakwa dan menemukan satu plastik bening yang berisikan sabu seberat 0,248 gram dari kantong belakang celana terdakwa.

Namun tak hanya itu, petugas menemukan helm warna merah hitam, merek BMC yang terjatuh tersebut, dan menanyakan kepemilikannya, lalu terdakwa mengakui jika helm tersebut miliknya.

Kemudian petugas melakukan pemeriksaan terhadap helm tersebut, dan menemukan satu kantong plastik warna hitam yang berisikan satu kantong plastik bening yang berisikan 200 ratus butir MDMA/tablet ekstasi warna orange berbentuk Harimau seberat 85,21 gram. Lalu, terdakwa dibawa ke Kantor BNN untuk diproses lebih lanjut.(cw1)

Rekomendasi Berita