oleh

Kurang Motivasi Mencintai Buku

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Jika dulu rendahnya minat baca disebabkan minimnya buku bacaan anak, kurangnya motivasi untuk mencintai buku. Namun kini disebabkan tidak bijaknya menggunakan gadget sebagai salah satu media informasi.

Hal ini diungkapkan Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP-PGRI Lubuklinggau, DR Rusmana Dewi, Senin (14/5).

Menurutnya, orang tua pun tidak bijak apa tujuan memberikan perangkat pintar pada anak-anak selain media hiburan yang mencandu.

Saat ini, papar DR Rusmana Dewi, hampir setiap umur dan golongan mudah mendapatkan perangkat pintar.

Adanya akses internet di mana-mana seringkali menyediakan berbagian konten yang tidak layak dilihat oleh anak-anak.

Apa yang harus dilakukan?

Menurutnya, perkembangan teknologi dan informasi tidak bisa disangkal. Ia menyarankan, sebagai orang tua idealnya harus berperan aktif mengawasi anak-anak yang memegang perangkat pintar dan paham teknologi.

“Maka orang tua dapat mengarahkan anak-anak mereka untuk mengakses buku elektronik (E-Book) yang bisa mereka akses di manapun mereka berada,” imbuhnya.

Dan orang tua dapat membantu untuk memilah bacaan yang layak dengan usia anak, lalu memotivasinya untuk rajin membacanya.

Lalu bagaimana dengan orang tua yang hanya mampu membelikan perangkat pintar?

Maka DR Rusmana Dewi menegaskan, sudah bisa dipastikan, buku tidak akan pernah jadi kebutuhan sebagai sumber informasi. Anak-anak akan berlaku ingin serba instan, ketika butuh satu informasi maka langsung googling.

Kesimpulannya, imbuh RD Kedum, perlu sikap bijak orang tua ketika memberikan gadget pada anak, dan memotivasi cinta dan dekat dengan buku sejak dini. Mudah-mudahan kebiasaan dan didikan dimulai dari rumah bisa mengubah pola pikir dan daya baca anak.

Selain itu, permasalahan klasik rendahnya minat baca anak Indonesia juga disebabkan oleh keterbatasan akses pada buku. Banyak daerah tidak memiliki perpustakaan dan tokoh buku, dan kebiasaan membaca tidak dibentuk sejak dini di bangku sekolah.

Menjelang peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2018 nanti, DR Rusmana Dewi berpendapat situasi ini penting jadi perhatian. Karena peningkatan kapasitas sumber daya manusia erat kaitannya dengan kemampuan literasi.

“Meski begitu, adanya perpustakaan tidak serta merta langsung dapat meningkatkan minat baca buku bagi anak. Apalagi saat ini hampir setiap anak dari dini sudah terbiasa memegang Android. Sehingga hari-harinya anak tidak bisa lepas dengan gadget-nya,” terang ibu yang dikenal memiliki Nama Pena RD Kedum itu.

Meski begitu, ia menambahkan, jika melihat minat baca anak-anak Indonesia saat ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya, secara umum belum mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.

Ia mengutip, dari studi ‘Most Litterred Nation in The Word’ yang pernah dirilis oleh Central Connecticiut State University (2016), Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Posisi Indonesia persis di bawah Thailand. Unisco pernah mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya 1.000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca.

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Prof. DR Sirozi sependapat dengan pengungkapan tersebut.

“Minat baca itu bisa tumbuh dari dalam keluarga. Asal si bapak dan si ibu kalau di rumah jangan sibuk dengan gadget masing-masing. Yang terjadi saat ini, waktu di rumah pun makin tak berkualitas. Karena kerapkali hanya main gadget. Sementara waktu untuk keluarga makin minim,” jelasnya.

Prof. Sirozi memastikan, membaca buku bukan hal kuno. Dan ia juga berharap generasi muda bisa memanfaatkannya melalui gadget.

“Tidak apa baca buku di gadget. Asal ilmunya masuk. Ilmu itu yang penting!” terangnya. (02)

Rekomendasi Berita