oleh

Kuasa Hukum Vanessa Angel bantah Mangkir Dipanggil Polisi

JAKARTA – Tim Kuasa Hukum Vanessa Angel membantah kabar atau pemberitaan yang beredar bahwa kliennya Vanessa Angel mangkir dari panggilan pemeriksaan sebagai tersangka yang dilakukan Penyidik Subdit V Siber Ditreskrimus Polda Jatim.

Salah satu kuasa hukum Vanessa Angel, Aga Khan ketika dikonfirmasi mengatakan, bahwa pihaknya bukan tidak mengindahkan panggilan polisi tapi faktanya belum mendapatkan surat panggilan resmi dari Polda Jatim seperti yang dikatakan polisi kepada media.

“Emang belum ada panggilan resmi dari Polda Jatim. Jadi tidak benar kemarin-kemarin ada berita tentang klien saya yang tidak datang tolong jangan sembarang menulis info-info yang tidak benar,” tegas Aga Khan kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Selasa (22/1).

Dari awal saat Vanessa diperiksa sebagai saksi sampai saat ini, lanjut Aga Khan pihak Vanessa selalu kooperatif terhadap peraturan yang dijalankan Polda Jatim.

“Kita selaku kuasa hukum akan selalu koperatif sejak menjadi saksi,” lanjut pengacara asal Palembang ini.

Kendati demikian, Vanessa dan tim kuasa hukum akan mengambil langkah hukum yakni akan mengajukan saksi meringankan dan saksi ahli. Pihak tersangka berhak mengajukan saksi meringankan karena telah diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Langkah hukum akan kita lakukan sesuai KUHAP selaku tersangka mengajukan ahli dan saksi-saksi meringankan,” ujarnya.

Vanessa Angel telah menjadi tersangka kasus prostitusi online dan dijerat pasal 27 UU ITE Nomor 11 Tahun 2008. Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan mengatakan bahwa aktris berparas cantik itu diagendakan diperiksa Senin (21/1).

Tapi sayangnya, Vanessa tidak hadir memenuhi keharusan wajib lapor terkait status hukumnya sebagai tersangka. Bahkan kata Luki pengacara sudah mengonfirmasi akan hadir.

“Sesuai konfirmasi dari pengacaranya memastikan artis VA akan datang,” ucapnya di Mapolda Jatim, Senin (21/1).

Dilanjutkan Luki, pihaknya meminta penyidik membuat surat panggilan tersangka kedua terhadap mantan kekasih Didi Mahardhika itu.

Jika Vanessa masih mangkir dari panggilan tersebut maka akan dijemput paksa. “Nanti Jumat besok akan melayangkan panggilan tersangka (Vanessa Angel),” jelasnya.

Sementara Pengamat Hukum Pidana Muzakir mengatakan, ketika seseorang sudah ditetapkan sebagai tersangka penyidik punya wewenang untuk melakukan penahanan atau pun tidak menahan.

“Karena menyangkut pidana mungkin itu prinsipnya bahwa itu nanti tergantung visum aja kalau visum tenyata menguatkan dugaan-dugaan selama ini ada kemungkinan dia di tahan gitu,” jelas Muzakir kepada Fajar Indonesia Network Selasa (22/1).

Pakar Hukum Pidana Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengatakan terkait padal 27 ayat 1 menyangkut kesusilaan yakni mengirim gambar dan video konten fornografi kepada mucikari. Sehingga peran antara mucikari dan Vanessa sebaliknya.

“Itu artinya apa kalau dia mucikari foto-foto kemudian meng-upload atau mengirimkan kepada calon-calon pelanggan itu, itu berarti yang bekerja adalah mucikari gitu, tapi kalau dia sudah mengirimkan mucikarinya terus kemudian memasarkan video itu, itu artinya gagasan ini untuk memasukkan diri yah si Vanessa sendiri,” jelas Muzakir.

Sedangkan mucikari lanjut Muzakir dapat dikonotasikan sebagai menajemen pemasaran. Pasalnya si Vanessa telah menentukan harganya sendiri dan menentukan tempat pertemuan dengan pelanggan sendiri. Bahkan manajemen pemasaran mendapat fee dari Vanessa.

“Jadi ini bisa dibaca nanti ketika hasilnya dibaca gitu jadi yang menentukan harga itu adalah si Vanessa sendiri, terus kemudian Vanessa ngasih uang fee kepada si pemilik menajemen tadi gitu loh,” jelasnya.

Lebih lanjut Muzakir menjelaskan, bahwa mucikari berperan merekrut kemudian mempekerjakan perempuan untuk melacurkan diri baik itu secara sukarela. Dan mucikari pula yang menentukan harga kemudian PSK dibayar oleh mucikari.

“Yang membayar perempuan itu yah mucikarinya, artisnya si pekerja pada mucikari gitu praktik selama ini. Kasus Vanessa mucikarinya itu hanya sebagai menajemen pemasaran gitu. Jadi semua harga yang menentukan si Vanessa tempat juga dan seterusnya dan mucikari itu dibayar Vanessa,” paparnya.

“Inikan namanya jadi berbeda sehingga Vanessa kalau konsep sebagai mucikari dia korban ini justru sebagai pelaku,” lanjut Muzakir.

Ia pun menjelaskan Vanessa dijerat UU ITE karena konten pornografi dibuat oleh Vanessa sendiri dan sengaja agar di-upload atau disiarkan kepada calon-calon pelanggan. (dim/din/fin)

Rekomendasi Berita