oleh

Krisis Air Bersih

LINGGAU POS ONLINE – Krisis air bersih mulai melanda sebagian warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Bahkan, untuk mendapatkan air bersih warga Desa Setia Marga, Kecamatan Karang Dapo harus beli. Harganya Rp5.000 per jeriken.

“Dengan uang Rp5.000 kami mendapatkan air satu jeriken 30 liter,” ungkap Bambang, Kepala Desa (Kades) Setia Marga, Rabu (7/8). Dijelaskannya, kemarau panjang yang sedang terjadi, membuat stok air bersih di desanya habis. Mulai dari sumur, embung dan sungai sudah kering.

“Selama ini kami menggunakan air bersih dari sumur. Tapi sekarang sudah mengering. Bahkan kami antisipasi dengan membuat embung. Embung pun mengering karena mata airnya kecil. Jadi untuk mandi dan cuci kami semakin kewalahan,” jelasnya.

Sementara Barli (35) juga membenarkan, krisis air bersih terjadi di tempat tinggalnya, Desa Setia Marga. Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus mengeluarkan uang Rp300 ribu untuk semobil air.

“Kami berharap ada solusi dari pemerintah soal pasokan air bersih. Karena kalau terus membeli Rp300 ribu per mobil, masyarakat khususnya yang kurang mampu sangat kewalahan,” harapnya.

Terpisah Direktur PDAM-TBS Kota Lubuklinggau, Hj Ratna Machmud didampingi Kabid Teknik, Hadi Purwanto mengatakan kemarau membuat debet air berkurang. Sehingga memengaruhi distribusi ke beberapa wilayah dalam Kota Lubuklinggau. Khususnya di daerah dataran tinggi. Untuk mengantisipasi hal tersebut PDAM-TBS Kota Lubuklinggau menerapkan sistem buka tutup pendistribusian.

“Jadi benar-benar kami jadwalkan, agar pembagian air bersih merata. Untuk dataran tinggi memang lebih kecil, salah satunya seperti di Kelurahan Karya Bakti, Muara Enim dan kawasan di Jalan Lingkar Selatan lebih kurang 500 pelanggan. Mereka tetap kami distribusi air bersih tapi belum maksimal,” jelas Hadi Purwanto.

Ditambahkan Hadi Purwanto, selain buka tutup, PDAM-TBS Kota Lubuklinggau terus melakukan perbaikan pipanisasi agar distribusi air bersih ke pelanggan lebih maksimal. Mengingat ada beberapa pipa milik PDAM-TBS sudah harus diganti.

“Seperti sebelumnya kami sudah ganti pipa distribusi di Sungai Apur,” ungkapnya.

Sementara di Kabupaten Musi Rawas (Mura) 14 titik produksi pompa air Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang menjadi sumber air baku mengalami penyusutan.

Kepala BLUD SPAM Mura, Agus Hilman mengatakan musim kemarau seperti ini terpaksa pompa-pompa diturunkan lebih dalam lagi. Agar tetap terendam air dan bisa memproduksi air bersih dan pelanggan PDAM masih tetap terlayani.

Beberapa mesin pompa seperti di sungai Muara Lakitan, Sungai Musi, dan Sungai Keruh terpaksa harus di tambah pipa sambung agar bisa tetap terendam dengan air sungai.

“Kalau tidak disambung, maka airnya tidak bisa menyedot lagi. Karena air sungai sudah sangat menyusut sekali,” kata Agus Hilman.

Adapun kaitannya, semua dampak terjadinya kemarau membuat sejumlah lokasi wilayah kecamatan kesulitan memiliki sumber air baku, mulai dari Kecamatan Kelingi, Muara Lakitan,  terdapatnya sumber air baku berasal dari Sungai Musi, kemudian, wilayah Kecamatan TPK bersumber dari Sungai Beliti.

“Begitu juga Kecamatan Megang Sakti bersumber dari Sungai Muara Megang,” ucapnya.

Semuanya itu menjadi perhatian serius pihak BLUD SPAM, guna merutinkan pengawasan lokasi berdirinya jaringan SPAM. Agar sumber air baku jangan sampai terhenti menyalurkan air bersih.

“Sebagai langkah antisipasi terjadinya kekeringan air bersih, kita pastikan ada empat titik wilayah kecamatan dekat sumber air baku,” jelasnya.

Dikatakannya, sebagaimana untuk mengantisipasi pemenuhan kebutuhan air bersih. Tentunya, hal pertama kali dilakukan, pihaknya kembali terus rutinkan pengawasan terutama terhadap keberadaan pompa air terpasang saluran SPAM.

“Kami mengimbau kepada pelanggan agar bijak dan menghemat pemakaian air bersihnya. Dan bayarlah rekening air anda tepat waktu setiap bulannya, agar terhindar denda dan pemutusan dari petugas,” imbaunya. (nia/dlt)

Rekomendasi Berita