oleh

KPK Dianggap Paranoid

JAKARTA – Pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo yang mewacanakan jajarannya atau petugas di KPK dipersenjatai untuk menjaga kemanan dalam menjalankan tugas menjadi perbincangan hangat seluruh elemen masyarakat. Wacana petugas KPK dipersenjatai membuktikan adanya paranoid pimpinan KPK.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman mengatakan wacana Ketua KPK Agus Hardjo soal senjata menandakan adanya rasa ketakuatan yang menghantui para pimpinan KPK dan jajarannya.

“Aku tidak setuju KPK dipersenjatai, percayakan pengawalan kepada Kepolisian aja. Justru menunjukkan Ketua KPK Paranoid” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), di Jakarta, Senin (14/1).

Dirinya menegaskan KPK harusnya menjadi aparat penegak hukum yang ditakuti dan disegani oleh siapapun unsur pemerintah dan swasta khusunya koruptor karena kinerjanya yang tak pandang bulu dalam memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia.

“KPK seharusnya ditakuti karena kinerjanya yang garang memberantas korupsi, bukan ditakuti karena senjatanya,” jelasnya.

Dia menegaskan KPK harus beda dengan lembaga lainnya seperti Kepolisian dan Kejaksaan yang karena punya senjata tetapi malah tidak ditakuti oleh koruptor dan pelaku kejahatan yang maling uang negara.

Menurutnya, koruptor akan berusaha meloby oknum di Kepolisian dan Kejaksaan dalam bentuk iming-iming materi atau suap sehingga koruptor akan merasa lebih nyaman kalau ditangani oleh lembaga kepolisian dan kejaksaan.

“Salah satu alasan dibentuknya KPK krn alasan kurang percayanya masyarakat kasus korupsi ditangani kepolisian dan kejaksaan,” tegasnya.

Disinggung soal adanya teror yang terjadi di rumah Ketua KPK, Boyamin menegaskan sehatrusnya kejadian teroro tersebut dipandang positif yakni kinerja KPK ditakuti para koruptor.” Nah justru dengan adanya teror maka menunjukkan bukti KPK ditakuti, jadi sebaiknyaa fokus dan garang memberantas korupsi. Pengawalan dan pengamanan serahkan kepada polisi,” tutupnya.

Sementara, Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menyetujui jika petugas KPK dipersenjatai untuk menjaga keamanan saat menjalankan tugas melakukan penyelidikan dan penyidikan suatu perkara korupsi.

“Sangat mungkin dan mendukung terutama para penyidik dan penyelidik yang setiap saat jiwanya terancam,” katanya.

Disinggung soal selama ini KPK selalu didampingi Polri saat melakukan petugas pnggeledahan dan penyitaan terkait perkara korupsi, Fickar menganggap hal itu berbeda maksud dan tujuannya.

“Kalau dalam kedinasan mennggeledah atau menyita Polisi mendampingi KPK tetapi diluar kedinasan para penyelidik dan penyidik diujung tanduk. lihat saja Novel dikerjain dikomplek rumahnya,” tutupnya.

Sebelumnya, Kamis (10/1), Ketua KPK Agus Rahardjo menyebut tenagh mengevaluasi keamanan personel KPK terkait dengan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan. Langkah ini diambil menyusul serangkaian teror yang baru-baru ini terjadi di kediaman dua pimpinan KPK, Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Laode M Syarif.

Menurutnya, demi keamanan, ada kemungkinan ke depan petugas KPK dipersenjatai.”Kita sedang mengevaluasi, misal kan nanti petugas KPK akan dilengkapi dengan senjata tertentu. Ini nanti kita akan bicarakan hari-hari ini,” ujar Ketua KPK Agus Rahardjo, Kamis (10/1).

Dua bom molotov dilemparkan ke rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif pada Rabu (9/1). Sementara itu, sebuah tas disangkutkan di pagar rumah Ketua KPK Agus Rahardjo, Rabu (9/1). Polisi memastikan tas di pagar rumah Agus itu bukan berisi bom. (lan/fin)

Rekomendasi Berita