oleh

KPH Lakitan Bukit Cogong Kembangkan Madu Hutan

KESATUAN Pengelolaan Hutan (KPH) Lakitan Bukit Cogong mengembangkan madu hutan asli, ini salah satu produk dari hutan yang menjadi unggulan di sektor kehutanan dan sudah lama dikenal oleh masyarakat.

Madu hutan ini memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai suplemen kesehatan, kecantikan, anti toksin, obat luka, dan sebagai bahan baku dalam industri makanan dan minuman.

Sedikitnya terdapat 115 tanaman yang dapat menjadi sumber nektar di negeri ini, kenyataan ini memungkinkan produksi madu di Indonesia dapat terjadi sepanjang tahun. Di Indonesia, madu dihasilkan dari beberapa jenis lebah madu diantaranya Apis Andreniyormis, Apis Dorsata Dorsata, Apis Dorsata Binghami, Apis Cerana, Apis Koschevnikovi, Apis Nigrocicta, Apis Mellifera. Dari berbagai jenis lebah madu tersebut, jenis Apis Dorsata merupakan lebah madu Asia yang paling produktif dalam menghasilkan madu.

Petugas KPH Lakitan Bukit Cogong mem-packing hasil madu hutan yang sudah dikelola, di Kelurahan Talang Ubi Kecamatan Megang Sakti, Kamis (27/12).

Kepala KPH wilayah XIII Lakitan Bukit Cogong, Edi Cahyono, S.Hut ,M.Si menjelaskan Kabupaten Musi Rawas (Mura) salah satu kabupaten yang memiliki potensi produksi madu hutan yang tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh adanya kekonsistenan produksi madu hutan yang berasal dari pohon Sialang yang berada di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan.

Berdasarkan hasil pengamatan yang selama ini telah dilakukan, potensi produksi yang tinggi tersebut disebabkan tersedianya secara luas faktor-faktor yang mendukung produktivitas madu hutan. Antara lain potensi lebah Dorsata yang mencapai ribuan koloni, dukungan lingkungan habitat dan tanaman pakan lebah yang tersedia cukup luas.

KPH membina kelompok tani hutan pemanen madu, yang tersebar di wilayah Kabupaten Mura dan Kota Lubuklinggau dan beberapa persyaratannya. Yakni madu yang dipanen secara lestari, diolah dengan cara ditiriskan dan bersedia diuji keasliannya. KPH Lakitan Bukit Cogong melalui fasilitasi dari Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah V Palembang, memiliki Dehumidifier (alat penurun kadar air madu) dan refraktometer (pengukur kadar air).

Petugas KPH Lakitan Bukit Cogong memeriksa sarang madu hutan untuk dipanenkan dan menjadi madu, di Kelurahan Talang Ubi Kecamatan Megang Sakti, Kamis (27/12).

Proses penurunan kadar air madu dilakukan di ruangan khusus di Kantor KPH Kecamatan Megang Sakti, kemudian madu yang diterima dari petani disaring terlebih dahulu menggunakan saringan yang berfungsi untuk memisahkan kotoran.

Setelah itu diukur kadar airnya menggunakan refraktometer kadar air, selanjutnya madu dituang dalam wadah dengan ketebalan sesuai kebutuhan. Madu disimpan dalam rak penyimpanan dalam ruangan penurun kadar air dengan suhu 25 derajat.

Wadah yang tersusun di rak diproses dalam ruangan berjalan selama 24 jam, dan dilakukan pengukuran kembali kadar air dengan refraktometer. Apabila penurunan kadar air telah mencapai 22 (< 22 %) ditutup rapat untuk mengurangi udara yang dapat menaikan kembali kadar air madu.

Madu hasil kembangan KPH Lakitan Bukit Cogong yang sudah di packing dan siap di konsumsi, di Kelurahan Talang Ubi Kecamatan Megang Sakti, Kamis (27/12).

Selanjutnya proses packing dengan memasukan madu dalam botol yang telah ditimbang sesuai kebutuhan antara lain 350 gr dan 700 gr.
KPH juga melakukan kerja sama dengan Universitas Bengkulu dalam pengembangan Madu Klanceng (Klulut). Dan baru ini dilakukan pelatihan pengembangan budi daya madu klanceng yang di pusatkan di Desa Campursari Kecamatan Megang Sakti, yang saat ini telah dikembangkan Madu Klulut.

“Untuk menambah ketersediaan pakan lebah, dilakukan penanaman berbagai jenis bunga. Antara lain bunga Kumis Kucing, Lavender, Krokot, bunga Matahari, bunga Air Mata Pengantin dan jenis bunga lainnya,” kata Edi sapaannya. (dlt)

Rekomendasi Berita