oleh

KPAID Ungkap 18 Kasus Kekerasan Terhadap Anak

Selama Delapan Bulan

LINGGAU POS ONLINE, PASAR PEMIRI- Kasus kekerasan terhadap anak masih marak terjadi di wilayah Kota Lubuklinggau. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Lubuklinggau melansir data sejak Januari hingga Agustus 2018, telah terjadi 18 kasus kekerasan terhadap anak.

18 kasus itu terdiri dari 11 kasus hak asuh anak, dan 6 kasus merupakan kekerasan fisik, dan 1 kasus kekerasan seksual.

“Penyebab kekerasan terhadap anak didominasi atas perebutan hak asuh anak. Serta kurangnya perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang anak,” jelas Ketua KPAID Kota Lubuklinggau, Abdul Hamim dikonfirmasi Linggau Pos, Sabtu (25/8).

Hamim sapaannya mengatakan selama kurun Januari hingga Agustus 2018 kasus itu bisa diselesaikan dengan baik. Ia menambahkan dengan masih maraknya kasus kekerasan terhadap anak pihaknya mengajak seluruh masyarakat berperan aktif terhadap tumbuh kembang anak.

“Apalagi saat ini banyak anak menggunakan gadget. Sebab di dalam gadget banyak konten tidak layak dikonsumsi anak. Saya meminta Kominfo untuk turut serta mengatasi permasalahan tersebut,” ungkap Hamim.

Ia juga berpesan kepada orang tua agar lebih memerhatikan anak, terutama tumbuh kembangnya dan hak–hak anak yang tercantum dalam Undang–Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Hamim menyebutkan ada 10 hak anak patut dipenuhi. Yakni hak memiliki nama dan identitas, hak memiliki kewarganegaraan, hak memperoleh perlindungan dan hak memperoleh makanan, serta hak atas kesehatan dan hak rekreasi, kemudian hak mendapat pendidikan dan hak bermain.

Selain itu hak ikut serta dalam pembangunan dan hak untuk mendapatkan kesamaan.

“Semua ini agar tumbuh kembang anak menjadi baik. KPAID akan selalu terus mengawasi dan memonitoring setiap kasus yang menimpa anak,” janji Hamin.

Selain hal di atas, Hamim menyebutkan pada Oktober 2018, pihaknya akan lakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk memberikan motivasi buat anak–anak.

“Jika nantinya terjadi kekerasan menimpa mereka, bisa melapor kepada gurunya,” harap Hamim. (CW01)

Rekomendasi Berita