oleh

KPAD Mura Bakal Gandeng BNN

Ketua KPAD Mura, Ngimadudin
“Tanggung jawab menyelamatkan anak bangsa dari Narkoba itu bukan BNN saja. Kita semua punya tanggung jawab itu. ….”

LINGGAU POS ONLINE, MUSI RAWAS – Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Musi Rawas (Mura) kian prihatin dengan maraknya narkoba masuk desa. Ketua KPAD Mura, Ngimadudin mengatakan, kepedulian untuk menyelamatkan generasi muda dari narkoba bukan hanya tanggung jawab Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Ya, tanggung jawab menyelamatkan anak bangsa dari Narkoba itu bukan BNN saja. Kita semua punya tanggung jawab itu. Maka dalam waktu dekat KPAD akan kerja sama dengan BNN Mura, untuk mendata berapa sebenarnya anak-anak di Mura yang terpapar narkoba,” terang Ngimadudin.

Upaya penggalian data itu, kata dia, bukan untuk membuka aib. Namun untuk menggali penyebab, dan mencarikan solusi agar anak-anak ini tak lagi kecanduan dengan narkoba.

Narkoba itu, terang Ngimadudin, terbagi dalam empat kelompok. Ada narkotika jenis opiat atau candu, halusinogenik misalnya ganja, stimulan misalnya ekstasi dan sabu-sabu dan depresan misalnya obat penenang. Masing-masing kelompok mempunyai pengaruh tersendiri terhadap tubuh dan jiwa penggunanya.

Untuk Opiat, yang menghasilkan heroin  menimbulkan perasaan seperti melayang dan perasaan enak atau senang luar biasa. Tetapi ketergantungannya sangat tinggi dan dapat menyebabkan kematian.

Yang kedua adalah ganja, zat atau bahan ini dapat mengakibatkan timbulnya halusinasi sehingga pengguna tampak senang berkhayal. Tetapi sekitar 40-60 persen pengguna justru melaporkan berbagai efek samping yang tidak menyenangkan, misalnya muntah, sakit kepala, koordinasi yang lambat, otot terasa lemah, bingung, cemas, ingin bunuh diri, dan beberapa akibat lainnya.

Bahan yang tergolong stimulan menimbulkan pengaruh yang bersifat merangsang sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan rangsangan secara fisik dan psikis, yang tergolong stimulan ini dapat  menyebabkan pengguna merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, ingin bergerak terus, sampai tidak ingin tidur dan makan. Akibatnya dapat sampai menimbulkan kematian.

Sebaliknya bahan yang tergolong depresan menimbulkan pengaruh yang bersifat menenangkan. Depresan atau yang biasa disebut obat penenang, dibuat secara ilmiah di laboratorium. Berdasarkan indikasi yang benar, obat ini banyak digunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Dengan obat ini, orang yang merasa gelisah atau cemas misalnya, dapat menjadi tenang. Tetapi bila obat penenang digunakan tidak sesuai dengan indikasi dan petunjuk dokter, apalagi digunakan dalam dosis yang berlebihan, justru dapat menimbulkan akibat buruk lainnya.

Selain narkoba, kasus pelecehan seksual pun jadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi KPAD Mura.

“Salah satu penyebab maraknya pelecehan seksual inikan efek dari penggunaan smartphone tanpa batas. Jadi manajemen penggunaan gadget itu belum dilakukan,” terang Ngimadudin.

Menurutnya, orang tua pun belum ada ketegasan untuk membatasi. Dan pada akhirnya, tidak semua anak bisa memanfaatkan gadget secara positif. Sebagian justru dipakai untuk mengakses konten pornografi.

“Pornografi ini jangan disepelekan. Dampaknya sama bahaya dengan narkoba. Jadi memang penting bagi orang tua untuk bisa lebih intensif komunikasinya dengan anak. Sehingga orang tua tidak kecolongan, dengan pergaulan anak di luar,” jelasnya. (02)

Rekomendasi Berita