oleh

Korban Hipnotis Melapor ke BPSK

LINGGAU POS ONLINE, PASAR PERMIRI – Seorang tukang ojek, Cek Mat mendatangi Kantor Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Lubuklinggau, di Jalan Gelatik Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Rabu (15/8). Warga Jalan Keramat Abadi, Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, datang ke BPSK untuk mengadukan oknum pegawai salah satu bank di Kota Lubuklinggau.

Cek Mat mengadu ke BPSK adanya indikasi pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh oknum karyawan bank. Karena, karyawan bank yang diadukan itu diduga telah menyerahkan buku tabungan dan kartu ATM atas namanya kepada orang lain.

Ketua BPSK Kota Lubuklinggau, Nurussulhi mengatakan kejadian yang membuat Cek Mat mengadukan perbuatan oknum bank bermula pukul 11.30 WIB, Selasa, 14 Agustus 2018, di pangkalan ojek Simpang Jalan Cereme Kelurahan Ceremeh Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II.

Saat pelapor menunggu penumpang, ia dihampiri Md. Lalu Cek Mat dibujuk untuk membuka rekening tabungan di salah satu bank, dan diberikan uang Rp 100 ribu. Sekitar pukul 11.30 WIB, Cek Mat bersama Md pergi ke bank, dan membuka rekening tabungan. Setelah Cek Mat menandatangani semua dokumen persyaratan pembukaan rekening termasuk nomor PIN ATM diawali 123456. Seingat Cek Mat dari sinilah muncul keanehan terhadap dirinya, karena saat konfirmasi nomor PIN ATM baru, bukan dilakukan Cek Mad melainkan dilakukan Md.

Karena proses pembuatan rekening belum selesai, dan sudah masuk jam istirahat, pihak bank menyuruh Cek Mat menunggu. Karena capek, Cek Mat memutuskan pulang ke rumah dan sampai di rumah ia tertidur. Pukul 18.00 WIB, korban terbangun, dan saat itulah ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan semua kejadian yang dialaminya. Dan Cek Mat merasa apa yang dilakukannya pada siang hari di bawah alam sadar atau dihipnotis.

Selanjutnya, Cek Mat menceritakan kejadian tersebut kepada keluarga. Dari cerita korban itu, maka Keluarga Cek Mat berkesimpulan ia dihipnotis. Rabu (15/8) pagi, korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Lubuklinggau. Namun Laporan Polisi (LP) pelapor belum dapat diterima pihak Polres Lubuklinggau, karena tidak ada alat bukti, berupa buku tabungan dan kartu ATM yang pelapor buat.

Kemudian Cek Mad ditemani keluarganya mendatangi pihak bank. Namun alangkah terkejutnya Cek Mat, setelah mendapat penjelasan pihak bank, karena buku tabungan dan kartu ATM atas nama dirinya sudah diserahkan pihak bank kepada Md. Lalu meminta kepada pihak bank untuk memblokir rekening, berikut buku tabungan dan kartu ATM atas nama Cek Mat tersebut.

Karena tidak terima dengan perlakukan pihak bank tadi, Cek Mat melaporkan hal itu ke BPSK Kota Lubuklinggau. Tujuannya, minta BPSK Lubuklinggau memberikan peringatan atau teguran kepada pihak bank, sehingga dapat melaksanakan SOP dalam melayani nasabahnya, serta tidak memberikan ruang bagi pelaku kejahatan.

Dikemukakan Nurussulhi, pihaknya akan mengundang pelapor dan terlapor dalam sidang BPSK, yang dijadwalkan 27 Agustus 2018.

“Untuk langkah awal kami tawarkan bentuk penyelesaian dengan cara mediasi atau konsiliasi, juga dengan cara arbitrase,” kata Ketua BPSK Lubuklinggau.

Dijelaskannya, mediasi adalah bentuk upaya penyelesaian dengan cara bermusyawarah antara pelapor dan terlapor yang melibatkan pihak ketiga, seperti BPSK untuk mencapai penyelesaian yang diterima kedua belah pihak. Sedangkan Konsiliasi, merupakan bentuk upaya penyelesaian tanpa melibatkan pihak ketiga atau BPSK. Kemudian penyelesaian arbitrase, sepenuhnya menyerahkan masalah ini kepada pihak BPSK.

Nurussulhi mengimbau masyarakat Kota Lubuklinggau untuk meningkatkan kewaspadaan, karena pelaku kejahatan mempergunakan segala cara mencari calon korban. (CW01)

Rekomendasi Berita