oleh

Kontes Waria Pintu Maksiat

LUBUKLINGGAU – Undangan Penyelenggaraan Kontes Waria sempat menghebohkan warga net, Rabu (23/1). Acara itu bakal diadakan Kamis (24/1) pukul 21.00 WIB bersamaan dengan syukuran di kediaman Selvi (28) di Kelurahan Mesat Seni, Kecamatan Lubuklinggau Timur II.

Menyikapi hal ini, Rabu (23/1) Lurah Mesat Seni Desty Permata Sari, langsung menggelar Rapat Empat Pilar, dihadiri Camat Lubuklinggau Timur II  Tegi Bayuni, Babinsa Martan, Babin Kamtimnas T Aritonang, anggota Polres Ipda Jalaludin, seluruh RT di Kelurahan Mesat Seni, tokoh masyarakat, ketua adat serta tuan rumah yang akan mengadakan acara.

Rapat itu membahas masalah pemilihan Miss Waria. Hasil dari rapat tersebut bahwa Selvi (28) dan keluarganya membuat surat pernyataan pembatalan pemilihan Miss Waria.

Selvi berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi. Selvi dan keluarganya dibina dan diberi pengarahan oleh tamu yang hadir.

Hal ini juga dibenarkan Ketua RT 02 Kelurahan Mesat Seni, Muhammad Yani.

“Iya warga kami Selvi sudah mengakui hal itu. Dia minta maaf. Sebab sebenarnya pemilihan Miss Waria. Itu merupakan rencana dari adiknya yang kedua bernama Meri (23). Jadi Meri yang memberikan ide ingin melakukan pemilihan Miss Waria tersebut. Hanya saja, kegiatan yang akan diadakan tidak ada koordinasi dan tanpa izin terlebih dahulu dengan pihak RT maupun kelurahan setempat ,” tutur Muhammad Yani.

Selaku Ketua RT ia sempat diundang secara lisan oleh Selvi untuk menghadiri syukuran tersebut. Tetapi saat mengundang itu, kata Muhammad Yani, Selvi tak bercerita soal bakal diadakannya pemilihan Miss Waria.

“Saya tahu setelah ditelepon Lurah Mesat Seni tadi malam bahwa besok akan ada rapat dadakan masalah pemilihan Miss Waria tersebut,” jelasnya.

Dari hasil rapat kemarin, akhirnya acara pemilihan Miss Waria dibatalkan.

Bahkan acara serupa juga akan diadakan oleh Widiya dan Yopi, warga Kelurahan Mesat Jaya saat mengkhitankan kedua putranya, Kamis (10/2) pukul 21.00 WIB mendatang.

Menanggapi hal ini, kembali dilakukan rapat tadi malam pukul 21.00 WIB. Dihadiri Lurah Mesat Jaya Imam Subagya, Camat Lubuklinggau Timur II Tegi Bayuni, Babinsa, Babin Kamtimnas, seluruh RT di Kelurahan Mesat Jaya, tokoh masyarakat, dan Ketua Adat  serta keluarga bersangkutan.

Dari pendekatan persuasif itu, Widiya membuat surat pernyataan pembatalan pemilihan Miss Waria. Ia juga menyatakan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Menanggapi bakal diadakannya pemilihan Miss Waria juga menuai keprihatinan dari Pimpinan Pesantren Modern Ar Risalah, H Moh Atiq Fahmi. Ketua Forum Pesantren Provinsi Sumsel itu menegaskan bahwa Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) adalah dosa.

“Jadi kalau mau mengadakan kegiatan itu, ya gunakan akal sehat. Saya menilai saat ini sudah terjadi pergeseran pemahaman masyarakat tentang hiburan. Jadi saya tegaskan LGBT itu bukan hiburan. Bukan juga prestasi. Perlu saya tekankan lagi, waria bukan kreativitas positif. Dan bukan aktivitas yang harus dibanggakan,” jelas dia.

Ust. Fahmi menegaskan LGBT itu penyakit dan penyimpangan.

“Yang namanya penyakit harus diobati. Kalau sampai ada warga yang buat kontes kaitannya dengan LGBT, artinya itu memberikan penghargaan untuk LGBT. Bukan hiburan,” tegasnya.

Nabi Muhammad SAW menegaskan, Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

“Dan sudah cukup Alquran menjelaskan tentang azab Kaum Luth. Saya berharap hal ini (kontes LGBT,red) tidak terjadi lagi,” harapnya.

Oleh karena itu, ia minta semua ormas, jangan diam saja. Semua harus bersuara untuk memerangi penyakit ini.

“Dan kita semua sudah tahu dari jalur waria ada pintu maksiat. Dan penting saya sampaikan, di dunia ini binatang yang suka semua jenis hanya satu, yakni babi,” imbuhnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Lubuklinggau, Ismurizal langsung mengadakan rapat kecil dengan anggota FKUB lainnya terkait viralnya berita kontes waria.

Dalam pertemuan tersebut, ternyata setiap agama di Indonesia tidak ada yang memperbolehkan atau menyetujui adanya transgender atau waria karena hal tersebut menentang kodrat dari Tuhan.

“Setiap agama di Indonesia tidak ada yang membenarkan adanya LGBT, apalagi ini diadakan kontes. Kami FKUB Kota Lubuklinggau sangat menantang dan meminta pihak terkait untuk mengambil tindakan tegas,” kata Ismurizal.

Ditambahkan Ismurizal, tindakan tegas tersebut wajib diambil agar kedepan tidak ada lagi oknum-oknum yang berani mengadakan hal serupa.

“Ini untuk memberikan efek jera, kalau didiamkan dikhawatirkan yang berani coba-coba,” ungkapnya.(adi/lik/nia)

Berita Terkait : Camat Harus Paham Wilayah , Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono

Rekomendasi Berita