oleh

Konsern Cegah Anak Nikah Usia Dini

LINGGAU POS ONLINE, LUBUK KUPANG – Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, usia kurang dari 18 tahun masih tergolong anak-anak. Untuk itu, BKKBN memberikan batasan usia pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria.
Hal ini disampaikan Penyuluh BKKBN Kota Lubuklinggau, Apilion Joniko kepada Linggau Pos, Jumat (24/8).

Berdasarkan ilmu kesehatan, lanjutnya, umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 20-25 tahun bagi wanita, kemudian umur 25-30 tahun bagi pria. Usia tersebut dianggap masa yang paling baik untuk berumah tangga, karena sudah matang dan bisa berpikir dewasa secara rata-rata.

“Rekomendasi ini ditujukan demi untuk kebaikan masyarakat, agar pasangan yang baru menikah memiliki kesiapan matang dalam mengarungi rumah tangga. Sehingga dalam keluarga juga tercipta hubungan yang berkualitas,” jelas bapak yang juga jadi pengasuh Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR) Kota Lubuklinggau tersebut.

Ia menuturkan dalam berumah tangga sekaligus menjaga keharmonisannya bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena memerlukan kedewasaan berpikir dan bertindak setiap adanya guncangan yang muncul, baik guncangan akibat ekonomi, masalah internal maupun eksternal.

Oleh karena itu, kata dia, setiap pasangan yang menikah juga harus mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah aspek biologis dengan memerhatikan kematangan umur dan kondisi fisiknya.

Ia menjelaskan, perbincangan mengenai pernikahan dini dari segi normatif sudah berlangsung lama, namun seiring dengan perkembangan zaman sekarang, maka perbincangannya ada nuansa baru dalam mengkaji dampak negatif pernikahan dini, misalnya dengan pendekatan psikologis.

Sebagai penyambung pesan BKKBN kepada generasi muda di Kota Lubuklinggau, maka Appilion Joniko konsern mengedukasi remaja terutama pelajar agar memiliki pemahaman tentang keluarga berencana, kependudukan, pembangunan keluarga, demografi, narkoba dan HIV/AIDS.

Berangkat dari tanggung jawabnya tersebut, dia mengungkapkan keinginannya agar tingkat pernikahan dini berkurang.

Bapak yang karib dipanggil Niko itu menuturkan pernikahan dini umumnya disebabkan oleh faktor ekonomi dan pendidikan. Karena itu perlu diberikan pemahaman agar anak-anak muda mengerti risiko yang dihadapi jika pernikahan dini terus terjadi.

“Perlu diketahui jika pernikahan dini merupakan penyumbang angka kematian yang tinggi karena keadaan sel-sel rahim yang belum matang, anak perempuan yang melahirkan di usia dini pun memiliki tingkat risiko komplikasi yang tinggi, seperti fistula obsteri, infeksi, keguguran, pendarahan hebat. Begitu pula Bayi yang dilahirkan memiliki risiko kematian lebih tinggi,” jelasnya.

Selain tidak baik bagi kesehatan, dia pernikahan dini  rentan memunculkan masalah-masalah sosial yang baru, ini karena belum siapnya psikologis sehingga bisa berujung pada terjadinya konflik hingga perceraian. Karena itu perlu kesiapan, tidak hanya materi tapi juga mental.

“Jadilah generasi yang cerdas, dengan menghindari nikah usia dini. Menikahlah dalam usia yang telah matang,” imbuhnya lagi.(02)

Rekomendasi Berita