oleh

Kisah Riris Marpaung, Kenalkan Game Komersil Indonesia Hingga ke Korea Selatan

Dunia Games Itu Keras, Biar Aku Saja

Dunia game developer terbilang masih didominasi oleh pria. Meski demikian, kemampuan kaum hawa juga teruji dalam dunia maskulin tersebut. Seperti pengalaman Yunita Riris Widawati Marpaung. Bersama timnya dari Gambreng Studio.

KHANIF LUTFI-Tangerang

Dunia game sudah mendarah daging bagi Yunita Ririsa Widawati Marpaung. Riris begitulah ia akrab disapa. Lahir dan besar di Kawasan Ciledug, Kota Tangerang 46 tahun silam, wanita berdarah Tapanuli ini tidak memiliki dasar dalam ilmu developer game, ia hanya seorang pustakawan yang setiap hari menggeluti dunia literasi.

Wanita yang bergelar master Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi ini merupakan penyabet gelar Pustakawan Berprestasi Terbaik Nasional Tahun 2014. Passion membangun game berawal dari ajakan seorang rekannya Dodick Sudirman, seorang programmer yang juga dosen untuk mengarungi dunia industri yang jarang diminati kaum wanita Indonesia itu. “Cuma saya wanita di perusahaan dan paling cantik,” canda Riris saat ditemui wartawan di studionya di Kawasan Kelapadua, Tangerang, Kamis (10/1).

Bersama Dodick, Riris lalu mengajak beberapa mahasiswa yang memiliki hobi yang sama membangun sebuah studio bernama Gambreng Games tahun 2013 silam. Menjadi seorang game developer (gamdev) tidak membuat Riris, Dodick langsung bergelimang uang. Di usia setahun rilisnya studio tersebut, penghasilan game mereka rata-rata hanya US 1 Dollar atau Rp13 ribu.

“Awalnya kami berfikir bahwa pasar mobile saat itu sangat menjanjikan. Sementara kalau game PC kami belum punya pengalaman dan spesifikasi alat yang baik,ujar Riris. Meski dengan profit yang sedikit, alhasil game pertama mereka yaitu Prototype berhasil meraih predikat Best Game for Smartphone di ajang Indonesia Game Show 2013.

Dari studio mini di bawah rumah milik orang tua Dodick, tim Gambreng telah membaut beberapa produk seperti Junes Potion yang bergenre stealth, game free-to-play kasual berjudul LARON, dan lain-lain.

Kondisi ekonomi yang menipis dan ketiadaan sumber pemasukan lain,memaksa Dodick dan Riris mencari solusi yang lebih brilian. Mereka pun memilih menjual prodfuknya lewat pasar game terpopuler dunia yakni Steam.”Dengan modal yang serba terbatas, kami membuat game adventure PC yang bisa dijual di Steam, sehingga muncullah Ascender itu, ungkap Riris.

Namun membuat game PC besar seperti Ascender memang butuh modal yang tak sedikit. Mereka harus menambah sejumlah kru dan pembuatan waktu yang lama. Akibatnya, Ascander harus dirilis setahun lebih lambat dari deadline semula.

Dari modal penjualan tersebut, akhirnya Gambreng Games melakukan ekspansi pasar ke bidang lain. Mereka mencetuskan dua brand baru, yaitu Gundu Productions dan GameChanger Studio. Kedua brand ini punya pangsa pasar yang berbeda satu sama lain. Jika Gundu Productions lebih banyak membuat game pendidikan (edugame) dan outsourcing. Sementara GameChanger Studio lebih komersil pada game PC yang mereka jual di pasar Steam.

Dunia game memang keras penuh persaingan. Penjualan Ascander pun tak sebaik dengan pengorbanan yang ada. Hingga akhirnya pada tahun 2017, salah satu pionir game developer Toge Productions yang sama-sama berada di Tangerang memberikan pendanaan. Tak butuh waktu lama, Riris bersama tim GameChanger Studio membangun game simulasi berjudul My Lovely Daughter.

Game yang bercerita obesesi ayah yang ingin menghidupkan anaknya kembali ini dipamerkan dalam ajang Casual Connect Asia 2017 di Busan, Korea Selatan.

Ya, Riris yang hanya pustakawan tetap memiliki mimpi yang besar mengembangkan game developer di Indonesia. Meski demikian, ia pun harus realistis serta sustainability membangun mimpinya tersebut.

“Mimpi saya dan kawan-kawan di GameChanger Studio bisa terus menghasilkan karya berkualitas dan ikut menyuburkan industri game di negeri kita tercinta,” tandasnya. (*/fin/tgr)

Rekomendasi Berita