oleh

Kisah Kampung Rumpaksinang yang Terhimpit Belantara Beton

Tetap Bertahan, Meski Tanah Dibayar Selangit

Sebuah kampung bernama Rumpaksinang berdiri di tengah kepungan hutan beton Kawasan Elit Gadingserpong, Kecamatan Kelapadua, Kabupaten Tangerang, Banten. Kampung yang dihuni lebih dari 3.000 warganya berjuang mempertahankan identitas dan tanahnya.

KHANIF LUTFI- Gadingserpong

Matahari sangat terik meski jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Lalu lalang kendaraan masih memadati kawasan Gadingserpong, Kelurahan Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapadua, Kabupaten Tangerang, Banten. Sudah lebih satu dekade, kawasan itu menjelma menjadi sebuah kawasan kota mandiri lengkap dengan fasilitas canggih.

Gadingserpong merupakan kawasan yang dibangun Paramount Land dan Summaercon Serpong, sebuah konsorsium properti. Tak jauh dari lokasi ini, ada pula Kota Mandiri bernama BSD City kawasan perumahan besutan Sinarmas Land. Isinya pun dikemas lebih modern. Full hunian mewah, pusat komersial, fasilitas pendidikan dan tentunya gaya hidup.

Meski demikian, tidak semua warga di sini larut dalam kemewahan. Sebuah kampung bernama Rumpaksinang masih tetap eksis menjaga identitasnya di tengah roda pembangunan properti yang terus menggila.Dekade 90-an kawasan ini hanya sebuah kebun rambutan dan persawahan. Hampir semua penduduknya bermata pencaharian petani.

Hingar bingar Jakarta tak pernah mampir ke daerah ini, meski jaraknya hanya 20 Kilometer. Seiring berjalannya waktu, areal persawahan itu pun berubah menjadi perumahan. Kampung Rumpaksinang pun berada di tengah rimba beton.

Di kawasan ini pendidikan tetap menjadi nomor satu. Sebuah pesantren, madrasah ibtidaiyah dan dua buah sekolah dasar berdiri di tengah kampung tersebut. Siswanya rata-rata warga sana. Sementara SMP dan SMA, jaraknya terbilang dekat di pusat Kecamatan Kelapadua. Saat berada di salah satu sekolah, wartawan mendapati para siswanya tengah diajari mengenal komputer.

Sang pengajarnya sendiri merupakan mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara yang jaraknya tak jauh dari kampung tersebut. “Kami sedang ada program pengabdian masyarakat, jadi siswa-siswi di sini kita ajari memahami dunia komputer,” terang Jeni, salah seorang pengajar di sana.

Sebuah proyektor memantulkan program belajar komputer, meski demikian keriuhan para siswa masih tetap seru. Tak semua siswa belajar, ada sebagian pula yang sibuk dengan game di smartphone-nya. Mereka masih menganggap dunia telepon pintar lebih menyenangkan ketimbang komputer. “Ya mesti sabar mas,” kata Jeni.

Kampung Rumpaksinang bak sebuah ikon unik di Kawasan Gadingserpong. Sebuah pagar setinggi lima meter menjadi garis batas yang dibangun pengembang antara lahannya dengan warga kampung. Batas ini pun menjadi pembeda kehidupan warga desa yang sederhana dengan apartemen yang menyuguhkan kemewahan. Meski demikian, warga Rumpaksinang terbilang acuh terhadap kemajuan dan ingar bingar kemewahan warga jetset dibalik pagar tersebut.

Bagi Yusuf, tokoh masyarakat sekitar, nama Kampung Rumpaksinang, mengandung banyak arti. Ada yang menyebut Rukun Kompak Pasti Menang. Ada juga yang bilang kampung tersebut terkenal dengan ciri khas makanan tradisional yakni opak dan rengginang.

Meski demikian, warga di sini masih memegang pesan leluhur peninggalan ulama kampung tersebut, Abuya Musa dan Abuya Sueb. “Pesan tersebut agar warga tetap rukun dan terus membangun kampungnya,” ujar Yusuf. Ya, kedua pengajar ini merupakan tokoh pendiri kampung tersebut. Pesan itulah yang terus dipegang teguh warga kampung.

Rata-rata bangunan penduduk telah permanen. Jalan-jalan kampung tersebut hanya cukup untuk dua kendaraan motor dengan bahan dari paving block. Mobil pun tak bisa berbagi jalan. Layaknya kampung di tengah pusat perumahan, banyak rumah yang diubah menjadi kos-kosan maupun warung makan. Penghuninya kos-kosan rata-rata pekerja di kawasan bisnis Gadingserpong. Lokasinya strategis hanya berjarak kurang lebih 800 meter dari pusat perbelanjaan terbesar Summarecon Mall Serpong.

Salah satu keturunan Abuya Sueb, Ade Haiz mengatakan, warga di sini masih tetap menyelenggarakan takbiran dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ajaran Abuya Musa dan Abuya Sueb masih menjadi pondasi identitas warga agar jiwa keimanan tetap terjaga . Kita di sini tetap bertahan menjaga tanah kelahiran kami. Berbagai godaan memang banyak dialami warga, agar melepas tanah ke pengembang perumahan di Gadingserpong, namun tetap kami tolak, ucapnya.

Modal kekompakan membuat warga tak bergeming meski lahannya dihargai Rp10 juta permeter. Bagi warga, andai tanah mereka dijual, otomatis mereka harus pergi meninggalkan keluarga dan kenangan masa kecilnya. Pesan agar kompak tak menjual lahannya terus melekat dan diresapi dalam hati. “Kalau kami jual lahan ini lagi, kami mau tinggal dimana?” tanya Ade. Sebuah pertanyaan yang menusuk batin. Meninggalkan kampung ini serasa menggoyahkan perasaan betapa pentingnya keluarga di atas keluarganya. Menjaga identitas dan harapan. (*/fin/tgr)

Rekomendasi Berita